Teknologi

AI China Melaju: Ekspansi Pusat Data di Mongolia Dalam

×

AI China Melaju: Ekspansi Pusat Data di Mongolia Dalam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: China AI: Data centres rise from the rolling plains of Inner Mongolia

jurnalistik.co.id – Ekspansi pusat data di Mongolia Dalam kini menjelma pemandangan baru berdampingan dengan ladang petani, seolah “hulu” teknologi AI tumbuh dari hamparan stepa yang selama ini dikenal luas.

Di Ulanqab, kawasan stepa dan perbukitan yang juga punya reputasi sebagai “potato capital” versi resmi negara, petani masih memungut kentang berukuran besar. Namun, di dekat lahan itu, muncul tetangga baru: bangunan-bangunan raksasa berbentuk persegi panjang yang dirancang menjadi fondasi bagi platform AI China.

Lokasi Ulanqab menjadi semacam “perbatasan” digital yang tak terduga dalam lanskap persaingan AI Beijing dan Washington. Di lapangan, ratusan pekerja memakai helm warna kuning mengangkut peralatan berat ke area pembangunan, sementara percikan pengelasan berloncatan dari rangka logam.

Di atasnya, crane mengangkat komponen atap dengan presisi. Pekerja lain naik tangga untuk merapikan pekerjaan pasangan bata, membangun lapis demi lapis fasilitas yang, menurut mereka, bergerak dengan ritme cepat.

“This is China speed,” ujar salah seorang pekerja sambil bercanda. Ia menyebut dirinya “An infrastructure maniac,” sebelum melangkah pergi meninggalkan lokasi.

Seorang insinyur listrik menjelaskan tahapan pengerjaan sebagai siklus yang berulang. “There is one phase every year. This is the second phase,” katanya, lalu menambahkan bahwa akan ada banyak fase sesudahnya.

Di balik tampilan proyek konstruksi, inti dari cerita ini adalah kebutuhan komputasi. Kecerdasan buatan ditempatkan di pusat persaingan China dengan Amerika Serikat, dan kekuatan komputasi di pusat data di wilayah ini disebut sebagai kunci.

Bagi Partai Komunis China, gedung-gedung ini bukan sekadar infrastruktur teknologi. Pusat data dipandang sebagai elemen penting bagi keamanan ekonomi dan keamanan nasional negara.

Setelah rampung, fasilitas-fasilitas itu diharapkan membantu mendorong misi China menanamkan AI ke 90% industri dan kehidupan masyarakat pada tahun 2030. Target tersebut membuat pembangunan fasilitas berukuran besar menjadi bagian dari strategi yang lebih luas.

Namun, narasi yang sama juga menyentuh soal manusia. China dikatakan tengah membangun “kolam talenta” baru: insinyur muda dan peneliti yang melihat peluang di dalam negeri, terutama ketika ketegangan dengan AS dan pembatasan imigrasi era Trump membuat “American dream” terasa memudar.

Jack Zhang dari University of Science and Technology of China mengatakan perubahan arus itu terlihat jelas. “Fewer students and researchers are heading to the US, and more are returning from the US to China. That is very clear,” ujarnya.

Ia sendiri direkrut oleh program tingkat tinggi setelah menempuh studi di Yale, lalu melanjutkan di Cambridge. Zhang juga menyatakan motivasi untuk membawa pekerjaan AI dari laboratorium ke kesehatan dan pengobatan manusia. Ia menilai proses itu membutuhkan sumber daya, lebih banyak orang, dan kadang dukungan pemerintah, yang menurutnya lebih sulit diakses saat berada di luar negeri.

Di sisi lain, pembahasan AI juga bersinggungan dengan ketegangan geopolitik dan arah kebijakan. Presiden Trump menyampaikan kalimat yang menegaskan orientasi persaingan: “Whoever wins AI, wins.”

Bersamaan dengan itu, CEO perusahaan AI Anthropic, Dario Amodei, menyerukan agar AS tetap mempertahankan larangan penjualan chip dan peralatan canggih ke China. Ia juga memperingatkan bahwa keunggulan AI China akan “pose grave danger for the US and the world”.

Dalam situasi seperti ini, Global Times yang dikelola negara—yang menyuarakan sudut pandang Beijing—menolak ketakutan AS sebagai bagian dari “Cold War playbook” untuk “contain” kebangkitan China.

Meski demikian, Beijing bukan hanya membahas strategi mengejar ketertinggalan. China juga mempromosikan pendekatan alternatif. Xi mendorong perusahaan AI China mengembangkan model yang lebih terjangkau dan berbasis open-source, sehingga orang, perusahaan, dan negara dapat memodifikasinya sesuai kebutuhan.

Kontrasnya, di AS berkembang model-model tertutup. Pengembang seperti OpenAI dan Anthropic menggunakan pendekatan yang tidak sepenuhnya terbuka, termasuk elemen desain yang dirahasiakan.

Salah satu alasan Beijing mendukung cara tersebut adalah pengalaman sebelumnya. Dengan berbagi teknologi, perusahaan AI China dianggap mampu berinovasi lebih cepat, sekaligus membantu mengatasi tantangan besar berupa terbatasnya akses ke chip tingkat lanjut yang dapat membuka daya komputasi lebih besar.

Di saat yang sama, Beijing ingin memiliki peran lebih besar dalam penulisan aturan yang mengatur AI. Xi berkali-kali menyerukan regulasi lebih ketat dan kerangka kerja global sebagai rujukan bagi pihak lain.

