jurnalistik.co.id – Jamie George mengkritik Totoa Auvaa yang, menurutnya, menunjukkan perilaku “unacceptable” dalam sebuah insiden klub malam yang melibatkan Ben Stokes dan Gus Atkinson.
Jamie George, rekan setim Auvaa di Saracens, menilai insiden itu sebagai sesuatu yang tidak boleh dibiarkan tanpa penegasan sikap. Ia menyampaikan kritiknya setelah pemain Samoa tersebut terlibat dalam kejadian di klub malam.
George berbicara sebagai “stand-in England rugby captain” yang telah mengoleksi 110 caps. Ia juga menggambarkan Auvaa dengan sejumlah ungkapan yang menekankan ketidaksiapan dan kurangnya pemahaman yang menurutnya masih dimiliki pemain muda itu.
Ia menyebut Auvaa “a rabbit in the headlights in London” dan mengatakan pemain berusia 21 tahun itu “doesn’t know right from wrong”. Meski begitu, George menegaskan Auvaa tetaplah “a good kid”.
George menambahkan bahwa kritiknya bukan sekadar pada kejadian, melainkan pada pola perilaku yang menurutnya perlu dibedakan secara tegas. Ia menegaskan, “There’s no disputing that. But we need to make sure that we establish that sort of behaviour is unacceptable.”
Dalam pernyataan yang dikutip oleh The Times dan The Telegraph, George juga mengatakan, “He’s a young kid who has only left Samoa once.” Ia menilai Auvaa bersikap “immature”, tetapi tetap menyatakan, “He’s a good kid, but he’s got it wrong.”
Lebih lanjut, George menyinggung aspek pendampingan yang menurutnya perlu diberikan. Ia menyampaikan, “There’s also a bit of me that thinks we’ve got to look after him because he doesn’t know right from wrong at the minute.”
George kemudian menegaskan komitmennya untuk memastikan Auvaa tidak dibiarkan berjalan tanpa pengaruh positif. “We’ll look after him. We will make sure that he’s got role models around him,” ujarnya.
Sebelumnya, Saracens telah menyatakan forward Auvaa tidak akan menghadapi sanksi formal setelah penyelidikan internal mereka terkait insiden pada 8 Juni. Dalam keterangan klub, kejadian itu disebut “regrettable for all parties involved”, tetapi Saracens menegaskan klub “remains supportive of the player”.
Insiden yang dimaksud terjadi ketika Ben Stokes dan Gus Atkinson berada di luar aturan jam malam. Stokes dan Atkinson, sebagai kapten kriket Inggris dan bowler, disebut melanggar “midnight curfew” saat merayakan kemenangan di Tes pertama pada awal bulan ini.
Mereka disebut hadir ketika seorang anggota keamanan Inggris mengalami luka dan membutuhkan perhatian medis, setelah diserang dan menjadi berdarah akibat insiden ketika Auvaa menyerang. George menyoroti bahwa konteksnya terjadi pada situasi di luar jam malam yang telah ditetapkan tim.
Berangkat dari perkembangan tersebut, Stokes dan Atkinson dibuat tidak tersedia untuk Tes kedua Inggris yang berakhir dengan kekalahan. Langkah itu diambil “pending an inquiry into events,” menyusul proses penelaahan atas kejadian klub malam tersebut.
Dalam proses disipliner oleh England and Wales Cricket Board (ECB), ditemukan bahwa Stokes dan Atkinson melanggar “contractual obligations”, tetapi dinyatakan tidak bersalah atas “violent conduct”. Akibatnya, kedua pemain hanya menerima peringatan tertulis tanpa tindakan lanjutan.
Di sisi lain, penyelidikan terpisah oleh Cricket Regulator menyimpulkan tidak ada kasus yang bisa ditindak karena “insufficient evidence”. Dengan demikian, tidak ada proses lanjutan yang mengarah pada kesimpulan pelanggaran tertentu dari hasil bukti yang tersedia.
ECB juga menyampaikan pernyataan yang menegaskan prinsip penilaian mereka terkait “violent conduct” di klub malam. “No blame should be attached to the players for violent conduct at the nightclub,” demikian pernyataan ECB.
ECB menambahkan bahwa “Stokes was not involved in the altercation and did not witness either incident.” ECB juga menyatakan bahwa bukti yang mereka lihat menunjukkan “Atkinson was the victim of unprovoked attacks and did not retaliate on either occasion.”
Meski demikian, Saracens mengkritik ECB karena tidak melibatkan pihak klub dalam proses penanganan perkara. Kritik tersebut menyoroti adanya perbedaan pendekatan antara klub dan badan disipliner dalam menilai dan mengelola insiden yang melibatkan pemain mereka.
Di tengah perbedaan pandangan itu, George memilih menekankan kebutuhan pembinaan sambil tetap menggarisbawahi batas perilaku. Ia menyatakan bahwa Auvaa perlu “look after” dan dipastikan memiliki “role models” di sekitarnya, sejalan dengan keyakinannya bahwa pemain muda itu saat ini “doesn’t know right from wrong”.
Dengan kata lain, George menempatkan insiden ini bukan hanya sebagai rangkaian kesalahan sesaat, tetapi juga sebagai momen untuk membentuk standar perilaku yang jelas. Ia menegaskan bahwa perilaku semacam “unacceptable” harus ditegakkan sebagai pelajaran bersama bagi semua pihak.











