jurnalistik.co.id – Ledakan dilaporkan terjadi di markas TPNPB-OPM Kodap XII/Lanny Jaya pimpinan Purom Okiman Wenda di Distrik Melagi, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Peristiwa tersebut menewaskan satu warga.
Menurut keterangan yang disampaikan Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, ledakan bermula saat warga melakukan aktivitas di kawasan bekas markas KKB Papua. Lokasi kejadian berada di wilayah yang sama dengan titik markas TPNPB-OPM tersebut.
Rangkaian kegiatan warga bermula dari Kampung Toemalo, Kampung Mbu, dan Kampung Wunabunggu. Mereka sedang mencari serta membakar kelapa hutan di area bekas markas KKB Papua saat peristiwa terjadi.
Setelah menerima laporan, personel melakukan langkah penanganan di lapangan. Wirya menyampaikan, “Setelah menerima laporan, personel melakukan observasi wilayah, membantu masyarakat, serta mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi guna mengetahui penyebab pasti ledakan,” ujar Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, kepada Okezone, Senin (8/6/2026).
Dalam rangkaian observasi tersebut, personel menelusuri konteks kejadian berdasarkan keterangan saksi dan kondisi di lokasi. Upaya pengumpulan informasi dilakukan untuk memastikan penyebab ledakan secara lebih pasti.
Dalam peristiwa itu, seorang warga bernama Endite Wea (18 tahun) dilaporkan meninggal dunia akibat ledakan yang terjadi di lokasi. Endite Wea berasal dari Kampung Mbu.
Wirya juga menegaskan aspek keterlibatan personel. Ia menyatakan, “Dipastikan bahwa tidak ada aktivitas personel TNI di lokasi kejadian maupun di sekitar area saat ledakan terjadi,” kata Wirya.
Di sisi lain, pihaknya menyampaikan bahwa penilaian awal dilakukan berdasarkan karakteristik ledakan serta kondisi tempat kejadian. Berdasarkan pengamatan tersebut, terdapat dugaan bahwa sumber ledakan berasal dari sisa bahan peledak atau munisi yang tertinggal oleh kelompok separatis bersenjata di wilayah tersebut.
Kesimpulan awal itu disusun setelah melihat karakteristik ledakan dan situasi lokasi di area bekas markas. Dengan demikian, fokus penyelidikan diarahkan pada kemungkinan adanya peninggalan bahan peledak atau munisi di tempat kejadian.
Peristiwa ini kemudian mengubah aktivitas warga di kawasan tersebut menjadi rangkaian penanganan lapangan. Personel TNI Habema melakukan observasi, membantu masyarakat, serta menghimpun keterangan saksi untuk menelusuri penyebab ledakan secara akurat.
Hingga laporan disampaikan, informasi mengenai korban tetap mengerucut pada satu warga yang meninggal, yaitu Endite Wea (18 tahun) dari Kampung Mbu. Sementara itu, dugaan sumber ledakan mengarah pada sisa bahan peledak atau munisi yang tertinggal oleh kelompok separatis bersenjata di wilayah tersebut.
Ledakan itu terjadi saat warga memanfaatkan area bekas markas kelompok bersenjata yang berada pada wilayah yang sama dengan markas TPNPB-OPM Kodap XII/Lanny Jaya pimpinan Purom Okiman Wenda. Sejumlah warga dari Kampung Toemalo, Kampung Mbu, dan Kampung Wunabunggu sedang mencari serta membakar kelapa hutan di sekitar lokasi, hingga insiden berlangsung.
Setelah laporan diterima, personel kemudian menurunkan langkah penanganan di lapangan dengan melakukan penelusuran kondisi wilayah dan mengidentifikasi informasi dari saksi yang berada di sekitar tempat kejadian. Upaya ini dilakukan agar keterangan yang terkumpul bisa menggambarkan secara runtut apa yang terjadi sebelum ledakan, sekaligus membantu masyarakat terdampak.
Dalam penyampaian keterangannya, Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa saat ledakan terjadi tidak terdapat aktivitas personel TNI di lokasi maupun pada area di sekitarnya. Selain itu, penilaian awal disusun berdasarkan ciri-ciri ledakan dan kondisi tempat, sehingga muncul dugaan bahwa sumber ledakan terkait sisa bahan peledak atau munisi yang tertinggal.
Sampai laporan disampaikan, informasi korban tetap mengerucut pada satu warga yang dilaporkan meninggal, yakni Endite Wea (18 tahun) dari Kampung Mbu. Sementara itu, rangkaian pemeriksaan diarahkan pada kemungkinan adanya peninggalan bahan peledak atau munisi di area tersebut, agar penyebab pasti bisa ditelusuri melalui keterangan saksi dan pengamatan di lokasi.












