Daerah

Dalam Rangka 1 Suro, Pedagang Pasar Triwindu Solo Bagikan 500 Porsi Jenang Suro Gratis

×

Dalam Rangka 1 Suro, Pedagang Pasar Triwindu Solo Bagikan 500 Porsi Jenang Suro Gratis

Sebarkan artikel ini
Sambut 1 Suro, Pedagang Pasar Triwindu Solo Bagikan 500 Porsi Jenang Suro Gratis Regional 16 Juni 2026
Ilustrasi: Sambut 1 Suro, Pedagang Pasar Triwindu Solo Bagikan 500 Porsi Jenang Suro Gratis

jurnalistik.co.id – Menyambut 1 Suro, sejumlah pedagang Pasar Triwindu di Kota Solo, Jawa Tengah, membagikan 500 porsi jenang Suro gratis pada Selasa (16/6/2026). Pembagian itu dilakukan oleh pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pasar Triwindu.

Jenang Suro dikenal sebagai hidangan bubur gurih khas Jawa yang disajikan dengan berbagai pelengkap (ubarampel) untuk memperingati Tahun Baru Islam, atau Malam 1 Muharram (Suro). Dalam kesempatan itu, tradisi tersebut dipusatkan di area pasar sebagai bagian dari perayaan tahunan.

Ketua Paguyuban Pasar Triwindu, Nur Bramantyo, menyampaikan bahwa pembagian jenang Suro merupakan kegiatan yang rutin dilakukan. Ia menekankan bahwa tradisi itu diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk kebiasaan keluarga yang dahulu menyiapkan jenang lalu dimakan bersama-sama.

Nur mengatakan, “Ini tradisi pasar kami, yaitu jenang suran setiap Suro. Jadi tiap 1 Suro itu kita dulu waktu nenek orang tua kita, itu bikin jenang terus dimakan bersama-sama,” kata Nur di Solo, Selasa (16/6/2026).

Nur juga menyebutkan bahwa pada tahun lalu, pembagian serupa dilakukan sebanyak 300 porsi. Menurutnya, antusiasme pengunjung menjadi alasan utama mengapa jumlah jenang yang dibagikan pada tahun ini ditingkatkan.

Ia menjelaskan, “(Tahun) kemarin saya bikin kayak gini, ternyata ada pengunjung yang ikut antusias. Terus tahun depannya saya target, yang kemarin itu kita bikin nya 150 bisa membengkak 300, terus sekarang saya target 500. Jadi untuk pengunjung lebih banyak. Supaya apa? Mengenalkan Pasar Triwindu juga, juga melestarikan budaya di sini,” jelasnya.

Gotong royong sejak awal persiapan

Selain menyiapkan porsi yang lebih banyak, para pedagang bergotong royong dalam proses memasak. Persiapan dilakukan sejak Senin (15/6/2026), dengan menggunakan dana dari para pedagang.

Nur menuturkan, “Iya tradisi itu dari turun-temurun. Iya, guyub ini dikerjakan dari kemarin. Dari kemarin sampai sekarang ini tadi jam setengah 11 baru selesai jenangnya. Jadi dari kemarin, terus ini tadi pagi, semua ibu-ibu yang mengerjakan, sama pedagang,” terangnya.

Perubahan skema pembagian turut ditekankan dalam keterangan Nur. Ia menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya, jenang Suro dibagikan dari pedagang kepada pedagang.

Namun pada tahun ini, pembagian dilakukan kepada para pengunjung yang datang ke Pasar Triwindu. Nur menyebut bahwa pembagian tersebut tetap gratis, dengan pendanaan berasal dari pedagang sendiri.

Nur mengatakan, “Gratis, iya. Yang dulu itu cuma untuk pedagang, sekarang pedagang dan umum. (Dananya) dari pedagang sendiri,” katanya.

Ia berharap tradisi ini bisa terus berjalan tanpa terputus hingga ke generasi mendatang. Menurutnya, kegiatan pembagian jenang Suro sekaligus menjadi cara untuk mengenalkan Pasar Triwindu agar semakin diketahui masyarakat secara luas.

Di sisi lain, Nur juga menilai kegiatan itu dapat mendorong perputaran ekonomi pedagang. Dengan banyaknya pengunjung yang datang, pasar punya kesempatan lebih besar untuk tetap ramai sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha yang ada di dalamnya.

Dalam penyajiannya, jenang Suro disajikan dengan rasa gurih serta sejumlah pelengkap. Beberapa di antaranya meliputi perkedel, telur, sambel goreng tholo (biji kacang tunggak), dan kedelai hitam, yang membuat hidangan semakin lengkap dan beragam.

Melalui pembagian 500 porsi tersebut, Paguyuban Pasar Triwindu ingin agar perayaan 1 Suro tidak hanya dirayakan sebagai agenda tahunan, tetapi juga dipertahankan sebagai tradisi pasar yang terus hidup di tengah masyarakat.

Dalam rangkaian perayaan 1 Suro, para pedagang menyiapkan jenang dengan keterlibatan banyak pihak agar proses berjalan lancar. Waktu persiapan yang dilakukan sejak awal juga bertujuan memastikan jumlah porsi sesuai target yang disepakati.

Pembagian jenang Suro yang kini menyasar pengunjung dipandang sebagai bentuk keterbukaan tradisi pasar kepada masyarakat yang lebih luas. Nur menegaskan langkah ini sekaligus menjadi upaya agar Pasar Triwindu semakin dikenal, tidak hanya sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya.

Dari sisi rasa dan penyajian, jenang tidak datang sendirian karena dilengkapi berbagai ubarampel yang disebutkan dalam keterangan, sehingga pengalaman makan bersama menjadi lebih beragam. Dengan meningkatnya antusiasme sejak tahun sebelumnya, kegiatan ini diharapkan dapat menjaga pasar tetap hidup dan mendorong roda usaha tetap berputar.