Bisnis & Ekonomi

Saham Perbankan Diproyeksi Terkoreksi Pekan Ini Usai Reli Panjang

×

Saham Perbankan Diproyeksi Terkoreksi Pekan Ini Usai Reli Panjang

Sebarkan artikel ini
Saham Perbankan Diproyeksi Terkoreksi Pekan Ini Setelah Reli Panjang Money 15 Juni 2026
Ilustrasi: Saham Perbankan Diproyeksi Terkoreksi Pekan Ini Setelah Reli Panjang

jurnalistik.co.id – Pekan ini, pergerakan saham-saham perbankan diperkirakan cenderung terkoreksi setelah mencatat penguatan dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah analis menilai, kondisi tersebut berpotensi menjadi fase konsolidasi sebelum tren kenaikan kembali berlanjut.

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, volume transaksi saham perbankan dalam perdagangan cenderung menurun, meskipun harga saham masih mencatat kenaikan sepanjang pekan lalu. Menurutnya, pola ini mengindikasikan penguatan mulai kehilangan tenaga, sehingga saham perbankan berpotensi mengalami koreksi atau penurunan sementara dalam waktu dekat.

Ivan menambahkan bahwa dari sisi indikator, sinyal teknikal turut mengarah pada peluang pullback. Ia menyebut, “Dari sisi indikator MACD juga tampaknya bearish divergence bisa mengisyaratkan untuk potensi pullback, tetapi potensi kenaikan berikutnya setelah koreksi usai nanti tetap ada,” ujarnya.

Meski demikian, Ivan menilai koreksi yang terjadi masih tergolong wajar. Koreksi itu dapat menjadi jeda konsolidasi sebelum saham perbankan kembali melanjutkan tren kenaikan.

Potensi koreksi jangka pendek untuk emiten besar

Untuk saham-saham bank berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, Ivan memperkirakan pergerakannya berpotensi mengalami koreksi jangka pendek pada pekan ini. Ia melihat adanya kemiripan dengan fase sebelumnya, ketika harga saham sempat mengalami jeda kenaikan sebelum kembali melanjutkan tren positif.

Ivan juga menyampaikan perkiraan pola pergerakan tersebut melalui kalimat, “Kalau saya lihat ada kemiripan, dimana pekan ini diperkirakan ada potensi reversal dari naik untuk pullback dahulu membentuk koreksi jangka pendek,” ucapnya. Setelah tahap pullback dan koreksi selesai, peluang penguatan lanjutan dinilai masih terbuka.

Ia menjelaskan, apabila nanti terbentuk level harga terendah yang lebih tinggi dibandingkan koreksi sebelumnya, maka kenaikan berikutnya berpotensi lebih kuat. “Nantinya jika terkonfirmasi higher low secara teknikal, artinya potensi kenaikan berikutnya akan lebih tinggi dari yang terjadi pekan ini,” kata Ivan.

Rupiah sebagai penentu sentimen

Selain faktor teknikal, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai sentimen utama yang akan memengaruhi saham perbankan pekan ini masih berasal dari pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyebut keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan telah meningkatkan kepercayaan pelaku pasar dan membantu meredam tekanan terhadap rupiah.

Menurut Nafan, nilai tukar rupiah saat ini kembali bergerak di bawah level psikologis Rp 18.000 per dollar AS. Ia menjelaskan saham-saham bank berkapitalisasi besar cenderung sensitif terhadap pergerakan nilai tukar dan arus modal asing.

Dalam pandangannya, stabilnya rupiah dapat menjadi katalis positif yang mendorong investor kembali masuk ke aset-aset berdenominasi rupiah, termasuk saham perbankan. Selama rupiah mampu bertahan stabil di bawah level tersebut, sektor perbankan berpotensi mendapatkan dukungan sentimen positif.

Nafan menegaskan indikator tersebut dengan pernyataan, “Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi leading indicator. Jika rupiah terus stabil dan menguat di bawah Rp 18.000, sektor perbankan akan mendapatkan angin segar,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pergerakan harga saham perbankan juga dipengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Karena itu, investor diperkirakan turut mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni 2026. Nafan menyatakan, “Pergerakan harga saham perbankan turut dipengaruhi arah kebijakan moneter ke depan,” tuturnya.

Di tengah potensi pullback, pelaku pasar biasanya akan memantau apakah koreksi yang terjadi benar-benar menjadi jeda sementara, atau justru berpotensi melebar. Konfirmasi teknikal seperti terbentuknya pola kenaikan level terendah dapat menjadi sinyal bahwa tren masih terjaga dan ruang penguatan berikutnya lebih terbuka.

Ivan juga menggarisbawahi bahwa penurunan volume transaksi saat harga masih menguat dapat menjadi penanda melemahnya dorongan beli. Jika kondisi tersebut berlanjut, pergerakan saham perbankan bisa tetap cenderung berfluktuasi, sedangkan perbaikan pada aktivitas transaksi selama fase koreksi berpotensi memberi dukungan agar rebound lebih cepat terbentuk.

Sementara itu, Nafan menempatkan rupiah sebagai faktor yang terus menjadi rujukan sentimen. Karena hasil pergerakan rupiah juga akan terkait dengan ekspektasi terhadap kebijakan moneter berikutnya, pasar diperkirakan makin aktif menilai perkembangan sampai agenda RDG Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026, terutama untuk melihat apakah stabilitas rupiah tetap terjaga di bawah level Rp 18.000 per dollar AS.