jurnalistik.co.id – Tadej Pogacar, juara Tour de France lima kali, memastikan akan turun di Vuelta a Espana bulan ini. Ia menempatkan start di Spanyol sebagai jalan untuk mengejar trofi ketiga sekaligus dalam rangkaian Grand Tour.
Rider Slovenia dari UAE Team Emirates-XRG itu akan bersaing di balapan tiga pekan yang menjadi salah satu sorotan utama kalender. Vuelta edisi tahun ini ia jadikan target besar, setelah gelar Tour de France terbaru membuat namanya kembali masuk jajaran sejarah balap sepeda.
Pogacar tampil sebagai pengoleksi kemenangan Tour de France terbanyak dengan jumlah yang sama seperti Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain. Selain itu, pencapaian tersebut membuatnya punya peluang mempertebal warisan sekaligus membuka kesempatan meraih treble Grand Tour.
Peluang itu makin menguat karena Pogacar sudah pernah merasakan sukses di kompetisi-kompetisi utama. Ia memenangkan Giro d’Italia 2024 dengan keunggulan mendekati 10 menit, dan jika mampu menjuarai Vuelta, ia akan menjadi pembalap kesembilan dalam sejarah yang berhasil meraih kemenangan di ketiga Grand Tour.
Catatan Pogacar di Vuelta bukanlah debut. Saat masih belia, ia pernah mengakhiri Tour of Spain di posisi ketiga pada 2019, sebuah pengalaman yang kelak ia jadikan referensi saat kembali ke La Vuelta.
“Saya excited untuk mengatakan bahwa saya kembali ke La Vuelta,” ujar Pogacar. Ia menambahkan bahwa Vuelta merupakan Grand Tour pertamanya pada 2019 dan menjadi pengalaman yang menurutnya luar biasa.
Pogacar juga menyebut Spanyol sebagai negara yang ia sukai untuk dikunjungi dan untuk berkompetisi. Menurutnya, timing untuk kembali dinilai sudah tepat, dan dorongan untuk menutup tahun dengan hasil terbaik membuat Vuelta tampil sebagai target yang sangat penting.
Ia mengatakan, “Motivasinya tinggi untuk menyelesaikan tahun dengan cara yang baik, dan Vuelta akan menjadi target besar. Tim kami kuat, dan kami berharap bisa melakukan hal-hal yang baik.”
Berita Terkait
Secara kalender, Vuelta tahun ini dimulai di Monaco pada 22 Agustus dan berakhir di Granada pada 13 September. Race tersebut terdiri dari 21 tahap selama tiga pekan, dengan kombinasi time trial, balap sprint, rute bergelombang, hingga tantangan pegunungan berlevel tinggi.
Dalam catatan prestasi, Pogacar dikenal sebagai salah satu pembalap yang nyaris menjuarai seluruh laga besar. Selain lima gelar Tour de France, ia juga mengoleksi kemenangan di Tour of Flanders sebanyak tiga kali, Milan–San Remo sekali, Road World Championships dua kali, Il Lombardia lima kali, dan Liege–Bastogne–Liege empat kali, termasuk kemenangan di Giro.
Selain mengejar treble di Vuelta, Pogacar juga diproyeksikan mempertahankan jersey pelangi Road World Championships di Montreal, Kanada. Rencana itu disusun hanya satu minggu setelah La Vuelta berakhir, sehingga ritme kompetisinya akan tetap padat pada periode berikutnya.
Dalam era balap modern, Vuelta sering kali tidak menjadi prioritas utama bagi para talenta top dunia. Banyak pembalap memilih Tour de France dibanding Vuelta dan Giro, sementara ketiga nama besar seperti Merckx, Anquetil, dan Hinault (dua kali) tercatat pernah mampu memenangkan La Vuelta selama karier mereka.
Setelah kemenangan di Tour de France, Pogacar menunjukkan dominasi yang konsisten. Ia mengalahkan Remco Evenepoel, pembalap Belgia, dengan selisih lebih dari enam menit pada Tour edisi terbaru, dan ia diperkirakan bisa mencatat margin yang lebih besar lagi saat berlaga di Vuelta.
Kharisma Pogacar juga terlihat dari gaya balapnya yang khas. Ia terkenal dengan ledakan saat melakukan akselerasi, sekaligus mampu menjaga tempo tinggi yang seperti mesin, membuat ritme balapan sulit diikuti oleh para pesaing.
Menjelang Vuelta, ia tidak menunjukkan tanda kelelahan maupun kelemahan. Ia juga sedang berada dalam fase yang sangat kuat karena telah memenangkan enam dari tujuh balapan World Tour yang ia ikuti tahun ini.
Salah satu momen yang menegaskan performa itu hadir di Paris–Roubaix pada bulan April. Pada balapan tersebut, Pogacar finis kedua setelah persaingan yang dramatis hingga garis finis, dalam adu sprint penentuan dengan Wout van Aert.
Dengan rangkaian prestasi dan kondisi yang tampak prima, Vuelta a Espana menjadi panggung berikutnya bagi Pogacar untuk membuktikan bahwa peluang treble Grand Tour bukan sekadar rencana, melainkan target yang bisa dikerjakan. Jika ia mampu menuntaskan ketiga Grand Tour, namanya akan kembali ditulis dalam sejarah sebagai pembalap yang mencapai sesuatu yang amat jarang terjadi.












