Hukum & Kriminal

Pencegahan Pencabulan Anak Berawal dari Rumah, Sekolah, dan Lingkungan: Dengarkan Cerita Korban

×

Pencegahan Pencabulan Anak Berawal dari Rumah, Sekolah, dan Lingkungan: Dengarkan Cerita Korban

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cegah Pencabulan Anak Dimulai dari Rumah, Sekolah, hingga Lingkungan: Mulailah Mendengarkan Korban

jurnalistik.co.id – Maraknya kasus pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa penanganannya tidak bisa berhenti pada penegakan hukum semata. Pencegahan perlu dibangun bersama, dimulai dari tempat anak tumbuh dan berinteraksi setiap hari.

Surabaya menjadi salah satu wilayah yang ikut menegaskan urgensi pendekatan menyeluruh tersebut. Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Rafi Aufa Mawardi, menilai kepedulian kolektif merupakan kunci untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.

Dalam pandangannya, persoalan tidak berdiri sendiri. Ada pola sosial yang saling terkait sehingga pencegahan harus menyasar hubungan, pengawasan, dan keberanian korban untuk bersuara.

Rafi menjelaskan kerangka pemahamannya melalui tiga hal yang “melekat” dalam konteks relasi sosial. Ia menyampaikan, “Saya memandang ada 3 hal yang sangat melekat pertama adalah dalam konteks relasi kuasa ada hubungan simetris,”

Menurut Rafi, yang kedua berkaitan dengan lemahnya kontrol sosial. Ia menambahkan, “Kedua adalah konteks lemahnya kontrol sosial bagaimana institusi tidak mengamati praktik ini secara lebih kondusif.”

Selanjutnya, ia juga menyoroti adanya budaya yang membuat korban terlanjur memilih diam. “Ketiga adalah adanya budaya mendiamkan, korban takut bersuara,” ujarnya.

Rafi melihat tiga unsur itu sebagai bagian dari proses yang membentuk bagaimana kekerasan bisa terjadi dan bertahan. Ia menegaskan, “Nah masyarakat harusnya aware terhadap kaya gini ya karena tiga hal ini ya sangat urgent dalam konteks proses terhadap pencabulan terhadap anak tadi.”

Ia juga menambahkan bahwa pencegahan perlu ditopang kesadaran kelembagaan. “Karena itu sebenarnya penting karena secara sosiologi institusi atau struktur sangat signifikan sekali dalam membentuk norma, nilai, perilaku dan behavior dalam masyarakat,” sambungnya.

Dengan kerangka tersebut, perlindungan anak tidak cukup didekati sebagai isu individual semata. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial memiliki peran yang sama pentingnya untuk membentuk batasan dan kebiasaan yang aman bagi anak.

Rafi menekankan bahwa rumah merupakan titik awal yang menentukan. Rumah seharusnya menjadi tempat pertama yang mengajarkan anak mengenali batasan tubuh, memahami perilaku yang tidak pantas, sekaligus menyediakan ruang aman untuk bercerita.

Ia menyebut kualitas relasi di dalam rumah dapat menjadi faktor pencegahan. “Ketika strukturnya bagus itu dapat mencegah praktik-praktik anomali seperti pencabulan dan kekerasan itu dapat direduksi secara maksimal,” tutur Rafi Aufa Mawardi.

Dalam situasi seperti itu, anak tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga memperoleh dialog yang membuatnya merasa didengar. Bagi Rafi, kehadiran ruang dialog ikut menentukan apakah anak berani menyampaikan sesuatu yang dirasakannya janggal.

Ia kemudian merinci peran keluarga sebagai institusi mikro. “Peran dari institusi mikro yaitu keluarga karena agen sosialisasi paling awal yang dapat mendeteksi dan memberikan internalisasi nilai.”

Rafi menambahkan bahwa proses internalisasi nilai membantu anak memahami perlakuan yang menyimpang. “Sehingga ketika mendapatkan perlakuan anak memahami mendapatkan perlakuan janggal dari orang lain adalah bentuk dari pencabulan, kekerasan atau lain sebagainya,” katanya.

Menurut Rafi, kesempatan anak untuk berbagi tanpa takut juga menjadi bagian dari perlindungan diri. “Menjadi platform dialog yang mendengarkan ketika anak ingin curhat tidak takut dimarahi dan lain-lain gitu ya,” imbuhnya.

Selain keluarga, Rafi menilai sekolah memikul tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran anak. Sekolah, baginya, perlu membekali anak dengan edukasi perlindungan diri agar anak mengenali tanda bahaya dan tahu langkah yang harus diambil ketika mengalami atau melihat perilaku yang tidak pantas.

Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan akademik. Sekolah juga menjadi ruang pembelajaran sosial untuk memperkuat nilai, membangun kewaspadaan, dan menumbuhkan keberanian agar persoalan tidak terkubur dalam ketakutan.

Rafi memandang upaya semacam itu selaras dengan gagasan bahwa struktur dan institusi membentuk norma serta perilaku. Ketika ketiga lapisan—rumah, sekolah, dan lingkungan sosial—bergerak bersama, pencegahan bisa lebih realistis dan efektif dalam jangka panjang.