jurnalistik.co.id – Harapan Nur Ningsih (48) berharap anaknya bisa melanjutkan pendidikan di SMP Negeri yang paling dekat dengan tempat tinggalnya di Samarinda. Namun, dua kali upaya dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) berujung penolakan. Hasilnya, anaknya akhirnya diterima di sekolah negeri lain, tetapi jaraknya mencapai 7,8 kilometer.
Nur bekerja sebagai pekerja serabutan dan menempatkan pendidikan sebagai jalan penting untuk masa depan keluarganya. Ia mendaftarkan anaknya melalui jalur afirmasi terlebih dahulu. Di tahap ini, permohonan justru dinyatakan ditolak.
Penolakan karena skema dan kuota
Nur menyampaikan penolakan pertama terjadi karena status desil anaknya. Ia mengutip alasan yang diterima saat proses seleksi berlangsung. “Pertama jalur afirmasi ditolak karena desil 5. Habis itu daftar lagi jalur domisili ditolak juga. Karena kuotanya penuh,” kata Nur saat ditemui di Gedung DPRD Samarinda, Rabu (01/07/2026).
Setelah afirmasi kandas, Nur kembali mencoba lewat jalur domisili. Ia berharap jalur ini bisa menjadi solusi karena berkaitan dengan wilayah tempat tinggal. Namun, kesempatan kedua tersebut juga tidak berjalan mulus.
Penolakan pada jalur domisili, menurut Nur, terjadi lantaran kuota dinyatakan sudah penuh. Ia menilai kondisi tersebut membuat rencana awal keluarga tidak bisa dipertahankan. Pada titik ini, sekolah yang ia targetkan tetap menjadi pilihan utama, tetapi proses administrasi tidak memberi ruang.
Nur memilih SMP Negeri di wilayah Palaran karena, menurut pengamatannya, hanya ada satu SMP negeri yang berada di kawasan tersebut. Sekolah itu juga dianggap dekat dengan rumahnya di Kelurahan Rawa Makmur. Karena itu, Nur berupaya agar anaknya masuk ke sekolah yang berada dalam radius paling terjangkau.
Ketika gagal diterima, sistem hanya memberikan notifikasi untuk mendaftar ke sekolah lain tanpa penjelasan atau langkah lanjutan yang memadai. Nur mengatakan respons yang ia dapatkan tidak disertai jalan keluar yang bisa langsung diakses keluarga. “Cuma ada notifikasi suruh pindah sekolah saja,” ujarnya.
Nur lalu mencoba meminta bantuan pihak sekolah agar proses pendaftaran dapat dibantu secara langsung. Ia sempat datang ke SMP yang dimaksud untuk mencari kemungkinan pendampingan. Namun, ia menyebut petugas meminta seluruh proses dilakukan daring dari rumah. “Saya datang ke SMP, tapi karena harus online, bilangnya harus dari rumah. Pihak sekolah enggak mengizinkan saya masuk untuk membantu pendaftaran secara online,” katanya.
Meski mencoba beberapa opsi lain di wilayah Samarinda Seberang, akhirnya anak Nur diterima di SMP Negeri melalui jalur domisili. Meski diterima, jarak yang harus ditempuh menjadi persoalan tersendiri bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Nur menuturkan, jarak itu tidak dekat seperti yang diharapkan sejak awal. “Jauh. Sekitar 7,8 kilometer,” ujar Nur.
Persoalan ini kemudian ikut mendapat perhatian melalui laporan yang disampaikan ke DPRD Samarinda. Ketua Tim Respon Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA), Rina Zainun, menyebut pihaknya pada Rabu menyerahkan puluhan laporan masyarakat terkait problem SPMB. “Hari ini kami menyerahkan bukti-bukti beberapa calon siswa yang tidak diterima di sekolah. Ada yang sudah mendaftar sampai sembilan sekolah tetap ditolak,” ungkap Rina saat diwawancarai di DPRD Kota Samarinda.
Rina menjelaskan dari lebih dari 100 laporan yang diterima, baru sebagian yang sudah dilengkapi dokumen sehingga bisa disampaikan lebih dulu. Ia menyampaikan angka dan fokus tindak lanjut yang akan dilakukan oleh pihaknya. “Yang sudah melengkapi ada 32. Hari ini kita fokus SMP dulu. Nanti kalau sudah selesai baru SMA,” ujarnya.
Kisah Nur dan sejumlah laporan lain yang disampaikan TRC PPA menunjukkan bahwa penentuan penerimaan dalam skema SPMB tidak hanya soal administrasi, tetapi juga berdampak pada akses pendidikan yang selama ini diupayakan dekat dengan domisili. Ketika afirmasi dan domisili tidak menghasilkan penerimaan di sekolah terdekat, keluarga harus menghadapi konsekuensi jarak yang nyata. Pada akhirnya, harapan yang semula diarahkan ke sekolah paling dekat justru bergeser ke rute yang lebih panjang, hingga 7,8 kilometer.












