jurnalistik.co.id – Apple menegaskan bahwa tidak ada patokan waktu yang mutlak bagi pengguna untuk mengganti iPhone. Menurut CEO Apple John Ternus, keputusan tersebut seharusnya kembali pada kebutuhan masing-masing orang, bukan mengikuti kalender rilis perangkat terbaru.
Ternus menyampaikan pandangan itu dalam wawancara Canal+ Clique pada Selasa (22/9/2026). Ia juga menyoroti bahwa Apple sejak awal merancang perangkatnya agar bisa dipakai dalam jangka panjang, sehingga pengguna tidak otomatis harus melakukan pergantian hanya karena ada generasi baru.
Tidak ada “waktu” pengganti yang sama untuk semua
Dalam wawancara tersebut, Ternus menyebut keberagaman preferensi konsumen sebagai kunci. Ia mengatakan, ada pelanggan yang ingin memperbarui ponselnya setiap tahun, sementara ada pula yang memilih bertahan dengan perangkat yang sama selama bertahun-tahun. Bagi Apple, pilihan tersebut sama-sama dipandang positif.
“Kita memiliki pelanggan yang berbeda-beda. Ada pelanggan yang ingin meng-update ponselnya setiap tahun. Ada yang ingin menggunakan ponselnya selama ini. Itu bagus,” ujar John Ternus, dikutip dalam wawancara Canal+ Clique, Selasa (22/9/2026).
Ternus kemudian menekankan bahwa fokus perusahaan adalah umur pakai produk. Ia menyatakan, selama pengguna ingin memanfaatkan iPhone dalam jangka panjang, penggunaan itu justru dianggap sebagai skenario yang seharusnya mendatangkan kenyamanan.
“Fokus kita adalah longevity produk. Jadi, jika kamu ingin menggunakan ponselnya selama bertahun-tahun, itu akan menyenangkan. Itu dirancang untuk melakukannya,” kata Ternus.
Pernyataan itu muncul di tengah dinamika peluncuran perangkat. Teks yang sama menyebut CEO Apple akan menghadirkan 16 produk baru setelah iPhone generasi baru rilis pada 9 September, menempatkan gagasan tentang “umur panjang” sebagai bagian dari cara Apple memandang siklus penggunaan perangkat.
Berita Terkait
Dengan kerangka tersebut, Ternus tidak memosisikan iPhone sebagai barang yang harus diganti secara periodik. Ia justru mengarahkan pengguna untuk menilai kondisi dan kebutuhan mereka sendiri—apakah perangkat masih memenuhi aktivitas harian, atau sudah saatnya melakukan peningkatan.
Pada praktiknya, pendekatan “longevity” yang disampaikan Ternus berarti Apple tidak menilai setiap model baru sebagai alasan otomatis untuk melakukan perpindahan perangkat. Rilis terbaru tetap relevan bagi pengguna yang ingin mengupgrade sesuai preferensi, tetapi tidak menjadi syarat bagi mereka yang memilih bertahan.
Menurut Ternus, keberadaan model baru tidak seharusnya mendorong keputusan yang bersifat seragam. Bagi konsumen yang nyaman dengan perangkat saat ini, bertahan berarti melanjutkan pemakaian jangka panjang sebagaimana produk tersebut memang dirancang untuk digunakan.
Dengan demikian, pesan utama dari John Ternus adalah keputusan mengganti iPhone bukanlah soal waktu yang sama untuk semua orang, melainkan pilihan yang ditentukan oleh kebutuhan, gaya penggunaan, serta keinginan konsumen terhadap pembaruan perangkat.
Dalam penjelasan tersebut, Ternus juga ingin meluruskan ekspektasi bahwa setiap orang seharusnya mengikuti ritme yang sama. Bagi Apple, jadwal penggantian yang terasa “wajib” hanyalah asumsi dari luar, sementara keputusan yang lebih tepat harus datang dari cara pengguna memanfaatkan iPhone sehari-hari. Jika perangkat masih mendukung kebutuhan, pengguna tidak perlu merasa terlambat hanya karena ada pembaruan di lini produk.
Apple, lewat cara Ternus memandangnya, menempatkan dua pilihan pemakaian sebagai sesuatu yang sama-sama sah. Ada konsumen yang mengejar pembaruan lebih cepat, dan ada pula yang memprioritaskan kesinambungan penggunaan. Kedua pendekatan itu diperlakukan sebagai preferensi, bukan penilaian benar-salah, sehingga pengguna dapat menyesuaikan pilihan mereka dengan kenyamanan dan pola aktivitas masing-masing.
Penekanan pada longevity juga menjadi bagian dari cara Apple membingkai pengalaman kepemilikan perangkat. Jika pengguna ingin memanfaatkan iPhone dalam jangka waktu lebih panjang, perusahaan menganggap kondisi itu sebagai skenario yang memang dipersiapkan sejak awal. Dengan begitu, rilis terbaru tidak otomatis diposisikan sebagai “pemicu” untuk mengganti, melainkan sebagai opsi bagi mereka yang memang merasa butuh peningkatan.
Di tengah dinamika peluncuran, keberadaan generasi baru justru tidak seharusnya menekan keputusan yang seragam. Ternus mengarahkan agar konsumen menilai sendiri apakah perangkat yang dimiliki masih sesuai untuk ritme kerja dan kebutuhan komunikasi, atau sudah saatnya melakukan upgrade. Dengan kerangka ini, iPhone generasi lama tetap punya relevansi bagi pengguna yang memilih bertahan, sementara pengguna yang ingin berpindah dapat melakukannya berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan karena kalender rilis.












