Daerah

Transformasi Lahan Kumuh di Jakut Jadi Kebun Produktif Penghasil Sayur Gratis

×

Transformasi Lahan Kumuh di Jakut Jadi Kebun Produktif Penghasil Sayur Gratis

Sebarkan artikel ini
Transformasi Lahan Kumuh di Jakut: Jadi Kebun Produktif yang Hasilkan Sayur Gratis News 22 Juni 2026
Ilustrasi: Transformasi Lahan Kumuh di Jakut: Jadi Kebun Produktif yang Hasilkan Sayur Gratis

jurnalistik.co.id – Sejak tahun 2025, suasana di salah satu sudut RW 07 Kompleks Perumahan Pelindo, Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, berubah terasa. Jika sebelumnya warga lebih sering disapa deru kendaraan dan hiruk pikuk keseharian, kini hamparan hijau hadir menyelinap di antara pagar-pagar rumah.

Di sela kepadatan pemukiman, sepetak kebun sayur dan buah tumbuh menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan seperti suasana kampung halaman. Aroma tanah basah yang bercampur wangi dedaunan segar ikut menguatkan rasa “pedesaan” itu, bahkan di tengah bayangan kota metropolitan.

Tanaman-tanaman yang dirawat terlihat jelas di dalam kebun komunitas tersebut. Daun kangkung dan bayam bergoyang pelan ketika angin datang, sementara tomat ceri merah mulai merona dan menunggu untuk dipetik.

Pada momen panen, tomat ceri yang sudah matang dipetik oleh Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kelurahan Rawa Badak Selatan, Yuli Purwatiningsih, bersama para stafnya. Selain tomat ceri, petugas kelurahan juga melakukan panen untuk beberapa tanaman lain yang tumbuh di kebun, termasuk labu air, terong, dan pare.

Yuli menyampaikan apresiasi atas pembangunan kebun sayur dan buah itu. Menurutnya, keberadaan kebun tersebut membantu membangun ketahanan pangan untuk warga di sekitar.

“Terima kasih kepada Bapak RW 07, termasuk pengelola urban farming atau pertanian perkotaan karena sudah bisa membantu warga di sekitar sini. Alhamdulillah , selain sayuran tadi, di sini juga ada nangka, singkong, kangkung, bayam, dan cabai yang sudah berbuah,” ucap Yuli ketika ditemui di lokasi, Jumat (19/6/2026) siang.

Ia menjelaskan bahwa dukungan dari pemerintah akan diberikan untuk terus mendorong gerakan urban farming. Ke depan, pihak kelurahan menyiapkan bantuan berupa penyuburan tanah sebagai bagian dari upaya perawatan kebun agar aktivitas menanam dapat berlanjut dengan lebih baik.

Yuli juga menyoroti tantangan yang dihadapi pengelola saat membangun kebun di tengah lingkungan padat. Salah satu kendala yang muncul adalah kondisi tanah yang padat, sehingga proses pemulihan untuk membuat tanah lebih layak ditanami menjadi perhatian tersendiri.

“Mungkin kami akan mengupayakan bagaimana agar tanah tersebut bisa lebih gembur dan subur kembali untuk ditanami,” sambung Yuli. Harapannya, perbaikan kondisi lahan dapat mendukung keberlanjutan kebun produktif ini dan memperkuat manfaatnya bagi warga.

Lebih jauh, Yuli berharap ke depannya ada lebih banyak lahan tidak terpakai di Rawa Badak Selatan yang bisa dimanfaatkan sebagai ladang pertanian perkotaan. Dengan model seperti yang sudah berjalan di RW 07, kebun komunitas tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga menjadi sarana pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari.

Gagasan kebun itu sendiri berangkat dari kondisi lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. Ketua RW 07, Triyadi Setyawan (47), menyebut kebun seluas 450 meter persegi dulunya merupakan lahan terbengkalai yang menjadi tempat pembuangan sampah dan puing warga.

Transformasi tersebut membuat area yang sebelumnya dipenuhi tumpukan sampah dan puing berubah menjadi hamparan tanaman yang bisa dikelola secara berkelanjutan. Dengan adanya kebun produktif, ruang yang semula tidak memberi manfaat kini menjadi lokasi perawatan tanaman dan panen hasil kebun yang dapat dinikmati.

Di kebun itu, kegiatan menanam dan merawat terlihat sejalan dengan kebutuhan warga akan akses pangan yang lebih dekat. Tanaman yang dipanen—mulai dari tomat ceri, labu air, terong, hingga pare—menjadi bukti bahwa urban farming yang dikelola di lingkungan setempat dapat menghasilkan keberagaman hasil.

Ketika proses panen berlangsung, terlihat bahwa kebun tidak berdiri sendirian sebagai proyek, melainkan terhubung dengan peran kelembagaan setempat seperti TP PKK. Kehadiran para petugas kelurahan dan pengelola juga menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam mendapat perhatian dan koordinasi di tingkat lingkungan.

Dengan dukungan yang direncanakan melalui penyuburan tanah serta harapan agar lebih banyak lahan tidak terpakai dimanfaatkan, kebun tersebut diharapkan terus berkembang. Pada akhirnya, perubahan dari lahan kumuh menjadi kebun produktif tidak hanya mengubah wajah lingkungan, tetapi juga menegaskan pentingnya ketahanan pangan di tengah dinamika pemukiman perkotaan.