Hukum & Kriminal

Macet, Cuaca Terik, dan Tekanan Finansial: Psikolog Sebut Risiko Amuk di Jalan

×

Macet, Cuaca Terik, dan Tekanan Finansial: Psikolog Sebut Risiko Amuk di Jalan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Psikolog: Macet, Cuaca Panas, dan Tekanan Ekonomi Bisa Picu Amuk di Jalan

jurnalistik.co.id – Psikolog Novita Tandry menilai kemacetan, cuaca panas, serta tekanan ekonomi dapat ikut memengaruhi cara seseorang mengelola emosi hingga berujung pada tindakan agresif di jalan.

Pandangan itu disampaikan Novita saat menanggapi dua kasus yang sempat viral di Jakarta: penganiayaan terhadap seorang pemotor di Jagakarsa, Jakarta Selatan, serta aksi pengemudi taksi online yang merusak mobil pengendara lain di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Menurut Novita, situasi yang menumpuk sepanjang hari tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga dapat membentuk kondisi psikologis yang membuat seseorang lebih mudah kehilangan kontrol.

“Kalau memang alasannya stres dan hanya mencari pelampiasan, menurut saya penyebabnya bisa karena kelelahan mental,” kata Novita kepada Kompas.com, melalui telepon, Jumat (10/7/2026).

Novita mengatakan, masyarakat saat ini hidup di tengah beragam tekanan yang datang bersamaan. Ia menyebut cuaca yang semakin panas, sulitnya memperoleh pekerjaan, tuntutan pekerjaan dengan tenggat waktu ketat, hingga persoalan keluarga sebagai sebagian dari tekanan yang terus menyertai aktivitas sehari-hari.

Selain itu, ia menilai paparan terhadap pemberitaan berbagai kasus besar turut menambah beban psikologis. Ia mencontohkan bagaimana informasi mengenai angka-angka besar, seperti korupsi bernilai fantastis, bisa ikut membentuk persepsi tentang kondisi sosial yang sedang tidak seimbang.

“Bayangkan, setiap hari kita membaca berita tentang uang ratusan miliar, emas puluhan kilogram. Sementara kita bekerja dengan cara yang halal, melihat orang-orang di jalan harus berpanas-panasan mencari nafkah. Itu bisa memicu kelelahan mental,” ujar Novita.

Dalam penilaiannya, tekanan yang berulang dan tidak mendapat ruang pemulihan dapat berkembang menjadi kelelahan mental yang bersifat kronis. Kondisi tersebut, kata dia, membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi ketika menghadapi pemicu yang lebih kecil sekalipun, seperti kemacetan dan situasi panas.

“Orang merasa sudah tidak punya kemampuan mengubah keadaan. Panas, sangat membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, lalu merasa kemacetan merampas waktunya. Akhirnya muncul rasa tidak berdaya,” kata Novita.

Meskipun demikian, Novita menegaskan bahwa faktor-faktor tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran atas kekerasan di jalan. Ia memisahkan pengaruh tekanan psikologis dari alasan yang membenarkan pelanggaran, terutama ketika tindakan yang muncul sudah masuk ke ranah agresi fisik.

Ia mencontohkan kasus pemotor yang diduga menganiaya pengendara lain di Jagakarsa. Berdasarkan video yang beredar, Novita melihat bahwa tindakan pelaku tidak semata-mata berangkat dari stres, melainkan ada kehendak untuk melampiaskan kemarahan.

“Kalau yang pertama, saya melihat dari video yang beredar, itu bukan semata-mata karena stres. Dia memang ingin melampiaskan kemarahannya,” ujar dia.

Pada kasus lain di Sunter, Novita menyampaikan bahwa ia juga melihat kemungkinan motif yang berbeda. Ia menyebut adanya indikasi unsur kriminal, sehingga menjelaskan bahwa emosi saja mungkin bukan satu-satunya penjelasan yang memadai.

“Kalau yang kedua, menurut saya ada unsur kriminal juga. Ada dugaan ingin memalak,” ucapnya.

Novita juga menekankan pentingnya mekanisme untuk menyalurkan emosi secara sehat. Menurutnya, seseorang yang tidak memiliki cara mengelola perasaan cenderung melampiaskan kemarahannya secara negatif, terutama saat berada dalam kondisi tertekan dan terpapar situasi yang memicu.

Dengan melihat dua kasus yang berbeda, ia memandang bahwa faktor pemicu seperti kemacetan dan cuaca panas bisa berperan dalam membentuk suasana batin seseorang, tetapi tetap perlu diuji melalui konteks tindakan yang terjadi. Dari situlah, kata Novita, diperlukan kehati-hatian agar penjelasan tidak berhenti pada label “stres” semata.

Pada akhirnya, kata Novita, pengelolaan emosi menjadi kunci agar tekanan sehari-hari tidak berubah menjadi dorongan untuk menyakiti orang lain. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya memahami sebab di balik ledakan emosi, tetapi juga memperkuat cara merespons konflik di jalan dengan lebih bertanggung jawab.