jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bergerak menguat pada perdagangan pasar spot, Senin (15/6/2026). Apresiasi ini membuat sejumlah bank nasional mematok harga jual dollar AS di kisaran Rp 17.700–17.800 per dollar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 13.38 WIB, rupiah berada di level Rp 17.697 per dollar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah menguat 163 poin atau 0,91% dibanding penutupan hari sebelumnya.
Penguatan rupiah dinilai tidak lepas dari membaiknya suasana pasar global. Salah satu pemicunya adalah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan ketegangan geopolitik.
Kesepakatan tersebut, menurut penjelasan ekonom Permata Bank Josua Pardede, mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, kesepakatan juga melibatkan penerapan gencatan senjata, dimulainya pembahasan terkait program nuklir Iran, serta pelonggaran sejumlah sanksi terhadap Iran.
Menurut Josua, perkembangan itu mendorong sentimen positif di pasar keuangan global. Dalam kondisi seperti ini, investor kembali memburu aset-aset berisiko, sehingga memberi ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Selain dorongan dari faktor eksternal, rupiah juga memperoleh dukungan dari langkah Bank Indonesia di dalam negeri. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50% pada pekan lalu.
Kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat daya tarik instrumen keuangan domestik. Pada saat yang sama, langkah itu diharapkan mendukung stabilitas nilai tukar.
Josua menyebut pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi dinamika pasar dalam waktu dekat. Ia memperkirakan, “Pada hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 17.725-17.875 per dollar AS,” ujarnya kepada Kompas.com pada Senin.
Penguatan rupiah juga turut sejalan dengan melemahnya dollar AS pada awal perdagangan pasar Asia. Tekanan terhadap mata uang AS muncul setelah kabar kesepakatan damai antara AS dan Iran meningkatkan optimisme pelaku pasar terhadap aset berisiko.
Sentimen yang sama kemudian berdampak pada pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent disebut turun sekitar 4% hingga kembali bergerak di bawah level 85 dollar AS per barrel.
Untuk referensi kurs, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan rupiah pada Jumat (12/6/2026) berada di Rp 17.921 per dollar AS. Nilai ini menguat dibanding Kamis (11/6/2026) yang mencatat kurs rupiah di Rp 17.981 per dollar AS.
Sementara itu, kurs dollar AS yang dipatok bank-bank besar di Indonesia juga menunjukkan pergerakan yang berbeda-beda antar lembaga. Di BRI, kurs jual dipatok Rp 17.715 per dollar AS dan kurs beli Rp 17.688 per dollar AS.
BTN menetapkan kurs jual Rp 17.860 per dollar AS dan kurs beli Rp 17.610 per dollar AS. Bank Mandiri mematok kurs jual Rp 17.850 per dollar AS dengan kurs beli Rp 17.550 per dollar AS.
BNI pada kesempatan yang sama memasang kurs jual Rp 17.850 per dollar AS dan kurs beli Rp 17.560 per dollar AS. CIMB Niaga mematok kurs jual Rp 17.719 per dollar AS serta kurs beli Rp 17.704 per dollar AS.
BCA tercatat menempatkan kurs jual di Rp 17.850 per dollar AS dan kurs beli Rp 17.575 per dollar AS. Adapun Bank Permata memasang kurs jual Rp 17.840 per dollar AS dengan kurs beli Rp 17.630 per dollar AS.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah pada sesi ini mencerminkan kombinasi dorongan dari perbaikan kondisi pasar global dan penegasan kebijakan moneter di dalam negeri. Dengan kisaran prediksi yang disebut Josua, pergerakan rupiah ke depan masih akan menunggu kelanjutan sentimen pasar serta arah pergerakan dollar AS.












