jurnalistik.co.id – Revitalisasi kawasan Keraton Solo kini diarahkan pada salah satu destinasi wisata edukasi sejarah, yakni Museum Keraton Solo. Program ini menekankan penataan sekaligus pengembangan ruang pamer agar pengalaman pengunjung lebih nyaman dan sejalan dengan standar permuseuman modern.
Menurut rencana, museum akan mendapatkan sentuhan desain berstandar internasional. Fokusnya bukan sekadar pembenahan fisik, tetapi juga pengaturan ruang agar penempatan koleksi bersejarah dapat disajikan secara lebih representatif.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan bahwa Museum Keraton Solo diproyeksikan menjadi benchmark atau tolok ukur bagi museum nasional di Indonesia. Hal itu terlihat dari upaya pengaturan tata penataan, pencahayaan, hingga aspek teknis pendukung tampilan koleksi.
“Ya itu sebagai benchmark-nya sekarang Museum Nasional, ya. Artinya di dalam pola tata penataan, lighting, kemudian suhu, kemudian bahkan sampai urutan penempatannya itu semua tertata dan dimungkinkan tidak hanya siang hari, bahkan malam hari pun bisa bisa menjadi daya tarik,” ujar Eddy kepada awak media pada Sabtu (18/7/2026).
Dengan pendekatan tersebut, museum diharapkan mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan. Bukan hanya menawarkan koleksi, tetapi juga menghadirkan suasana yang lebih hidup melalui pengaturan kualitas ruang pamer.
Pihaknya juga menekankan rencana pembukaan tidak berhenti pada jam siang. Museum ditargetkan dapat beroperasi hingga malam hari, sehingga kunjungan dapat menjadi pilihan bagi lebih banyak orang, termasuk yang memiliki waktu terbatas di siang hari.
“Karena yang sudah terjadi ini di Museum Nasional, malam hari pun mereka antre untuk bisa datang ke sana, tidak hanya sekadar menikmati museumnya, tetapi juga di situ muncul ekonomi kreatif berbasis kebudayaan, termasuk kuliner dan wastra. Ini mau didorongnya ke sana,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, pembukaan hingga larut akan memberi dampak yang lebih luas terhadap ekosistem ekonomi kreatif berbasis kebudayaan. Perluasan jam kunjungan dinilai dapat mendorong perputaran aktivitas di sekitar destinasi, mulai dari kebutuhan pengunjung hingga penguatan sektor-sektor kreatif lokal.
Di sisi lain, revitalisasi juga diposisikan sebagai bagian dari upaya menjadikan Keraton Solo dan sekitarnya sebagai living heritage Kota Solo. Eddy menyebut ada penetapan Borobudur sebagai living heritage yang berfungsi sebagai pembanding destinasi budaya dan spiritual bagi masyarakat yang mempercayainya.
Berita Terkait
“Kan ada penetapan juga Borobudur sebagai living heritage. Itu sebenarnya dimaksudkan juga sebagai counterpart destinasi budaya, destinasi spiritual untuk mereka yang mempercayai begitu.”
Dalam kacamata Eddy, upaya serupa tidak cukup jika hanya mengandalkan daya tarik Surakarta semata. Ia menilai Surakarta perlu ditempatkan sejajar dengan destinasi lain agar kekuatan daya tarik budayanya makin terasa dan lebih kuat.
“Sehingga ini karena Surakarta enggak bisa jualan hanya Surakarta. Surakarta harus sama-sama juga dengan destinasi lain agar daya tariknya ini menjadi luar biasa,” paparnya.
Revitalisasi tersebut tidak hanya menyasar bagian inti kawasan Keraton Solo. GKR Koes Moertiyah Wandansari, atau yang akrab disapa Gusti Moeng, menyampaikan bahwa program ini juga diarahkan pada area yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan edukasi.
Dengan begitu, pembenahan kawasan dipandang sebagai upaya menyeluruh agar berbagai bagian yang relevan dapat memberi kontribusi pada pengalaman belajar dan pemahaman sejarah bagi pengunjung. Penekanan pada aspek edukasi dan budaya menjadi bagian penting dari arah revitalisasi.
Sebelum masuk pada tahap pelaksanaan, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) bersama Keraton Solo telah menggelar sosialisasi dimulainya program revitalisasi kawasan Keraton Solo pada Jumat (17/7/2026). Sosialisasi tersebut menjadi salah satu langkah pengenalan agenda kepada pihak-pihak terkait agar implementasinya berjalan terarah.
Dalam proses revitalisasi, museum akan tetap dibuka agar wisatawan atau masyarakat yang datang tidak kehilangan kesempatan untuk berkunjung dan menikmati destinasi. Eddy menyampaikan bahwa upaya pembukaan tetap menjadi pertimbangan, meski pekerjaan penataan sedang berlangsung.
“Diupayakan masih (buka). Karena kasihan juga kalau jauh-jauh ke sini enggak bisa itu. Memang tidak segampang itu, tetapi kita sedang berpikir keras bagaimana agar sambil dibenahi juga tetap orang bisa berkunjung,” pungkas Eddy.
Rangkaian penataan ini, pada akhirnya, diarahkan agar Museum Keraton Solo tampil dengan kualitas ruang pamer yang lebih tertib dan nyaman. Dengan dukungan standar internasional dalam pengaturan penempatan koleksi serta rencana jam operasional hingga malam, revitalisasi diharapkan mampu memperluas minat kunjungan dan menghidupkan ekonomi kreatif berbasis kebudayaan di sekitar kawasan.












