Internasional

Trump Tegaskan AS Tak Akan Cairkan Aset Iran atau Cabut Sanksi Sebelum Kesepakatan Damai Terwujud

1
×

Trump Tegaskan AS Tak Akan Cairkan Aset Iran atau Cabut Sanksi Sebelum Kesepakatan Damai Terwujud

Sebarkan artikel ini
Trump Ogah Cairkan Aset Iran yang Dibekukan, Minta Dahulukan Kesepakatan Damai Global 7 Juni 2026
Ilustrasi: Trump Ogah Cairkan Aset Iran yang Dibekukan, Minta Dahulukan Kesepakatan Damai

jurnalistik.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington tidak akan mencairkan aset Iran yang dibekukan atau mencabut sanksi sebelum kesepakatan damai kedua negara tercapai. Pernyataan itu disampaikannya ketika negosiasi belum mencapai kesepakatan pascagencatan senjata yang dimulai 8 April.

Dalam wawancara dengan NBC News melalui program “Meet the Press” pada Jumat (5/6/2026), Trump menyatakan langkah pelonggaran baru akan dipertimbangkan setelah kesepakatan kedua pihak terselesaikan.

“Datangnya setelah (kesepakatan tercapai),” kata Trump, seperti dikutip Reuters. “Ya. Jika mereka berperilaku, jika mereka melakukan pekerjaan dengan baik, kita mulai berbicara,” imbuhnya.

Pernyataan Trump itu muncul di tengah upaya pemerintahannya untuk membangun kesepakatan damai dengan Iran. Kesepakatan tersebut dikaitkan dengan rangkaian dinamika keamanan yang terjadi setelah pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.

Trump juga menilai proses menuju kesepakatan berjalan sangat dekat. “Kita sangat dekat dengan kesepakatan, atau saya akan menghancurkan mereka,” ujarnya kepada NBC News.

Di sisi lain, Trump menyebut dirinya tidak menjadikan Lebanon sebagai komponen yang wajib dalam kesepakatan jangka pendek dengan Teheran. “Saya pikir mereka ingin melihatnya, tetapi saya tidak menuntutnya,” kata Trump.

Sebelumnya, pejabat tinggi pemerintahan Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menyatakan gencatan senjata sementara tetap bertahan meski terdapat serangan terbaru AS terhadap Iran. Dalam penjelasan pejabat tersebut, serangan terbaru diposisikan sebagai tindakan pertahanan.

Bagi Iran, fokus pembicaraan berada pada permintaan pelepasan aset yang dibekukan. Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, menyampaikan kepada CNN bahwa kesepakatan damai potensial antara Washington dan Teheran bergantung pada keputusan AS untuk melepas aset Iran yang dibekukan senilai 24 miliar dollar AS (sekitar Rp 434 triliun).

Rezaei menilai negosiasi saat ini mengalami kebuntuan dan meminta Trump mengambil langkah untuk membuka jalan. “Negosiasi berada dalam kebuntuan dan (Presiden AS Donald) Trump harus memecahkan kebuntuan ini,” kata Rezaei kepada CNN dalam wawancara eksklusif di Teheran.

Menurut Rezaei, titik penentu berada di pihak Trump. “Bola ada di tangan Trump,” tambahnya.

Rezaei juga merinci permintaan yang disampaikan Iran. Dalam laporan CNN, Iran disebut meminta pelepasan 12 miliar dollar AS (sekitar Rp 217 triliun) aset beku segera setelah kesepakatan sementara ditandatangani, serta tambahan 12 miliar dollar AS pada tahap berikutnya.

Ia menggambarkan tuntutan tersebut sebagai langkah untuk membangun kepercayaan antara kedua negara. “Jika dia (Trump) ingin mencapai kesepakatan dengan Iran, 24 miliar dollar AS ini adalah ujian kepercayaan yang ingin dimiliki Iran dengan Trump – ini adalah ujian yang harus dilalui Amerika dan jalannya akan terbuka,” ujar Rezaei.

Dalam penjelasannya, Rezaei menekankan bahwa dana yang diminta bukan dana pihak lain. “Ini adalah uang kami sendiri, bukan uang Amerika,” tambahnya.

Dengan demikian, isu utama yang mengemuka adalah urutan langkah dalam negosiasi: Trump menempatkan pencairan aset dan pencabutan sanksi sebagai bagian yang baru dibahas setelah kesepakatan damai kedua pihak tercapai. Sementara itu, pihak Iran menilai pelepasan aset yang dibekukan menjadi ukuran kepercayaan yang harus lebih dulu diwujudkan agar perundingan bisa bergerak dari kebuntuan.

Rangkaian pernyataan kedua pihak menunjukkan bahwa negosiasi tetap berada pada titik sensitif. Kesepakatan sementara yang bertahan sejak 8 April menjadi latar, sementara serangan AS terhadap Iran yang terjadi setelah 28 Februari disebut menjadi bagian dari konteks meningkatnya tensi. Di tengah kondisi tersebut, baik Washington maupun Teheran menegaskan posisi mereka masing-masing, dengan Trump menyatakan jalur pelonggaran akan dimulai setelah kesepakatan damai, dan Rezaei menempatkan pelepasan aset Iran sebagai ujian kepercayaan.