Keterkaitan isu itu tampak makin nyata menjelang pertemuan yang dibicarakan minggu ini di Gedung Putih. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kedua pihak bisa berkolaborasi dalam mengatur AI, dan apakah wacana perlambatan benar-benar realistis.

Namun, di lokasi seperti Ulanqab, target tampaknya tak memberi ruang pada jeda. China disebut membangun ratusan pusat data untuk perusahaan seperti Huawei, ByteDance, dan DeepSeek di provinsi-provisi yang jarang penduduknya.

Ulanqab tercatat menjadi salah satu lokasi, bersama Ningxia dan Gansu di bagian utara, serta Guizhou di barat daya. Latar dukungannya adalah kapasitas energi terbarukan yang sudah dibangun dalam jumlah besar, terutama tenaga angin dan surya.

Daerah dengan lahan lebih murah dan cuaca lebih sejuk juga disebut mengurangi kebutuhan air. Meski begitu, bukan berarti tidak ada kekhawatiran yang mengikuti pembangunan itu.

China menargetkan mayoritas pusat data ditenagai energi hijau pada tahun 2030. Namun, sebagian jaringan listrik di tempat-tempat tersebut masih bersumber dari tenaga batu bara.

Persoalan lain adalah pasokan air, terutama di bagian-bagian Mongolia Dalam yang kering dan tandus. Dalam laporan disebutkan seluruh desa telah dipindahkan, meski sulit memastikan jumlahnya dan kompensasi yang diberikan kepada warga.

Hal-hal semacam itu juga digambarkan sebagai topik yang jarang dibahas secara terbuka karena risikonya. Seorang warga lokal yang berbicara tanpa menyebut identitas mengatakan, “This big data has absolutely nothing to do with ordinary people,” lalu menambahkan pertanyaan, “What benefits has it brought us?”

Ia menyebut tidak banyak warga yang menemukan pekerjaan di sana. Ada pula warga yang menuturkan kekhawatiran tanah mereka akan diambil sehingga mereka kehilangan mata pencaharian untuk bertani.

Meski ada suara kritis, tidak semua pandangan serupa datang dari lapangan. Seorang pria yang mengatakan marga “Zhang” menyampaikan optimisme dari dekat pemetik kentang di area sekitar pusat data.

“China is now at the forefront of the world,” katanya, lalu menambahkan bahwa anak-anaknya berhasil menemukan pekerjaan di lokasi baru tersebut. Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini berbeda dari dekade sebelumnya, dengan kalimat, “It’s not like the 1960s, when it was relatively backward. China is doing alright now. Whether in economic development or other areas, it is doing well.”

Sementara survei-surevi memperlihatkan dukungan yang relatif rendah terhadap penolakan AI, sulit menilai gambaran itu secara akurat di tengah iklim sensor yang ketat. Beijing juga menyatakan AI dipandang sebagai solusi untuk mengatasi tenaga kerja yang menua, sekaligus mempercepat otomatisasi produksi.

Situasi itu menimbulkan kecemasan terkait hilangnya pekerjaan, meski dampaknya disebut sulit diukur. Di saat yang sama, China juga melaporkan menghasilkan sekitar lima juta lulusan sains dan teknologi setiap tahun, dibanding sekitar setengah juta di AS.

Bagi sebagian kalangan, jumlah lulusan yang tetap bertahan di dalam negeri membantu membentuk ekosistem inovasi. Seorang pengembang AI bernama Dang Ronghao, 27 tahun, yang bekerja di perusahaan teknologi terkemuka, mengatakan kampus-kampus menjadi lebih terbuka sehingga ia dapat berdiskusi dengan peneliti dari seluruh dunia dari basisnya di Shanghai.

“I’ve seen research combining AI with nuclear fusion, AI with astrophysics, AI with new materials, and AI with the development of new drugs. I think we are entering a good era,” ujarnya. Namun, ada pula yang berpendapat sistem yang ada tidak cukup memberi ruang bagi pertanyaan atau tantangan yang mendasar.

Profesor Liu Jun dari Departemen Statistik dan Data Sains di Tsinghua University mengatakan, “It’s not as open as I wish.” Ia pernah mengajar di Harvard dan Stanford, dan mengaku terus mendorong mahasiswa untuk mengajukan lebih banyak pertanyaan serta menantang gagasan. “I keep encouraging students here to ask more questions, to challenge more, but that’s hard to change. I think partly it’s culture, partly it’s the system,” katanya.

Di luar laboratorium, banyak warga China menghadapi masalah ekonomi yang lebih segera. Ekonomi yang melambat, meningkatnya pengangguran usia muda, belanja yang rendah, serta harga properti yang jatuh menjadi latar yang memengaruhi cara orang memandang perubahan.

Di wilayah pedesaan, populasi yang menua juga disebut makin menjadi perhatian. Seorang petani di Mongolia Dalam menyampaikan skeptisisme yang terdengar sederhana namun tegas, “Big data and all that… pretty good – but it has nothing to do with me,” sembari memeriksa domba dari atas kereta.

Ia mengatakan tidak memiliki kebutuhan pada AI. Bahkan, ia hampir tidak menggunakan internet. Layar ponselnya juga disebut sudah pecah, sementara WiFi didapat dari dongle saku yang ia bayarkan lebih dari 40 yuan per bulan.

“There haven’t really been any changes for me. I don’t know about the future,” katanya. Sikap seperti ini digambarkan sebagai tantangan bagi Beijing, karena perubahan berlangsung cepat di banyak tempat, tetapi sulit mengetahui seberapa besar bagian masyarakat benar-benar ikut menaruh investasi dan harapan pada masa depan yang dibentuk oleh teknologi.