Pendidikan

Sunday Blues: Ketika Akhir Pekan Membuat Pekerja Cemas

0
×

Sunday Blues: Ketika Akhir Pekan Membuat Pekerja Cemas

Sebarkan artikel ini
Mengenal Fenomena Sunday Blues, ketika Akhir Pekan Bikin Pekerja Cemas Lifestyle 7 Juni 2026
Ilustrasi: Mengenal Fenomena Sunday Blues, ketika Akhir Pekan Bikin Pekerja Cemas

jurnalistik.co.id – Saat hari Minggu tiba, sebagian pekerja mendapati suasana hati ikut turun. Kondisi mental yang sering disebut sunday scaries atau sunday blues ini muncul ketika akhir pekan terasa segera berakhir dan minggu baru menanti. Psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD, menjelaskan bahwa kondisi mental semacam ini bisa melibatkan kecemasan, disertai rasa takut dan mudah marah. Menurutnya, reaksi tersebut muncul seiring bayangan tentang minggu yang akan datang yang terus hadir di pikiran mereka. Dalam sudut pandang yang lebih spesifik, Peggy Loo, PhD, psikolog berlisensi, menekankan adanya perbedaan tipis antara kecemasan dan kesedihan menjelang awal pekan. “Kecemasan hari Minggu cenderung berpusat pada masa depan dan antisipatif, sedangkan kesedihan hari Minggu memandang akhir pekan seolah-olah sudah berlalu. Keduanya bersifat ruminatif, dan membuat kamu tidak fokus pada masa sekarang,” ujarnya. Fenomena ini, kata Manly, dapat dialami siapa saja. Namun bagi individu yang memiliki gangguan klinis, Manly mencatat bahwa kecemasan pada hari Minggu mungkin terasa lebih intens atau muncul lebih sering, karena dampak berkelanjutan dari kondisi kesehatan mental tersebut. Laura Erickson-Schroth, MD, psikiater sekaligus Kepala Petugas Medis Yayasan Jed, menambahkan bahwa perasaan itu bisa muncul bahkan sebelum aktivitas apa pun dimulai. “Bagi mereka yang memiliki kecemasan sosial, hari sebelum kembali ke interaksi sosial dapat memicu kecemasan,” ucap dia. Amira Johnson, LMSW, menyebut frekuensi pengalaman ini berbeda-beda pada setiap orang. Pada sebagian individu, rasa cemas hanya muncul sesekali, sementara pada lainnya hal itu menjadi kekhawatiran mental yang berulang setiap minggu. Mengapa perasaan cemas tersebut bisa muncul? Manly menilai respons ketakutan umumnya dipicu oleh keharusan untuk kembali beraktivitas. Banyak orang, menurutnya, berangkat dari dorongan alami agar tetap menikmati ritme akhir pekan yang santai. Erickson-Schroth juga menjelaskan bahwa transisi dari waktu pribadi ke pekerjaan atau sekolah menuntut perubahan peran yang tidak selalu mudah. “Hal ini membutuhkan pengambilan peran yang berbeda, dan terkadang, memasuki ‘ruang pikiran’ terpisah untuk beralih dari waktu pribadi ke waktu kerja atau sekolah,” sambungnya. Selain proses transisi, skenario terburuk yang dimainkan di kepala dapat memperparah keadaan. Loo menjelaskan bahwa seseorang cenderung lebih mengalami kecemasan hari Minggu jika mereka membayangkan pekan yang akan datang sangat menegangkan dan mengerikan. Sebaliknya, pemikiran yang lebih positif dapat mengubah cara otak merespons periode perpindahan tersebut. Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah kalimat, “Saya punya banyak hal yang harus dilakukan minggu ini, tapi saya akan baik-baik saja.” Pada akhirnya, sunday blues bukan sekadar rasa tidak nyaman yang lewat begitu saja. Ia berhubungan dengan bagaimana pikiran mengantisipasi masa depan, mengolah ulang akhir pekan yang terasa telah selesai, serta merespons kebutuhan untuk kembali pada tuntutan rutin. Bagi mereka yang mengenali pola itu pada diri sendiri, penjelasan para ahli membantu melihat bahwa reaksi yang muncul memiliki mekanisme psikologisnya sendiri. Dari sudut pandang tersebut, kecemasan dan kesedihan menjelang awal pekan dapat dipahami sebagai bentuk ruminasi yang membuat sulit hadir sepenuhnya di saat ini, sesuai yang diungkap Loo.

Para ahli juga menggambarkan bahwa kerapuhan fokus sering muncul karena pikiran terus berputar, baik saat membayangkan hari-hari berikutnya maupun saat menilai akhir pekan yang sudah selesai. Alih-alih beristirahat, otak cenderung memindai hal-hal yang akan datang dan membuat seseorang sulit hadir sepenuhnya pada momen saat ini.

Dalam beberapa kasus, rasa cemas tidak menunggu aktivitas dimulai. Perasaan itu bisa terasa sejak hari-hari menjelang kembali pada rutinitas, termasuk saat seseorang harus menyiapkan diri untuk kembali pada interaksi sosial atau aktivitas lain yang menuntut penyesuaian peran. Karena itu, perubahan dari waktu pribadi ke waktu kerja atau sekolah dapat terasa seperti perpindahan “mode” yang melelahkan secara mental.

Saat gambaran yang muncul didominasi skenario terburuk, kecemasan cenderung semakin menguat, terutama jika minggu yang akan datang dipersepsikan sebagai sesuatu yang menekan dan sulit. Namun, sudut pandang yang lebih menenangkan—misalnya meyakinkan diri bahwa kendala minggu ini tidak akan mengalahkan kamu—dapat membantu mengubah cara otak merespons masa transisi, sehingga reaksi yang muncul terasa lebih terarah.