Bisnis & Ekonomi

Bank Dunia: Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut, Dipicu Kualitas Lapangan Kerja

0
×

Bank Dunia: Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut, Dipicu Kualitas Lapangan Kerja

Sebarkan artikel ini
Bank Dunia Ungkap Penyebab Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut Money 13 Juni 2026
Ilustrasi: Bank Dunia Ungkap Penyebab Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut

jurnalistik.co.id – Ekonomi Indonesia pada awal 2026 menunjukkan momentum yang cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026, sekaligus menjadi capaian kuartalan tertinggi sejak kuartal II-2021.

Pertumbuhan tersebut, menurut Bank Dunia, ditopang oleh beberapa komponen utama. Konsumsi rumah tangga tetap kuat, percepatan belanja pemerintah, serta peningkatan investasi ikut mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan karena masih menyumbang lebih dari separuh PDB. Di saat yang sama, konsumsi pemerintah melonjak seiring percepatan penyaluran berbagai program prioritas.

Bank Dunia juga menyoroti faktor pendorong dari sisi permintaan masyarakat yang berlangsung lebih cepat. Belanja masyarakat didorong oleh momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang lebih awal, penyaluran tunjangan hari raya aparatur sipil negara, serta percepatan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam catatan laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Juni 2026, kontribusi konsumsi pemerintah menjadi yang terbesar sejak kuartal IV-2010. Sementara itu, investasi juga tumbuh 6 persen, meningkat dari 5,1 persen pada 2025.

Pertumbuhan investasi tersebut didukung oleh pelonggaran moneter, proyek hilirisasi, serta pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah. Dari sisi sektoral, jasa disebut menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.

Sektor perdagangan, transportasi, perhotelan, keuangan, serta teknologi informasi menyumbang 57 persen pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026. Manufaktur juga mencatat pertumbuhan, khususnya pada industri logam dan elektronik yang masing-masing meningkat 10,3 persen dan 7 persen.

Meski indikator makro menunjukkan ekonomi yang menguat, Bank Dunia menilai momentum tersebut tidak lepas dari tantangan. Guncangan pasar keuangan pada awal tahun dan konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak memperbesar risiko terhadap ekonomi domestik.

Narasi risiko eksternal ini, menurut laporan yang dikutip pada Sabtu (13/6/2026), tidak mengubah fokus utama Bank Dunia pada persoalan yang lebih struktural. Persoalan tersebut terletak pada pasar tenaga kerja, khususnya kualitas lapangan kerja yang tercipta.

Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mampu menciptakan pekerjaan yang produktif dan bergaji baik. Kondisi ini menjadi hambatan untuk menopang mobilitas ekonomi masyarakat.

Dalam laporannya, Bank Dunia menegaskan adanya ketidaksesuaian struktural. Ekonomi disebut menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak cukup menghasilkan pekerjaan produktif dan berupah tinggi yang dibutuhkan untuk mempertahankan mobilitas sosial ke atas sekaligus memperluas kelas menengah.

“Tren-tren ini menggarisbawahi ketidaksesuaian struktural: ekonomi menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak cukup pekerjaan produktif dan bergaji tinggi yang dibutuhkan untuk mempertahankan mobilitas sosial ke atas dan memperluas kelas menengah,” tulis Bank Dunia dalam laporannya, dikutip pada Sabtu (13/6/2026).

Dengan kerangka tersebut, menyusutnya kelas menengah Indonesia dijelaskan sebagai konsekuensi dari kualitas pekerjaan yang belum memenuhi kebutuhan mobilitas sosial. Bank Dunia menempatkan isu lapangan kerja yang belum menghasilkan pekerjaan produktif dan bergaji baik sebagai penggerak utama yang mendorong perubahan struktur tersebut.

Secara keseluruhan, laporan Bank Dunia memperlihatkan dua wajah kondisi ekonomi Indonesia: pertumbuhan yang kuat di awal 2026, namun diiringi tantangan besar pada pasar tenaga kerja. Di titik inilah ruang bagi mobilitas sosial ke atas dan perluasan kelas menengah dinilai belum sepenuhnya ditopang oleh pekerjaan yang tercipta.

Bank Dunia menilai percepatan belanja masyarakat juga terkait dengan pola waktu yang membuat aktivitas ekonomi lebih cepat bergerak. Saat momen Ramadhan dan Idul Fitri datang lebih awal, efeknya terlihat pada penyaluran tunjangan hari raya ASN dan percepatan implementasi MBG, sehingga dorongan permintaan makin terasa.

Di sisi lain, penguatan ekonomi pada kuartal I-2026 tidak hanya bertumpu pada konsumsi. Peran jasa disebut menjadi pengungkit utama, sementara rangkaian sektor seperti perdagangan, transportasi, perhotelan, keuangan, serta teknologi informasi menyumbang porsi besar terhadap pertumbuhan. Manufaktur tetap mencatat kenaikan, terutama pada industri logam dan elektronik yang bergerak lebih tinggi.

Meski laju pertumbuhan terlihat solid, Bank Dunia mengingatkan bahwa hasil tersebut belum otomatis berubah menjadi pekerjaan yang benar-benar produktif dan bergaji baik. Ketidaksesuaian struktural inilah yang kemudian menahan mobilitas ekonomi masyarakat, sekaligus menjelaskan mengapa perluasan kelas menengah tidak sepenuhnya ditopang oleh kualitas pekerjaan yang tercipta. Risiko eksternal seperti guncangan pasar keuangan awal tahun dan lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah ikut mempertebal kehati-hatian terhadap daya tahan ekonomi domestik.