Pendidikan

Golkar: Pelibatan Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Jangan Sampai Terbaca Nuansa Militer di Kelas

×

Golkar: Pelibatan Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Jangan Sampai Terbaca Nuansa Militer di Kelas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Taruna Akmil Latih Siswa Sekolah Rakyat, Golkar: Jangan Sampai Ada Kesan Militerisme di Kelas

jurnalistik.co.id – Anggota Komisi VIII DPR Fraksi Golkar, Sandi Fitrian Noor, menyatakan pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) di Sekolah Rakyat bertujuan menumbuhkan kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, nasionalisme, serta semangat cinta Tanah Air.

Ia menilai niat kebijakan tersebut pada dasarnya sejalan dengan upaya membangun karakter generasi muda. Namun, Sandi menekankan agar publik tidak menafsirkan program itu sebagai pengantar pendekatan militer ke ruang pendidikan.

Menurut Sandi, pendidikan karakter harus tetap berada dalam koridor pedagogi yang humanis dan berorientasi pada tumbuh kembang peserta didik. Ia mengingatkan pemerintah agar transformasi yang dilakukan berfokus pada nilai positif, bukan pada kultur militer.

Saya melihat niat pemerintah sangat baik. Kita semua ingin melahirkan generasi muda yang disiplin, berintegritas, memiliki semangat kebangsaan, serta bertanggung jawab. Namun, pendidikan karakter harus tetap berada dalam koridor pedagogi yang humanis. Jangan sampai publik menangkap kesan bahwa sekolah menjadi ruang militerisasi. Yang harus ditransformasikan adalah nilai-nilai positifnya, bukan kultur militernya,” ujar Sandi kepada wartawan, Rabu (1/7/2026).

Dalam pandangannya, Komisi VIII berkepentingan memastikan seluruh kebijakan Sekolah Rakyat benar-benar berpijak pada kepentingan terbaik anak. Ia juga menyoroti kondisi mayoritas siswa yang berasal dari keluarga miskin dan rentan.

Karena itu, Sandi menilai lingkungan pendidikan perlu dibuat aman, suportif, inklusif, dan mampu memulihkan rasa percaya diri peserta didik. Ia menilai pendekatan yang tepat akan menentukan apakah program karakter tersebut benar-benar memberi manfaat.

Sandi menyampaikan rujukan dari berbagai penelitian internasional, termasuk PISA (Program Internasional Student Assesment) dan OECD (Organization Economiy Cooperation Development). Ia menilai pembentukan karakter peserta didik akan lebih efektif bila dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, penguatan budaya sekolah, serta hubungan positif antara pendidik dan peserta didik.

Dengan dasar itu, ia menilai pembentukan karakter tidak dapat hanya mengandalkan latihan kedisiplinan dalam waktu singkat. Program semacam itu, menurutnya, harus berjalan sebagai proses pendidikan yang berkelanjutan agar nilai yang ditanamkan benar-benar mengakar.

Disiplin memang penting, tetapi disiplin bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Disiplin harus lahir dari kesadaran, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi roh pembinaan di Sekolah Rakyat,” tuturnya.

Selain itu, Sandi menilai Taruna Akmil memiliki beragam nilai yang bisa diteladani. Ia menyebut integritas, kepemimpinan, kerja sama tim, semangat pengabdian kepada bangsa, ketangguhan mental, dan kedisiplinan sebagai contoh nilai yang dapat ditransfer dalam pembinaan karakter.

Meski demikian, ia meminta peran taruna tersebut ditempatkan sebagai mentor karakter dan teladan kepemimpinan. Sandi menegaskan agar mereka tidak bertindak sebagai instruktur yang menggunakan pola pembinaan khas pendidikan militer.

Ia juga mengingatkan dasar hukum yang mengatur perlindungan anak. Sandi menyebut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang bebas dari kekerasan fisik maupun psikis.

Dengan rujukan tersebut, Sandi menilai seluruh bentuk pembinaan di Sekolah Rakyat harus mengedepankan pendekatan edukatif, persuasif, dan menghormati tumbuh kembang peserta didik. Ia menekankan bahwa cara pembinaan perlu menjaga agar anak tidak mengalami tekanan atau perlakuan yang berpotensi menimbulkan kekerasan.

Modul berbasis ilmu pendidikan dan kolaborasi lintas pihak

Sandi menyarankan Kemensos dan Kemendikdasmen menyusun modul pendidikan karakter yang berbasis ilmu pendidikan dan psikologi perkembangan anak. Modul tersebut, menurutnya, juga harus memasukkan nilai-nilai Pancasila agar dapat menjadi acuan bersama dalam proses pembinaan.

Ia juga meminta agar pelaksanaan program pendidikan karakter siswa Sekolah Rakyat melibatkan guru, kepala sekolah, psikolog, pekerja sosial, konselor, tokoh masyarakat, dan orang tua. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak akan membuat pembentukan karakter berlangsung secara kolaboratif, bukan bergantung pada satu model pembinaan saja.

Dengan pendekatan yang humanis, berkelanjutan, dan selaras dengan perlindungan anak, Sandi berharap nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan melalui kehadiran taruna Akmil dapat diterjemahkan tanpa memunculkan kesan militerisasi di lingkungan sekolah.