jurnalistik.co.id – Solo kembali menyiapkan proses revitalisasi di kawasan Keraton. Program ini menargetkan 13 titik, dengan rentang pengerjaan dari kompleks Pagelaran hingga Keraton Kulon, serta didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo KPH Eddy Wirabhumi mengatakan proyek tersebut ditujukan untuk diselesaikan pada akhir 2026. Ia menjelaskan, cakupan lokasi yang akan disentuh meliputi beberapa area di dalam kompleks keraton.
“Kalau kita lihat dari depan sini, mulai dari Pagelaran, Sitihinggil, kemudian seputar Kamandungan, Pidono, masuk ke Kasentanan, Museum, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Keraton Kulon, Pakebanan, dan masih ada beberapa titik lagi,” kata Eddy Wirabhumi.
Menurutnya, revitalisasi dijadwalkan berlangsung selama sekitar empat bulan. Dengan rentang waktu tersebut, pihaknya menekankan bahwa seluruh pekerjaan harus bisa dikejar sampai batas akhir periode anggaran.
Eddy menyampaikan bahwa penyelesaian diarahkan agar tidak melampaui akhir tahun. Ia menegaskan perlunya pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran negara.
“Akhir tahun harus selesai, karena ini anggaran negara, APBN , yang memang akhir tahun harus selesai dan dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan, Eddy menyatakan pengerjaan akan dilakukan secara bersamaan di seluruh titik. Ia mengatakan strategi ini dipilih agar target penyelesaian dapat tercapai sesuai rencana.
Untuk mendukung percepatan, pekerja akan dikerahkan melalui sistem kerja bergiliran siang dan malam. Langkah tersebut diharapkan menjaga ritme pekerjaan agar tidak terkendala durasi.
“Bahkan kemarin ada pesan dari pelaksana, dia juga perlu tempat untuk tidur para pekerja. Sudah dihitung-hitung kurang lebih 300 orang yang akan tidur siang malam di sini,” kata Eddy Wirabhumi.
Pembenahan fisik dan konservasi nilai budaya
Eddy menegaskan bahwa revitalisasi tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan fisik. Ia menyebut program ini juga menyasar pelestarian nilai-nilai budaya yang bersifat nonfisik di lingkungan Keraton Solo.
Berita Terkait
“Ini tidak hanya revitalisasi fisik, tapi juga revitalisasi terhadap nilai-nilai budaya atau nonfisiknya. Jadi bersamaan dengan penataan fisik juga dilakukan konservasi dan pemeliharaan terhadap kegiatan nonfisiknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses revitalisasi dilakukan melalui tahapan kajian oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Eddy mengatakan BPCB telah melakukan kajian, menyusun perencanaan, serta terlibat langsung dalam pelaksanaan.
Dengan mekanisme tersebut, pihak Keraton berharap setiap tahapan pekerjaan mengikuti pertimbangan pelestarian. Ia menggambarkan bahwa penataan fisik dijalankan beriringan dengan langkah konservasi terhadap kegiatan nonfisik.
Skema pendanaan dan rencana penanda awal revitalisasi
Dalam keterangan yang disampaikan, Eddy menyebut proyek revitalisasi sepenuhnya menggunakan dana APBN. Namun, ia mengaku belum mengetahui nilai anggaran yang dialokasikan secara spesifik untuk kegiatan di Keraton Solo.
Ia menjelaskan ketidaktahuannya berdasarkan cakupan penanganan yang tidak hanya diarahkan pada Keraton Surakarta. Menurut Eddy, kegiatan tersebut juga menyangkut keraton-keraton lain di Indonesia, sehingga baginya anggaran yang terlibat tergolong besar.
Eddy memandang revitalisasi Keraton Solo sebagai bagian dari perhatian pemerintah terhadap upaya pelestarian pusat-pusat kebudayaan. Ia menilai program ini diarahkan untuk menjadi titik awal agar pusat kebudayaan dapat kembali “hidup”.
“Ini memang dana khusus atensi dari Presiden dan diharapkan menjadi titik awal untuk menghidupkan kembali pusat-pusat kebudayaan kita sebagai ciri khas kebudayaan Indonesia,” kata Eddy Wirabhumi.
Selain aspek pelaksanaan fisik, pihak Keraton juga menyiapkan agenda penanda dimulainya revitalisasi. Eddy menyebut Keraton berencana menggelar prosesi wilujengan pada pekan depan.
Prosesi wilujengan itu dimaksudkan sebagai simbol awal kegiatan revitalisasi di kawasan Keraton. Dengan demikian, rangkaian program tidak berhenti pada pekerjaan bangunan, tetapi juga mencakup penanda tata acara yang melekat pada tradisi setempat.
Melalui target penyelesaian akhir 2026, durasi sekitar empat bulan, serta keterlibatan kajian BPCB, revitalisasi Keraton Solo diharapkan berjalan terukur. Dengan pengerjaan siang dan malam serta pembagian titik yang menyeluruh, proyek ini diarahkan agar selesai tepat waktu sekaligus menjaga elemen fisik dan nilai budaya yang dipelihara.












