Bisnis & Ekonomi

Sinyal Damai AS-Iran Dorong Bursa Saham Global Cetak Rekor Baru

0
×

Sinyal Damai AS-Iran Dorong Bursa Saham Global Cetak Rekor Baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sinyal Damai AS-Iran Cetak Rekor Baru Bursa Saham Global - Market

jurnalistik.co.id – Bursa saham global melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan awal pekan, sementara harga minyak mentah dunia merosot tajam. Pergerakan itu dipicu sinyal kuat dari para pejabat bahwa Amerika Serikat kian dekat menuju kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan pasokan minyak mentah. Di saat yang sama, dolar AS juga terpantau melemah.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 1%, sedangkan Nasdaq 100 melonjak 1,4%. Perdagangan di pasar spot keuangan AS sendiri tutup pada Senin (25/5) karena peringatan Memorial Day. Adapun dolar AS melemah terhadap seluruh mata uang utama negara-negara G-10.

Di pasar ekuitas global, Indeks Dunia MSCI All Country—tolok ukur terluas untuk saham global—naik 0,5% dan menutup perdagangan di level tertinggi sepanjang sejarah. Di Eropa, indeks Stoxx 600 menguat selama enam sesi berturut-turut dan ditutup pada level tertinggi sejak perang Iran. Volume perdagangan juga cenderung sepi karena sejumlah pasar utama seperti Inggris, Swiss, Norwegia, dan Denmark sedang libur nasional.

Optimisme damai dorong harga minyak turun tajam

Harga minyak mentah WTI turun lebih dari 6% ke kisaran US$90 per barel. Pelemahan itu mencerminkan optimisme bahwa kesepakatan antara AS dan Iran akan membantu memulihkan arus minyak melalui jalur penting di Timur Tengah tersebut. Pasar menilai pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memberi dampak besar terhadap pasokan global yang selama ini sensitif terhadap setiap eskalasi geopolitik di kawasan itu.

Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan bahwa negosiasi dengan Iran “berjalan dengan baik.” Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa ruang menuju kesepakatan masih terbuka dan dapat meredakan ketegangan yang membayangi jalur distribusi energi global. Sinyal ini menjadi salah satu pemicu utama mengapa investor kembali masuk ke aset berisiko, sementara minyak bergerak berlawanan arah.

Di sisi lain, delegasi Iran diketahui melakukan perjalanan ke Doha untuk berkonsultasi dengan pejabat senior Qatar terkait pembicaraan tersebut. Pertemuan itu juga mencakup diskusi mengenai pencairan dana Iran yang dibekukan. Kombinasi kabar diplomatik dan prospek pasokan minyak yang lebih lancar membuat sentimen pasar membaik, terutama di ekuitas dan aset sensitif risiko lainnya.

Pergerakan serempak di saham, minyak, dan dolar AS pada awal pekan ini menunjukkan betapa cepat pasar merespons perkembangan diplomatik di Timur Tengah. Ketika peluang kesepakatan dinilai makin besar, saham global menguat, minyak terkoreksi, dan dolar melemah. Kondisi ini sekaligus menandai perubahan nada investor dari mode hati-hati ke arah yang lebih optimistis, setidaknya untuk sementara waktu.

Meski euforia di pasar saham terlihat jelas, respons investor tetap dibaca sebagai reaksi cepat terhadap kemungkinan meredanya risiko geopolitik, bukan perubahan fundamental yang sudah sepenuhnya pasti. Karena itu, kenaikan indeks saham dan pelemahan minyak lebih tepat dipandang sebagai penyesuaian sentimen yang mengikuti berita diplomatik terbaru. Pasar tampaknya sedang memberi harga pada skenario yang lebih tenang, meskipun arah pembicaraan masih bergantung pada proses negosiasi.

Situasi tersebut juga memperlihatkan bagaimana aset-aset utama bergerak saling berlawanan ketika ekspektasi terhadap pasokan energi membaik. Saat minyak turun tajam, tekanan pada mata uang dan pasar saham ikut berubah karena investor cenderung kembali ke aset berisiko. Di saat yang sama, melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama G-10 menambah gambaran bahwa arus transaksi awal pekan lebih condong pada pencarian risiko ketimbang perlindungan diri.

Di Eropa, reli yang sudah berlangsung beberapa sesi menunjukkan bahwa sentimen positif tidak hanya terkonsentrasi di Amerika Serikat, melainkan juga menjalar ke pasar lain yang ikut mencermati perkembangan di Timur Tengah. Namun, karena volume perdagangan relatif tipis akibat libur nasional di sejumlah negara, pergerakan itu tetap perlu dibaca dengan hati-hati. Dalam kondisi seperti ini, perubahan kecil pada kabar diplomatik dapat menghasilkan dampak yang besar pada harga saham, minyak, dan dolar dalam waktu singkat.