jurnalistik.co.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berputar di pola yang sama: pernyataan optimistis dari pihak Washington tentang kesepakatan yang “tinggal selangkah”, namun hasil akhirnya belum juga benar-benar terwujud.
Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan sudah dekat. Namun, hingga kini proses perundingan yang berjalan berlarut-larut belum menghasilkan penyelesaian final, sementara para analis menilai sejumlah poin krusial masih menjadi kendala besar.
Kegagalan mencapai kesepakatan tersebut diperkirakan tidak hanya menunda penyelesaian, tetapi juga berpotensi mempersulit implementasi di lapangan. Klaim Trump mengenai akhir konflik yang semakin dekat bahkan memicu ejekan luas, baik di AS maupun di Iran.
Menurut laporan CNN, Trump memakai frasa-frasa yang mengarah pada kedekatan kesepakatan seperti “sangat dekat dengan kesepakatan” atau bahwa pembicaraan berada dalam “tahap akhir” sebanyak 39 kali. Pola yang sama kemudian kembali muncul dalam dinamika terbaru.
Pada Kamis (11/6/2026), Trump sempat menarik ancaman serangan baru terhadap Iran, sebelum menyatakan bahwa kesepakatan dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan itu langsung dibalas dengan respons dari Kementerian Luar Negeri Iran.
Dalam tanggapannya, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa mereka belum mencapai kesimpulan akhir tentang kesepakatan. Dengan demikian, klaim “beberapa hari lagi” belum berujung pada tanda-tanda bahwa proses menuju kesepakatan telah benar-benar selesai.
Arash Azizi, dosen di Universitas Yale, menjelaskan alasan mengapa proses yang sedang ditempuh bisa memakan waktu sangat lama. Ia menilai Iran percaya bahwa mereka bisa bertahan untuk mendapatkan persyaratan yang lebih baik setelah berhasil tidak menyerah selama perang.
Di saat yang sama, Trump juga menghadapi dilema besar. Ia dinilai hampir tidak sanggup melepaskan aset beku Iran, yang merupakan tuntutan utama Teheran.
Azizi menilai dilema tersebut bertemu dengan faktor politik di dalam negeri AS. Trump menghadapi risiko bahwa kesepakatan baru yang ia dorong akan dinilai lebih menguntungkan Iran ketimbang kesepakatan nuklir 2015, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang ia batalkan pada masa jabatan pertamanya.
“Trump harus menerima bahwa taktik awalnya untuk menyebabkan Iran menyerah dengan kekuatan militer semata tidak berhasil, dan ia harus puas dengan sesuatu yang jauh lebih ringan,” kata Azizi, dikutip dari AFP pada Jumat (12/6/2026).
Analisis tersebut berangkat dari konteks bahwa, pada praktiknya, konflik yang berlangsung antara AS dan Iran sudah berjalan selama lima minggu. Untuk sementara, perang dihentikan oleh gencatan senjata yang tidak stabil sejak 8 April 2026.
Ketika gencatan senjata rapuh terus menjadi penopang situasi, narasi “kesepakatan sudah dekat” berulang kali muncul sebagai penguat harapan. Namun, respons dari pihak Iran yang menegaskan belum ada kesimpulan akhir menunjukkan bahwa jarak antara pernyataan dan keputusan masih nyata.
Di tengah situasi tersebut, perundingan berhadapan dengan kebutuhan untuk menyepakati substansi yang sama-sama dianggap krusial, sekaligus memastikan bahwa implementasi di lapangan dapat dijalankan. Dalam kondisi demikian, setiap pernyataan soal “tahap akhir” akan terus diuji oleh kemajuan nyata yang berujung pada penandatanganan.
Dengan latar itu, hingga saat ini negosiasi AS-Iran masih berputar: Washington terus menyampaikan bahwa kesepakatan bisa segera dicapai, sementara Teheran menegaskan proses masih belum berada pada kesimpulan final. Akibatnya, harapan tentang damai yang cepat belum menemukan titik temu yang menentukan.
Berulangnya bahasa optimistis itu membuat publik menunggu kepastian, tetapi juga menegaskan bahwa negosiasi masih berada pada fase penyesuaian kepentingan. Di satu sisi, AS menekankan tenggat waktu; di sisi lain, Iran memilih menahan kesimpulan hingga syarat dinilai memadai, termasuk soal aset beku.












