jurnalistik.co.id – PADANG—Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Bukit Gado-gado di kawasan wisata Gunung Padang memunculkan tanggapan beragam dari warga sekitar. Di satu sisi, pengelola memandang kehadiran koperasi dapat ikut menyokong ekosistem pariwisata. Namun, di sisi lain, letak bangunan yang berada di jalur tanjakan serta keterbatasan area parkir membuat sejumlah pihak mempertanyakan daya tarik bisnis ritel di lokasi tersebut.
Warga menyoroti kenyataan bahwa akses menuju titik pembangunan tidak berada di area datar. Kondisi geografis yang menanjak dikhawatirkan memengaruhi kenyamanan pengunjung, terutama saat datang bersama keluarga atau rombongan. Selain itu, ketersediaan lahan parkir yang minim juga dikhawatirkan dapat mengurangi frekuensi kunjungan ke gerai yang direncanakan beroperasi di area tersebut.
Tanggapan yang muncul kemudian dijawab oleh pihak koperasi melalui keterangan resmi ketua Kopdes Merah Putih. Ketua Kopdes Merah Putih, Sari Angraiyeni, menyatakan bahwa pemilihan titik pembangunan tidak dilakukan secara sepihak. Menurutnya, proses penentuan lokasi berjalan melalui musyawarah berjenjang yang melibatkan berbagai unsur terkait di tingkat lokal.
Sari menjelaskan, dalam rangkaian rembuk tersebut pihaknya melibatkan unsur pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta perwakilan TNI dan Polri. “Pemilihan lokasi ini merupakan hasil musyawarah bersama,” ujarnya dalam wawancara. Ia menekankan bahwa keterlibatan lintas sektoral menjadi bagian dari pertimbangan agar lokasi dapat diterima dan dipertanggungjawabkan oleh masyarakat.
Lebih lanjut, Sari menguraikan dasar pertimbangan lokasi yang dinilai strategis. Berdasarkan hasil rembuk, titik pembangunan disebut berada pada wilayah tengah secara geografis. Dengan posisi tersebut, lokasi diharapkan menjadi titik temu mobilitas warga dari beberapa rukun tetangga (RT) di Kelurahan Bukit Gado-gado.
Dalam penjelasannya, Sari juga meluruskan aspek riwayat lahan yang digunakan untuk pembangunan. Tanah tempat bangunan akan berdiri merupakan tanah verponding, yakni tanah peninggalan era kolonial Barat yang sebelumnya pernah disewa oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia menyebut bahwa setelah periode kemerdekaan, status aset tersebut beralih menjadi tanah negara.
Riwayat lahan dan perubahan rencana
Berita Terkait
Sebelum proyek koperasi digulirkan, lahan tersebut sempat direncanakan untuk kepentingan lain di tingkat kelurahan. Rencana awalnya diarahkan untuk pembangunan Kantor Kelurahan atau Kantor LPM Bukit Gado-gado. Namun, Sari mengatakan bahwa pendanaan pembangunan dari pemerintah tidak kunjung turun selama bertahun-tahun, sehingga rencana tersebut akhirnya mengambang.
Karena tidak terealisasi dalam jangka waktu yang panjang, keputusan pemanfaatan lahan kemudian berubah. Melalui program pemberdayaan ekonomi, pihak terkait akhirnya memutuskan penggunaan tanah negara tersebut sebagai lokasi pembangunan Kopdes Merah Putih. Menurut Sari, langkah ini diambil agar aset yang semula belum terwujud rencana fungsinya dapat digunakan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan dasar itu, pengelola memandang proyek KDMP Bukit Gado-gado memiliki alasan kuat dari sisi perencanaan dan legitimasi sosial. Proses bermusyawarah disebut menjadi pijakan, sementara status lahan dijelaskan sebagai bagian dari transparansi terkait sejarah kepemilikan. Di tengah kekhawatiran soal tanjakan dan parkir, penjelasan ini menjadi respons yang diarahkan untuk menjawab keraguan warga terhadap keberlanjutan usaha ritel di lokasi tersebut.
Progres fisik dan target penyelesaian
Terkait pelaksanaan di lapangan, Sari menyampaikan perkembangan pembangunan yang sudah berjalan. Ia menyatakan bahwa hingga pertengahan Juli 2026, realisasi fisik proyek telah mencapai angka 80 persen. Dengan capaian tersebut, pihak koperasi menilai proyek berada pada tahap menuju penyelesaian akhir.
Pihaknya juga menargetkan agar seluruh struktur bangunan rampung tepat waktu. Sari mengatakan pada akhir Juli 2026, struktur bangunan ditargetkan selesai sepenuhnya sekaligus siap dioperasikan secara resmi. Target tersebut mencerminkan rencana agar koperasi dapat segera berfungsi sesuai tujuan yang dikerjakan melalui proses pemberdayaan.
Walau demikian, pembahasan publik di sekitar proyek tetap berfokus pada aspek kenyamanan akses. Warga yang menyoroti kondisi tanjakan dan lahan parkir yang terbatas memperlihatkan bahwa keberhasilan usaha ritel tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bangunan. Persoalan kemudahan pengunjung menuju lokasi menjadi pertimbangan yang tetap muncul dalam perbincangan.
Di sisi lain, klaim atas lokasi strategis melalui posisi tengah dan fungsinya sebagai titik temu mobilitas warga menunjukkan upaya penyesuaian gagasan agar kebutuhan masyarakat bisa terwadahi. Dengan capaian progres fisik yang sudah mencapai 80 persen dan target penyelesaian akhir Juli 2026, proyek KDMP Bukit Gado-gado kini memasuki fase krusial menjelang operasi resmi. Keberterimaan warga, kejelasan manfaat ekonomi, dan kemampuan mengelola akses menjadi tiga hal yang akan diuji ketika bangunan mulai difungsikan di kawasan wisata tersebut.












