jurnalistik.co.id – Kegiatan Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Solo berlangsung pada Selasa (16/6/2026) malam. Dua kubu Keraton Solo, yaitu Pakubuwono (PB) XIV Purbaya dan PB XIV Mangkubumi, bersiap melaksanakan kirab dengan posisi duduk yang saling bertolak belakang.
Pantauan di lokasi menunjukkan rombongan kedua kubu berada di Sasana Sewaka. Mereka mengenakan ageman Jawi jangkep berwarna hitam dengan jarik berwarna coklat.
Rombongan dari kubu PB XIV Purbaya berjalan dari Kori Talang Paten. Setelah itu, mereka duduk di Sasana Sewaka hingga mencapai pelataran.
Sementara itu, kubu PB XIV Mangkubumi berjalan dari Kori Kamandungan. Rombongan ini juga duduk di Sasana Sewaka dan berlanjut hingga pelataran.
Dalam penataan tempat duduk, kedua kubu berada saling bertolak belakang. Kubu PB XIV Purbaya duduk menghadap barat, sedangkan kubu PB XIV Mangkubumi menghadap timur.
Ketegangan sempat terjadi sekitar pukul 20.52 WIB. Peristiwa itu berlangsung saat Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), berada di Sasana Parasdya bersama PB XIV Mangkubumi dan GKR Indriah menjelang miyos dalem.
Pengageng Sasana Wilapa dari pihak PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, tampak menghalau kubu PB XIV Mangkubumi agar meninggalkan Sasana Parasdya. Setelah beberapa saat, Gusti Moeng, PB XIV Mangkubumi, dan GKR Indriah berjalan meninggalkan Sasana Parasdya dan kembali ke Panengrat Ler.
Tak lama kemudian, sekitar pukul 20.59 WIB, PB XIV Purbaya tampak berjalan menuju Sasana Parasdya. Pergerakan tersebut diiringi gending.
Menjelang rangkaian kirab, Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi menyampaikan harapannya agar kedua belah pihak dapat menahan diri. Ia menekankan agar pelaksanaan kirab 1 Suro tetap menjaga harkat, martabat, dan nama besar keraton.
“Mudah-mudahan pokoknya kita berusaha sebaik mungkin untuk saling menahan diri, saling menjaga diri harkat martabat nama keraton nama besar keraton Indonesia nama besar orang Jawa yang katanya santun dan penuh nilai-nilai luhur. Jangan tercederai masalah-masalah yang tidak begitu penting,” kata Eddy saat ditemui di Sasana Sewaka, Selasa (16/6/2026).
Eddy juga merasakan situasi saat ini belum sepenuhnya sejuk. Karena itu, ia berharap kirab 1 Suro dapat dijadikan momentum kontemplasi.
“Siapa pun kita kalau kita masih makhluk Tuhan masih ada yang paling berkuasa saatnya kita untuk berkontemplasi , memohon ampunan dan juga mohon petunjuk agar setahun ke depan kita bisa lebih baik lagi,” terangnya.
Dengan demikian, pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro pada malam ini memperlihatkan dinamika di dalam rangkaian persiapan dan penataan rombongan. Meski sempat muncul ketegangan pada pukul 20.52 WIB dan pergerakan kembali dilakukan setelahnya, rangkaian tetap berjalan dengan pengaturan kubu yang duduk bertolak belakang sesuai arah yang telah ditentukan.
Kirab malam ini juga menjadi ruang bagi pihak LDA untuk menyerukan sikap saling menjaga. Harapan tersebut disampaikan langsung di Sasana Sewaka, selaras dengan konteks kirab 1 Suro yang berlangsung di Keraton Solo pada Selasa malam, 16 Juni 2026.
Setelah peristiwa sekitar pukul 20.52 WIB, alur pergerakan tampak semakin terarah. Gusti Moeng bersama PB XIV Mangkubumi dan GKR Indriah memilih meninggalkan Sasana Parasdya dan kembali ke Panengrat Ler, sementara pengaturan dari pihak PB XIV Purbaya sempat terlihat melalui tindakan menghalau kubu lain. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 20.59 WIB, PB XIV Purbaya bergerak kembali menuju Sasana Parasdya dengan iringan gending.
Di sela rangkaian persiapan kirab, pesan yang disampaikan Ketua Eksekutif LDA juga kembali menegaskan pentingnya kendali sikap. Eddy Wirabhumi berharap kedua belah pihak menjaga agar pelaksanaan kirab 1 Suro tetap memelihara harkat, martabat, dan nama besar keraton, termasuk agar tidak terseret pada persoalan yang dinilai tidak terlalu penting. Ia juga menggambarkan suasana yang masih perlu ditenangkan, sehingga kirab dapat menghadirkan ruang yang lebih hening.
Harapan itu kemudian diarahkan pada makna batin kirab malam ini. Kirab 1 Suro dipandang sebagai momentum untuk kontemplasi, memohon ampunan, sekaligus meminta petunjuk agar perjalanan setahun ke depan bisa berjalan lebih baik. Dengan penataan rombongan yang tetap bertolak belakang sesuai ketentuan, rangkaian persiapan tetap berlangsung, sekaligus menjadi pengingat untuk saling menjaga dan menjaga kerukunan dalam lingkungan keraton.











