Bisnis & Ekonomi

Rupiah Offshore Nyaris Rp17.900/US$, Mengapa Jadi yang Paling Bergejolak di Asia?

0
×

Rupiah Offshore Nyaris Rp17.900/US$, Mengapa Jadi yang Paling Bergejolak di Asia?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Offshore Hampir Rp17.900/US$, Mengapa Paling Liar di Asia? - Market

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Pergerakan rupiah di luar negeri kembali menjadi sorotan setelah nilainya nyaris menyentuh Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan tadi malam waktu Indonesia, ketika pasar domestik tengah libur memperingati Idul Adha. Pada saat yang sama, rupiah offshore justru menjadi salah satu mata uang yang paling menyita perhatian pelaku pasar karena volatilitasnya yang terlihat lebih besar dibanding sejumlah mata uang Asia lain yang sudah aktif diperdagangkan.

Melansir data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh Rp17.892/US$ pada sesi perdagangan di luar negeri pada 23.59 WIB. Setelah itu, rupiah berhasil ditutup di level Rp17.886/US$, atau melemah 0,25%.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi saat pasar domestik buka, tetapi juga berlanjut di luar negeri saat transaksi masih berlangsung di pasar offshore. Dalam konteks itu, level Rp17.900/US$ menjadi batas psikologis yang kembali mendekat, meski akhirnya belum benar-benar ditembus pada penutupan sesi.

Pada hari ini, 28/5/2026, rupiah di pasar Non-Deliverable Forward atau NDF dibuka stagnan. Namun, mata uang ini kemudian bergerak sedikit menguat 0,22% dan berada di posisi Rp17.846/US$ pada pukul 06.02 WIB.

Perubahan kecil tersebut memperlihatkan bahwa arah rupiah masih bergerak dinamis dalam perdagangan luar negeri. Walau sempat melemah tajam pada sesi sebelumnya, rupiah tetap menunjukkan adanya ruang pergerakan yang cepat ketika pasar Asia mulai dibuka bertahap.

Pergerakan mata uang Asia masih beragam

Di sisi lain, mata uang kawasan Asia pada pasar yang sudah buka bergerak campuran dan belum menunjukkan arah yang terlalu kuat. Pada 06.06 WIB, yuan offshore menguat terbatas 0,03%, disusul yen Jepang yang naik tipis 0,01%. Sebaliknya, dolar Singapura melemah tipis 0,01%.

Beberapa menit kemudian, arah itu kembali berubah. Pada 06.50 WIB, yen Jepang justru sedikit melemah 0,02%, sementara dolar Singapura menyusut 0,02%. Perubahan yang cepat ini menggambarkan bahwa pasar mata uang Asia masih bergerak dalam rentang yang fluktuatif, meski belum menunjukkan gejolak yang seragam di seluruh kawasan.

Dalam situasi seperti ini, rupiah offshore tampak menjadi salah satu yang paling menonjol karena sempat berada sangat dekat dengan Rp17.900/US$. Angka itu muncul saat perdagangan domestik sedang tidak aktif, sehingga penyesuaian harga lebih banyak terbentuk di pasar luar negeri.

Rangkaian pergerakan tersebut juga menegaskan bahwa rupiah masih berada dalam fase yang sensitif terhadap sentimen pasar internasional. Saat mata uang Asia lain bergerak terbatas dan bergantian menguat serta melemah tipis, rupiah offshore justru mencatat rentang pergerakan yang lebih lebar dalam waktu singkat.

Dengan penutupan di Rp17.886/US$ pada perdagangan tadi malam dan pembukaan NDF yang sempat stagnan sebelum bergerak menguat ke Rp17.846/US$, rupiah kembali menunjukkan volatilitas yang patut dicermati. Bagi pelaku pasar, pergerakan di sesi offshore ini menjadi salah satu petunjuk awal arah rupiah ketika perdagangan domestik kembali aktif.

Di tengah kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung akan mencermati apakah tekanan pada rupiah offshore berlanjut atau justru mereda ketika aktivitas perdagangan kembali normal. Kedekatan kurs ke area Rp17.900/US$ membuat pasar memiliki patokan baru untuk menilai seberapa jauh sentimen eksternal masih menekan nilai tukar.

Selama perdagangan domestik belum sepenuhnya aktif, pergerakan di pasar luar negeri sering menjadi gambaran awal yang dibaca lebih dulu oleh pelaku pasar. Karena itu, perubahan kecil pada sesi NDF maupun offshore tetap penting, sebab arah yang terbentuk di sana kerap dipakai sebagai referensi sebelum pasar dalam negeri menentukan posisi berikutnya.

Di saat mata uang Asia lain masih bergerak naik-turun dalam kisaran terbatas, rupiah berada dalam sorotan yang lebih besar karena fluktuasinya terlihat lebih menonjol. Situasi ini membuat pasar menunggu apakah rupiah bisa bertahan di bawah level yang sempat disentuh tadi malam, atau kembali menguji area psikologis tersebut pada sesi berikutnya.