jurnalistik.co.id – Pemerintah resmi menjalankan program biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini hadir sebagai kelanjutan skema campuran yang lebih dulu dimulai lewat B35 dan kemudian ditingkatkan menjadi B40 sejak Januari 2025.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan Indonesia pada impor BBM, terutama solar. Dengan penerapan B50, proporsi komponen energi terbarukan di dalam bahan bakar diesel juga ditingkatkan.
Secara prinsip, B50 merupakan bahan bakar diesel yang mengandung biodiesel berbasis minyak nabati atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 50 persen, sedangkan sisanya berasal dari solar konvensional. Perbandingan dengan B40 terletak pada porsi FAME yang lebih rendah, yakni 40 persen.
Pemerintah menargetkan penghentian impor solar pada 2026 melalui penguatan produksi kilang dan percepatan biodiesel B50. Namun, penerapan B50 tidak hanya soal menaikkan campuran biodiesel, melainkan juga menyertakan penyesuaian parameter teknis agar kualitas tetap terjaga dan aman dipakai pada mesin diesel.
Kandungan FAME: perbedaan paling menonjol
Jika B40 menggunakan biodiesel setara 40 persen dari komposisi total, maka B50 menaikkan porsi tersebut menjadi 50 persen atau setengah dari campuran. Perubahan kadar FAME ini diarahkan untuk semakin menekan konsumsi solar berbasis fosil sekaligus memperluas pemanfaatan bahan baku energi dari dalam negeri.
Selain aspek substitusi bahan bakar, penggunaan bahan baku nabati juga membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi industri nasional. Mulai dari sektor perkebunan hingga rantai pasok energi, pergeseran komposisi campuran diharapkan memberi dampak yang lebih luas.
Angka setana dipertahankan
Dari sisi performa dasar, B50 dan B40 sama-sama mempertahankan angka setana minimal 51. Angka setana menggambarkan kemampuan bahan bakar untuk terbakar di ruang bakar mesin diesel.
Semakin tinggi nilai setana, proses pembakaran dinilai menjadi lebih cepat dan efisien. Dampak yang diharapkan adalah mesin dapat bekerja lebih halus dan responsif, serta menghasilkan emisi yang lebih rendah.
Dengan tetap dipertahankannya angka setana pada level minimum tersebut, peningkatan kandungan biodiesel pada B50 tidak secara otomatis mengubah karakter dasar pembakaran pada mesin diesel modern. Pemerintah menekankan bahwa evaluasi dilakukan agar perubahan komposisi tetap sejalan dengan kebutuhan operasional mesin.
Standar mutu: beberapa parameter dibuat lebih ketat
Meskipun kadar biodiesel bertambah, sejumlah parameter teknis pada B50 justru ditetapkan lebih ketat dibanding sebelumnya. Salah satu yang disebutkan adalah batas kadar air yang dibatasi maksimal 300 ppm.
Nilai tersebut lebih rendah dibanding batas pada B40 yang mencapai 380 mg/kg. Pengetatan batas kadar air ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas bahan bakar tetap sesuai spesifikasi yang diperlukan sebelum digunakan dalam sistem pembakaran diesel.
Dengan demikian, perbedaan B50 dan B40 tidak berhenti pada rasio FAME semata. Kebijakan juga memperhatikan sisi teknis yang terkait mutu, sehingga perubahan campuran tetap memenuhi standar pemakaian pada mesin diesel.
Penerapan nasional B50 mulai 1 Juli 2026 menjadi penanda tahapan baru program biodiesel pemerintah setelah transisi dari B35 ke B40. Ke depannya, skema tersebut diharapkan dapat mendukung target pengurangan impor solar pada 2026 melalui kombinasi penguatan kapasitas kilang dan percepatan produksi biodiesel.
Dengan komposisi FAME yang lebih besar pada B50, pemerintah menempatkan program ini sebagai langkah bertahap yang tetap menjaga karakter pembakaran diesel. Karena angka setana minimal dipertahankan, perubahan campuran diharapkan tidak membuat proses pembakaran bergeser terlalu jauh dari kebutuhan mesin, sehingga kinerja tetap stabil dan pembakaran berlangsung lebih efisien.
Pengetatan spesifikasi mutu juga menjadi bagian penting dari penerapan nasional. Batas kadar air yang diturunkan pada B50 dimaksudkan untuk memastikan bahan bakar lebih siap digunakan sesuai spesifikasi teknis sebelum masuk ke sistem pembakaran. Dampaknya, kualitas campuran yang lebih kaya biodiesel tetap dapat dikendalikan agar penggunaan B50 berjalan aman dan andal pada mesin diesel.












