jurnalistik.co.id – Keraton Solo menggelar geladi mahesa sebagai latihan jelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro dengan melibatkan lima ekor kerbau (kebo) bule keturunan Kiai Slamet. Geladi dilakukan selama dua hari, pada Sabtu (13/6/2026) dan Minggu (14/6/2026).
Kirab 1 Suro sendiri direncanakan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) malam. Dalam rangkaian latihan tersebut, kelima kebo bule menjalani kegiatan mengitari Kompleks Keraton Solo.
Heri, yang menjadi pembicara dalam latihan itu, menjelaskan bahwa rute yang ditempuh saat geladi mahesa bukan rute kirab malam 1 Suro. Dengan demikian, latihan lebih diarahkan pada persiapan pelaksanaan pada malam 1 Suro.
Latihan Dua Hari dan Pembagian Kebo
Menurut Heri, lima kebo bule yang melakoni geladi terdiri dari tiga ekor betina dan dua ekor jantan. Pernyataan tersebut disampaikan Heri kepada awak media di Alun-alun Kidul Keraton Solo, pada Sabtu (13/6/2026).
“Lima (kebo bule), betinanya ada tiga, jantannya ada dua,” kata Heri kepada awak media di Alun-alun Kidul Keraton Solo, Sabtu (13/6/2026).
Heri juga menyebutkan bahwa kelima kebo bule memiliki nama yang berbeda-beda. Di antara nama tersebut, terdapat Nyai Pahing yang disebut sebagai kebo tertua, serta Suro sebagai yang termuda.
Heri menyampaikan, kebo tertua berumur 13 tahun bernama Nyai Pahing. Ia juga menyebutkan nama lain, yaitu Ponco, Patih, dan Mugi, sebelum menyampaikan informasi mengenai usia Suro.
“Namanya paling tua itu Nyai Pahing umurnya sekitar 13 tahun, terus Ponco, Patih, Mugi, sama Suro. Yang paling kecil Suro itu umurnya 3 tahun,” kata Heri.
Dalam kesempatan yang sama, Heri menerangkan bahwa kelima kebo bule terbiasa menjadi cucuk lampah. Ia menambahkan bahwa kebo Suro merupakan kebo yang baru tiga kali mengikuti kirab malam 1 Suro.
Peran sebagai Cucuk Lampah Menjelang Malam 1 Suro
Setelah geladi mahesa berlangsung selama dua hari, kelima kebo bule nantinya akan tampil sebagai cucuk lampah. Heri menjelaskan bahwa persiapan yang dilakukan melalui geladi ditujukan untuk malam 1 Suro.
“Ya limanya itu buat persiapan malam Satu Suro itu. Itu nanti dua hari digeladi, ngelilingi keraton. Hari ini sama besok,” terangnya.
Dengan rincian tersebut, latihan dilakukan pada hari pertama dan hari kedua, sebelum memasuki tahapan persiapan yang berlanjut menjelang pelaksanaan kirab pada malam 1 Suro. Heri menyampaikan bahwa setelah dua hari menjalani geladi, kelima kebo bule akan diistirahatkan.
“Nanti hari Senin kan biar istirahat, Selasa baru kirab itu,” jelasnya.
Penjelasan Heri menegaskan adanya jeda waktu untuk istirahat sebelum kegiatan Kirab 1 Suro dilaksanakan pada Selasa (16/6/2026) malam. Pada bagian ini, konteks jadwal menjadi bagian dari alur persiapan yang disiapkan oleh Keraton Solo.
Jamas dan Persiapan Sore Hari
Selain pengaturan jadwal latihan dan istirahat, Heri juga menyebutkan bahwa kelima kebo bule akan dijamas atau dimandikan saat sore hari. Ia menyampaikan hal itu sebagai bagian dari proses persiapan yang dilakukan menjelang malam 1 Suro.
“Ya sudah, cuma digeladi gitu tok (saja). Dan nanti kalau persiapannya mau Suro itu. Sore itu dijamasi dulu,” katanya.
Heri menambahkan bahwa, di luar geladi dan proses jamas pada sore hari, tidak ada persiapan khusus lainnya yang dilakukan. Penekanan pada tahapan geladi, jadwal istirahat, serta jamas menjadi rangkaian yang disampaikan dalam latihan jelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro.
Dengan keterlibatan lima ekor kebo bule keturunan Kiai Slamet, pembagian tiga betina dan dua jantan, serta penyebutan nama Nyai Pahing, Ponco, Patih, Mugi, dan Suro beserta usia masing-masing, Keraton Solo menyiapkan bagian dari tradisi Kirab 1 Suro melalui rangkaian geladi mahesa yang berlangsung selama dua hari. Kirab akan dilangsungkan sesuai rencana pada Selasa (16/6/2026) malam.








