Olahraga

Timnas Indonesia Menundukkan Oman, Bukti Fleksibilitas Taktik John Herdman

0
×

Timnas Indonesia Menundukkan Oman, Bukti Fleksibilitas Taktik John Herdman

Sebarkan artikel ini
Timnas Indonesia Hajar Oman, Buah Fleksibilitas Taktik John Herdman Bola 6 Juni 2026
Ilustrasi: Timnas Indonesia Hajar Oman, Buah Fleksibilitas Taktik John Herdman

jurnalistik.co.id – Timnas Indonesia tampil dominan saat menghadapi Oman dalam FIFA Matchday Juni 2026. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (5/6/2026) malam, skuad Garuda meraih kemenangan 3-0 yang dinilai sarat sentuhan taktik.

Laga berakhir dengan skor akhir 3-0. Justin Hubner mencatatkan namanya pada menit ke-13, Ole Romeny menambah keunggulan di menit ke-27, dan Ragnar Oratmangoen mengunci hasil pada menit ke-56.

Di balik hasil meyakinkan tersebut, pengamat sepak bola nasional Gita Suwondo melihat ada pembeda utama dari cara John Herdman merancang strategi. Menurutnya, fleksibilitas yang ditampilkan tim membuat pola permainan menjadi sulit dibaca lawan.

Gita membuka komentarnya dengan nuansa khas. “Set piece again ole ole, set piece again ole ol e,” ucap pengamat yang biasa disapa Bung GAZ kepada Kompas.com membuka analisisnya dengan nada nyanyian ala suporter sepak bola.

Ia kemudian menyoroti strategi Herdman di laga ini. “Wah harus salut dengan strateginya John Herdman di laga kali ini. Kelihatan kayak 3-4-3 di awal center back itu ada Rizky Ridho kapten, terus Elkan Baggot di tengah, lalu Justin (Hubner) di kiri,” imbuhnya.

Bagi Gita, formasi yang tampak di atas kertas tidak sepenuhnya menggambarkan pergerakan pemain di lapangan. “Dalam praktiknya gimana Rizky Ridho sering kayak main sayap di bek kanan kaya pola 4-3-3. Kevin Diks justru agak ke depan kalau lihat babak pertama,” ucapnya lagi.

Ia menambahkan bahwa Indonesia beberapa kali mengubah bentuk saat menyerang maupun bertahan. Pergantian bentuk itu, menurut pengamat, membuat alur serangan Indonesia menjadi lebih variatif sekaligus menyulitkan langkah Oman.

“Indonesia beberapa kali berubah bentuk saat menyerang maupun bertahan,” kata Gita Suwondo. Dengan perubahan posisi yang terus terjadi sepanjang pertandingan, Oman pun kesulitan mengantisipasi pola pergerakan timnas.

Keunggulan Indonesia juga dibangun lewat efektivitas bola mati. Gita menyebut gol pembuka berawal dari situasi tendangan bebas Nathan Tjoe-A-On yang dieksekusi akurat, lalu diselesaikan ayunan kepala Justin Hubner.

“Terlepas golnya set piece tapi ya balik balik lagi, itu gol berkelas,” kata Gita Suwondo. Ia juga menyinggung bahwa Nathan sebelumnya nyaris mencetak gol dari assist Rizky Ridho yang masuk akselarasi, yang kemudian berlanjut ke peluang berikutnya.

Gita melanjutkan penilaiannya dengan menyebut momen pada eksekusi tendangan bebas tersebut. “Sayang, diselamatkan pemain belakang Oman. Tapi tendangan bebas Nathan assist yang sempurna dan diselesaikan Justin hubner,” sambungnya.

Gol yang tercipta, menurut Gita, menjadi penanda bahwa timnas memiliki ancaman yang konsisten dari situasi bola mati. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak hanya mengandalkan permainan terbuka, tetapi juga sangat berbahaya ketika bola mati dimainkan dengan kualitas eksekusi yang tepat.

Setelah keunggulan lewat Justin Hubner, Ole Romeny menambah jalannya pertandingan. Gita menyebut gol Romeny lahir ketika ia memanfaatkan kesalahan lini belakang Oman, sehingga membuat skor kian jauh.

Dengan tambahan gol tersebut, kemenangan Indonesia semakin kuat hingga akhirnya berujung pada skor 3-0. Ragnar Oratmangoen melengkapi hasil pada menit ke-56, memastikan laga berakhir sesuai dominasi permainan timnas sejak awal.

Bagi Gita Suwondo, seluruh rentetan kejadian itu menunjukkan fleksibilitas taktik yang diterapkan John Herdman. Ia menilai perubahan bentuk, variasi pergerakan antarpemain, serta ketajaman pada fase bola mati menjadi kombinasi yang membuat Indonesia tampil lebih sulit dibaca oleh lawan.

Gita menilai, fleksibilitas itu bukan sekadar soal angka formasi, melainkan terlihat dari cara tim mengatur jarak antarpemain dan membaca momen saat bola berpindah. Ketika pola berubah, Oman tidak punya waktu cukup untuk menyusun respon yang sama.

Dalam penilaian pengamat, rangkaian gol juga memperlihatkan konsistensi ancaman dari bola mati dan penyelesaian yang efektif. Dari situ, permainan Indonesia makin terarah: tekanan tetap dijaga, sementara pertahanan lawan harus terus beradaptasi pada setiap situasi bola mati yang muncul.