jurnalistik.co.id – Pemadaman listrik yang terjadi berulang tanpa pemberitahuan dalam beberapa pekan terakhir dikeluhkan pelaku usaha di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gangguan tersebut membuat operasional melambat dan menimbulkan risiko terhadap produk yang harus disimpan pada suhu tertentu.
Novan Subianto, pengusaha frozen meat dan seafood, mengatakan aktivitas usahanya terganggu akibat pemadaman yang datang secara tiba-tiba. Menurutnya, listrik yang padam tidak hanya menghambat pelayanan kepada pelanggan, tetapi juga berpotensi merusak produk yang disimpan di freezer.
Ia menilai kerugian paling terasa ketika gangguan berlangsung cukup lama. “Kalau sering mati listrik jelas ada kerugiannya. Pelanggan jadi menunda datang, omzet menurun. Apalagi produk seafood dan ikan lebih cepat rusak kalau listrik mati sampai dua atau tiga jam,” kata Novan pada Minggu (21/6/2026).
Novan menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, produk-produk beku yang dijual perlu dijaga pada suhu tertentu agar kualitas tetap terjaga. Ketika listrik padam dalam waktu lama, suhu penyimpanan dapat meningkat dan berisiko menurunkan mutu produk.
Ia juga menyoroti pola pemadaman yang tidak memberi ruang persiapan. Berdasarkan pengalamannya, pemadaman belakangan ini bisa terjadi hingga dua sampai tiga kali dalam sehari, bahkan dalam satu pekan kondisinya bisa terulang beberapa kali.
Dalam kesempatan yang sama, Novan menyampaikan bahwa jika ada pemberitahuan sebelumnya, langkah antisipasi bisa dilakukan lebih terencana. “Kalau ada pemberitahuan sebelumnya, kami bisa menyiapkan langkah antisipasi. Misalnya menyiapkan genset atau memindahkan sebagian produk ke tempat yang lebih aman,” ujarnya.
Keluhan serupa datang dari Wardana, pegawai salah satu kafe di Kebumen. Ia mengaku sempat terkejut ketika mengalami pemadaman listrik yang berlangsung hingga tiga jam.
Menurut Wardana, pemadaman tersebut terjadi sejak sekitar pukul 17.30 WIB hingga 20.30 WIB. “Biasanya kalau mati lampu di daerah sini paling hanya beberapa menit. Tapi kemarin sampai tiga jam,” kata Gilang.
Selama pemadaman berlangsung, operasional kafe menjadi terganggu. Sejumlah peralatan tidak dapat digunakan secara maksimal, sementara para karyawan perlu memastikan bahan baku makanan dan minuman tetap berada dalam kondisi aman.
Wardana menambahkan bahwa situasi itu membuat tim kerja harus lebih ekstra dalam memantau kondisi penyimpanan. “Kami sampai harus mengecek bahan-bahan yang ada di kulkas dan freezer karena khawatir ada yang rusak,” jelasnya.
Ia menilai dampak pemadaman tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan juga dirasakan dari sisi kenyamanan pelanggan. “Selain itu, kenyamanan pelanggan juga berkurang karena sebagian fasilitas tidak bisa digunakan,” tuturnya.
Para pelaku usaha berharap gangguan listrik ke depannya tidak hanya ditangani saat terjadi, tetapi juga disertai pemberitahuan agar mereka bisa menyiapkan langkah pengamanan. Dengan informasi lebih awal, proses pengelolaan produk dan kelancaran layanan di lapangan diharapkan dapat tetap terjaga.
Menurut para pelaku usaha, gangguan yang datang tanpa informasi membuat mereka sulit mengatur alur kerja harian. Saat listrik tiba-tiba padam, aktivitas mulai dari persiapan hingga pelayanan bisa melambat, sementara proses pengawasan kondisi stok tetap harus berjalan agar tidak terjadi penurunan kualitas yang tidak diinginkan.
Dalam praktiknya, upaya antisipasi yang dimaksud lebih banyak berkaitan dengan kesiapan saat gangguan belum terjadi. Jika ada informasi lebih dahulu, pelaku usaha dapat menyiapkan perlengkapan cadangan seperti genset dan melakukan pengaturan penyimpanan, termasuk memindahkan sebagian produk ke lokasi yang dinilai lebih aman untuk menjaga suhu agar tetap terkontrol.
Para pihak yang terdampak juga berharap penanganan tidak berhenti pada saat pemadaman berlangsung. Mereka menilai, pemberitahuan sebelumnya akan membantu perusahaan menata respons di lapangan, sehingga pelanggan tidak perlu menunda kedatangan dan operasional tetap bisa berjalan dengan gangguan yang lebih terkendali, baik untuk usaha produk beku maupun aktivitas kafe yang bergantung pada ketersediaan perangkat pendukung.












