jurnalistik.co.id – Di era layanan streaming musik dan media sosial yang menawarkan akses instan ke jutaan lagu, tradisi mengirim salam serta me-request lagu melalui radio justru tetap bertahan. Kebiasaan ini membawa rindu, cerita, dan kejutan kecil yang terasa personal bagi pendengar.
Tanggal 13 Februari diperingati sebagai Hari Radio Sedunia. Meski teknologi berkembang, cara menyampaikan pesan mengikuti perubahan, sementara intinya tetap sama: menyapa orang terdekat, mengucapkan terima kasih, atau menyalurkan doa lewat udara.
Rahmi (27), karyawan agency di Jakarta Selatan, termasuk pendengar yang masih rutin mengikuti program request lagu dan salam di radio. Ia mengatakan layanan kirim salam menjadi salah satu alasan radio tetap memiliki tempat di tengah aplikasi musik digital yang serba mudah.
Menurut Rahmi, bila kini lagu terasa “gampang” karena tinggal membuka aplikasi, radio menawarkan pengalaman yang berbeda. “Kalau lagu sekarang gampang, tinggal buka aplikasi musik. Tapi kalau radio ada rasa personalnya. Kita bisa kirim salam, lalu penyiar membacakan nama kita. Rasanya berbeda,” ujar Rahmi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
Kebiasaan itu, menurutnya, berangkat dari momen perjalanan panjang menuju kantor setiap pagi. Ia menilai radio memberi ruang untuk menghadirkan pesan yang tidak hanya berisi lagu, tetapi juga hubungan yang ingin dijaga.
Kurang lebih dua bulan sebelum percakapan tersebut, Rahmi pernah mengirimkan request lagu Yovie & Nuno untuk sahabatnya yang berulang tahun. Dalam pesan itu, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman yang telah menemaninya sejak masa kuliah hingga sama-sama bekerja di Jakarta.
Pesan Rahmi kemudian dibacakan penyiar dalam program pagi. Setelah nama sahabatnya disebut, sahabat tersebut langsung menghubungi Rahmi karena terkejut.
“Menurut saya momen seperti itu tidak bisa digantikan media sosial,” kata dia. Rahmi mengaku senang karena radio menghadirkan suasana yang lebih hangat, meski ia sendiri aktif menggunakan Instagram dan WhatsApp setiap hari.
Baginya, pesan-pesan sederhana dari pendengar lain yang ikut disiarkan juga menjadi daya tarik tersendiri. Salam untuk orangtua, pasangan, atau teman kerja memang terdengar biasa ketika ditulis, tetapi terasa tulus saat dibacakan penyiar.
Pengalaman serupa dirasakan Shabi (30), seorang pengusaha di Jakarta Selatan yang kerap mendengarkan radio saat bepergian antarkota untuk urusan usaha. Ia menyebut ada bagian dari radio yang justru muncul dari prosesnya: menunggu lagu pilihan diputar.
Berbeda dengan sebagian orang yang mengandalkan playlist pribadi, Shabi memilih menikmati momen menunggu. “Saya hampir setiap minggu kirim request lagu. Biasanya lagu-lagu lawas Indonesia tahun 1990-an atau awal 2000-an,” ujar dia saat dihubungi.
Shabi menilai keseruan request lagu tidak hanya terletak pada musik yang diputar. Ada kemungkinan pesan yang ia kirim akan dibacakan oleh penyiar, sehingga radio menjadi lebih dari sekadar pemutar lagu.
Salah satu pengalaman yang paling ia ingat terjadi ketika istrinya sedang mengandung anak pertama. Saat itu ia berada di luar kota dan tidak bisa banyak berkomunikasi.
Ia kemudian mengirim pesan berisi doa dan semangat untuk sang istri sekaligus meminta agar lagu religi diputar. Shabi mengatakan respons yang ia terima membuat momen tersebut terasa khusus.
“Istri saya bilang terharu karena tidak menyangka saya mengirim pesan lewat radio,” kata Shabi. Baginya, radio memberi ruang yang lebih santai dibanding media sosial yang bergerak cepat.
Shabi juga mengaku kerap terbawa suasana ketika mendengarkan cerita pendengar lain. Dari cerita-cerita tersebut, ia mendengar salam untuk keluarga, pesan untuk orang tercinta, hingga bentuk ucapan lain yang berangkat dari kedekatan personal.
Radio streaming dan cerita yang ikut dibawa
Kedekatan emosional yang dibentuk radio tidak hanya dirasakan pendengar yang mengandalkan pemancar langsung. Ketty (30), karyawan swasta, rutin mendengarkan radio melalui situs web streaming saat bekerja.
Karena sebagian besar waktunya dihabiskan di depan komputer, Ketty biasanya membuka tab khusus radio streaming untuk menemani aktivitas hariannya. Ia mulai menjadi pendengar radio streaming sekitar tiga tahun lalu setelah mendapat rekomendasi dari rekan kerja.
Awalnya Ketty tertarik karena program yang memutar lagu-lagu nostalgia era 1990-an hingga awal 2000-an. Namun seiring waktu, ia mengatakan radio tetap bertahan dalam kesehariannya karena bukan hanya musik yang membuatnya kembali.
“Saya suka ketika penyiar membacakan cerita pendengar. Kadang ada yang mengirim pesan untuk orang tua, ada yang sedang menjalani hubungan jarak jauh, ada juga yang sekadar mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya,” ujar Ketty.
Ketty pernah mengirimkan salam untuk kakaknya yang sedang mengalami masa sulit setelah kehilangan pekerjaan. Ia menilai ragam pesan yang dibacakan di udara memberi warna berbeda, karena komunikasi yang disampaikan lewat radio terasa lebih “hadir” saat dibagikan oleh penyiar.
Di tengah aktivitas kerja, cerita yang dibacakan itu membuat suasana terdengar lebih manusiawi. Ketty menyebut radio mampu memunculkan jeda emosional yang tidak selalu ditemukan ketika pesan beredar dalam alur media sosial yang serba cepat.
Meski cara penyampaian pesan ikut bergeser dari era sebelumnya, Ketty dan pendengar lain tetap menemukan alasan untuk kembali. Jika dahulu ada pendengar yang menelepon studio atau mengirim SMS, kini pesan lebih banyak disampaikan melalui WhatsApp, media sosial, hingga platform streaming radio.
Namun, inti pengalaman yang mereka cari tidak berubah. Radio menjadi medium untuk menyampaikan perhatian, rasa rindu, ucapan terima kasih, atau sekadar menyapa orang terdekat melalui udara—dengan suasana hangat yang tetap dirasakan meski gaya berkomunikasi terus diperbarui.






