jurnalistik.co.id – Warga di Kramat Jati, Jakarta Timur, menyatakan persetujuan atas rencana mengubah lahan TPS liar di lingkungan permukiman mereka menjadi waduk. Menurut mereka, perubahan fungsi lahan itu diharapkan dapat menekan risiko banjir di wilayah tersebut.
Rencana tersebut mendapat dukungan dari warga RT 13/RW 03, Kelurahan Dukuh. Mereka menilai keberadaan waduk dapat membantu mengembalikan fungsi lahan sebagai kawasan resapan sekaligus tampungan air saat hujan deras.
Persetujuan ketua RT dan harapan fungsi resapan
Ketua RT 13/RW 03 Kelurahan Dukuh, Yuli (54), menyetujui agar lahan yang selama ini dijadikan TPS liar dikembalikan ke fungsi semula. Yuli menyampaikan hal tersebut saat ditemui di rumahnya di Jalan Penggilingan Baru, Kelurahan Dukuh, pada Rabu (5/8/2026).
“Oh, setuju banget (dibuat waduk ), apalagi ini daerah banjir,” ujar Yuli. Ia menilai wilayah yang kerap dilanda banjir membutuhkan ruang tampungan agar air tidak meluap pada musim hujan.
Dalam pandangannya, waduk nantinya tidak hanya menjadi tempat penampungan, tetapi juga berperan sebagai daerah resapan. Harapan itu ia nyatakan agar air hujan dapat dikelola lebih baik ketika curah hujan tinggi terjadi dalam waktu singkat.
Selain dukungan atas rencana waduk, Yuli juga menekankan agar pemerintah menghentikan pembuangan sampah ilegal di lokasi tersebut. Ia meminta penataan ulang dilakukan secara jelas sehingga lahan kembali sesuai peruntukannya.
“Dipetakan lagi untuk ini (TPS liar) tidak ada. Stop pembuangan sampah liar di situ ya. Karena warga sini tidak pernah buang di situ. Kita punya TPS sendiri,” ucap Yuli.
Dari rawa menjadi timbunan sampah
Berita Terkait
Warga lainnya, Yaya, menyampaikan bahwa kawasan itu pada awalnya merupakan rawa yang berfungsi menampung air ketika banjir datang. Ia menuturkan, seiring waktu lahan berubah karena adanya penimbunan puing dan sampah yang membuat permukaan lahan semakin luas.
“(Dulunya) rawa, lahan kosong. Kalau itu kan ada banjir kan itu, banjir selalu menampung air ke situ,” ujar Yaya saat ditemui di sekitar TPS liar. Yaya mengatakan pelebaran timbunan terjadi secara bertahap, sehingga warga tidak menyangka lokasi yang awalnya seperti lahan kosong kemudian berkembang menjadi area penumpukan sampah.
Ia menjelaskan bahwa proses pembuangan dilakukan perlahan, sehingga perubahan di lokasi berlangsung dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat dampak semakin terasa ketika air dan penumpukan material bertemu pada saat terjadi hujan atau situasi banjir.
Yaya juga mengaitkan persoalan tersebut dengan kebutuhan warga terhadap pengelolaan lahan yang lebih tepat. Dengan waduk, warga berharap fungsi tampungan dan resapan dapat kembali berjalan sebagaimana yang mereka pahami dari kondisi lahan pada masa sebelumnya.
Warga yang terkejut sejak Pemilu 2024
Sementara itu, Satria (36) mengungkapkan bahwa pada masa Pemilu 2024, lokasi tersebut masih berupa area hijau. Ia menyatakan kemunculan TPS liar membuat warga terkejut karena lahan yang terlihat sebelumnya tidak menunjukkan tanda penumpukan sampah.
“Itu belum ada (gunungan sampah). Sama sekali belum ada. Bener-bener masih hijau, masih rawa,” kata Satria. Ia menilai perubahan kondisi lahan terjadi kemudian, hingga akhirnya aktivitas pembuangan sampah illegal berkembang di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Menurut Satria, warga telah berupaya melaporkan aktivitas pembuangan sampah melalui pengurus wilayah. Ia juga menyebut pelaporan dilakukan melalui aplikasi JAKI, namun upaya tersebut tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Dalam konteks dukungan terhadap rencana waduk, Satria menempatkan persetujuan tersebut sebagai respons atas kondisi yang dirasakan warga. Perubahan fungsi lahan diharapkan menjadi langkah untuk menghentikan pola pembuangan ilegal dan mengembalikan kawasan agar lebih sesuai kebutuhan pengelolaan air.
Secara keseluruhan, dukungan warga RT 13/RW 03 Kelurahan Dukuh mengarah pada dua poin utama: pengembalian lahan TPS liar menjadi waduk serta penghentian pembuangan sampah ilegal agar lokasi tidak kembali dipakai untuk kegiatan serupa. Mereka berharap rancangan itu dapat membantu pengelolaan air di area yang dinilai sering terdampak banjir.












