Bisnis & Ekonomi

Biaya Sekolah Terus Melonjak: Susun Tabungan Anak Sejak TK hingga Kuliah

×

Biaya Sekolah Terus Melonjak: Susun Tabungan Anak Sejak TK hingga Kuliah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Biaya Sekolah Kian Mahal, Simak Cara Siapkan Tabungan Anak

jurnalistik.co.id – Di pertengahan tahun ajaran, orang tua biasanya mulai bersiap menghadapi gelombang kewajiban biaya sekolah. Pada periode sekitar Juni hingga Juli, berbagai komponen pengeluaran kerap datang bersamaan sehingga tekanan pada pos pengeluaran meningkat.

Dalam kondisi seperti ini, perencanaan keuangan untuk pendidikan anak tidak bisa dikerjakan secara dadakan. Orang tua perlu memastikan bahwa dana pendidikan tersedia tepat waktu, tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain atau bahkan mengambil utang ketika anak memasuki jenjang yang lebih mahal.

Certified Financial Planner Annisa Steviani menilai biaya pendidikan cenderung naik dari tahun ke tahun dan kerap melampaui pertumbuhan gaji tahunan. Ia mengingatkan bahwa banyak keluarga baru memikirkan kebutuhan pendidikan ketika anak sudah berada pada usia sekolah, padahal momentum perencanaan idealnya lebih awal.

“Banyak orang tua baru mulai memikirkan dana pendidikan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Padahal, perencanaan idealnya dimulai sejak anak masih dalam kandungan atau sejak lahir. Semakin cepat dimulai, semakin ringan langkahnya,” ujar Annisa dalam keterangan tertulis.

Menurut Annisa, kenaikan biaya kuliah rata-rata mencapai 6,03 persen per tahun. Sementara itu, kenaikan gaji tahunan rata-rata hanya berkisar 3 persen.

Kesenjangan antara laju kenaikan biaya pendidikan dan pertumbuhan pendapatan inilah yang membuat keluarga rentan menghadapi masalah arus kas. Tanpa perencanaan matang, Annisa menekankan risiko orang tua terpaksa mengalihkan kebutuhan lain, atau berutang saat anak masuk usia perguruan tinggi.

Karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi kembali proyeksi kebutuhan biaya sekolah sesuai kondisi keuangan terkini. Orang tua juga dapat menyesuaikan strategi menabung dengan ritme pengeluaran yang biasanya menumpuk pada pergantian tahun pelajaran.

Selain menabung secara rutin, momen khusus dapat dimanfaatkan untuk memperkuat alokasi dana pendidikan. Annisa menyebut tunjangan hari raya (THR) dan bonus tahunan dapat dibuka atau ditambah menjadi porsi dana khusus untuk pendidikan anak.

Langkah praktis menyusun tabungan anak

Perencanaan sebaiknya dimulai dari pemetaan kebutuhan yang nyata, bukan perkiraan umum. Annisa menyarankan orang tua melakukan survei terhadap sekolah yang diinginkan untuk mengetahui kisaran biaya masuk dan SPP, dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.

Dalam praktiknya, rencana pembiayaan tidak berhenti pada pilihan pertama saja. Orang tua perlu menyiapkan alternatif atau plan B dan C apabila anak tidak diterima di sekolah yang menjadi target utama, lengkap dengan simulasi biaya yang berbeda.

Supaya gambaran biaya lebih terukur, orang tua juga disarankan membuat perencanaan terstruktur. Pencatatan estimasi biaya per jenjang beserta proyeksi kenaikannya akan membantu keluarga melihat angka yang lebih realistis dari waktu ke waktu.

Annisa turut mengingatkan agar orang tua mempertimbangkan jarak kelahiran anak. Tujuannya agar timeline pendidikan anak pertama dan berikutnya tidak bertumpuk pada periode yang sama, sehingga beban biaya bisa dikelola dengan lebih baik.

Mitigasi risiko agar rencana tetap jalan

Perencanaan pendidikan tidak semata-mata soal menabung. Annisa menegaskan pentingnya memikirkan risiko yang bisa mengganggu rencana, misalnya anak jatuh sakit atau adanya risiko meninggal dunia yang memengaruhi pencari nafkah utama.

Jika pencari nafkah utama mengalami risiko, maka dana pendidikan anak bisa ikut terdampak. Karena itu, orang tua perlu menyiapkan skenario agar rencana keuangan tetap berfungsi saat kondisi berubah.

“Perencanaan pendidikan bukan hanya soal menabung. Orang tua juga perlu memikirkan risiko yang bisa mengganggu rencana, seperti sakit atau risiko meninggal dunia. Jika pencari nafkah utama mengalami risiko, maka dana pendidikan anak bisa ikut terdampak,” jelas Annisa.

Gambaran besarnya biaya pendidikan turut memperkuat alasan perencanaan sejak dini. Berdasarkan publikasi Statistik Penunjang Pendidikan 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata biaya pendidikan pada jenjang sekolah dasar (SD) sederajat mencapai Rp 4,56 juta per tahun ajaran.

Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat pada jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) sederajat. Rata-rata biayanya mencapai Rp 10,19 juta per tahun ajaran.

Data ini menunjukkan pendidikan adalah kebutuhan jangka panjang yang membutuhkan strategi keuangan berlapis. Dengan melihat proyeksi biaya, memanfaatkan momen pendapatan seperti THR dan bonus tahunan, serta menyiapkan alternatif apabila pilihan sekolah tidak berjalan, keluarga dapat mengurangi peluang menghadapi keterkejutan pengeluaran.

Pada akhirnya, kemampuan menjaga rencana pendidikan anak akan sangat bergantung pada konsistensi tabungan dan ketepatan perhitungan. Saat biaya terus naik dan jadwal pembayaran menumpuk di pergantian tahun pelajaran, perencanaan sejak awal memberi ruang bernapas yang lebih aman bagi keluarga.

Dengan pendekatan yang lebih terstruktur—mulai dari survei biaya, rencana B dan C, pencatatan proyeksi kenaikan, hingga pertimbangan jarak kelahiran—orang tua dapat mengarahkan tabungan anak agar siap menghadapi jenjang berikutnya. Rencana yang demikian juga lebih tangguh karena tidak hanya fokus pada angka biaya, tetapi sekaligus mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi.