jurnalistik.co.id – Kirab Pusaka Dalem di Istana Mangkunegaran ternyata bukan rangkaian tunggal untuk menyambut bulan Suro atau tahun baru Jawa. Usai prosesi, masih ada satu acara lagi yang digelar dalam rangkaian menyambut malam pergantian.
Acara tersebut adalah semadi atau semedi, yang berlangsung di area Pendopo Ageng Mangkunegaran. Kompas.com mencatat bahwa semadi digelar pada Rabu (17/6/2026) pukul 00.00 WIB, tepat setelah Kirab Pusaka Dalem Dalem sebelumnya.
Lokasi semadi berada di tempat yang sama, yakni Pendopo Ageng. Dengan begitu, rangkaian perayaan malam itu tidak berhenti pada kirab, melainkan berlanjut ke suasana yang lebih hening.
Semadi tidak diikuti oleh sebagian besar peserta kirab. Hanya sebagian peserta dan abdi dalem yang masih bertahan untuk mengikuti prosesi semadi hingga selesai.
Dalam prosesi tersebut, tampak pula Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X yang ikut hadir. Kehadiran beliau menjadi salah satu penanda bahwa semadi berlangsung dengan suasana yang khidmat dan tertib.
Prosesi semadi terbilang sederhana dalam tata langkahnya. Peserta diminta datang ke Pendopo Ageng, lalu duduk bersila sebelum rangkaian doa dimulai.
Pengaturan yang dilakukan juga meliputi larangan penggunaan telepon pintar. Peserta diminta untuk mematikan smartphone selama sekitar satu jam selama prosesi semadi berjalan.
Setelah pengantar dari pembawa acara, semadi pun dimulai. Pada tahap ini, suasana perlahan berubah dari aktivitas kirab menjadi ruang berdoa.
Di Pendopo Ageng, lampu kemudian dimatikan sehingga kondisi menjadi gelap. Hanya ada cahaya temaram dari penerangan di tempat lain yang masih menyisakan pandangan terbatas di sekitar lokasi.
Dalam gelap tersebut, peserta melakukan doa bersama sesuai keinginan, kepercayaan, dan keyakinan masing-masing. Dengan pengaturan cahaya yang minim, fokus prosesi diarahkan sepenuhnya pada kegiatan batin.
Suasana yang terbentuk disebut tenang dan hening. Di tengah malam itu, terdengar suara samar dengungan kipas angin untuk menyejukkan udara.
Meskipun kondisi gelap menyelimuti ruang Pendopo Ageng, tidak semua peserta merasakan kecanggungan. Salah satu kesan yang disampaikan menyebut kegelapan dan ketenangan malam membuat proses doa terasa lebih khidmat.
Semadi kemudian berlangsung hingga sekitar pukul 01.00 WIB. Prosesi ditandai dengan menyalanya kembali lampu di Pendapa Ageng setelah rangkaian doa selesai.
Setelah lampu dinyalakan, peserta berangsur meninggalkan lokasi dan kemudian pulang. Dengan berakhirnya semadi sekitar pukul 01.00 WIB, rangkaian perayaan malam 1 Suro di Istana Mangkunegaran kembali menutup pada suasana yang lebih teratur dan tenang.
Setelah Kirab Pusaka Dalem dan prosesi terdahulu berlalu, semadi menjadi penanda bahwa rangkaian malam itu beralih ke ritme yang berbeda. Dari aktivitas yang lebih ramai, perhatian peserta perlahan diarahkan pada tahap yang lebih sunyi, tanpa distraksi dari luar.
Dalam pelaksanaannya, tata cara tampak dijalankan dengan disiplin yang jelas. Peserta mengikuti arahan untuk datang, kemudian bersila dan menunggu doa dimulai. Ketika pembawa acara memulai rangkaian, aturan berlangsungnya semadi juga menuntut ketertiban, termasuk larangan menyalakan telepon pintar.
Ketika lampu di Pendopo Ageng dipadamkan, suasana otomatis berubah menjadi lebih tertutup dan intim. Cahaya yang tersisa hanya memberikan pandangan terbatas di sekitar tempat prosesi, sehingga fokus tidak lagi terpecah pada sekitar, melainkan terserap pada kegiatan batin yang sedang berlangsung.
Prosesi doa bersama berlangsung hingga menjelang pukul 01.00 WIB, kemudian ditutup dengan menyalakan kembali lampu di Pendopo Ageng. Sesudah suasana kembali terang, peserta berangsur meninggalkan lokasi satu per satu. Dengan berakhirnya semadi sekitar pukul 01.00 WIB, rangkaian malam 1 Suro pun kembali merapat ke penutupan yang lebih tertib dan tenang.











