jurnalistik.co.id – Ketegangan dalam jajaran pertahanan Ukraina belum mereda setelah Mykhailo Fedorov kembali menegaskan penolakannya terhadap penempatan alternatif di kabinet Presiden Volodymyr Zelensky. Ia bersikukuh ingin jabatan menteri pertahanan, meski Zelensky telah menawarkan sejumlah posisi lain.
Fedorov, yang sebelumnya menjabat sebagai menteri pertahanan dan kini dicopot, mengatakan ia menolak menerima tugas pengganti dalam pemerintahan Zelensky. Dalam pernyataannya, ia mengucapkan terima kasih kepada presiden, namun menilai hanya ada tiga jabatan kunci negara—selain prajurit yang bertempur—yang menentukan arah perang.
Ia menyatakan ada “only three positions in the state – in addition to soldiers on the battlefield – which determine the course of the war: president, defence minister and commander-in-chief”. Dengan argumentasi itu, Fedorov menolak tawaran posisi lain meski presiden menyebut berbagai opsi telah diberikan.
Protes massa dan perubahan di tubuh kepemimpinan militer
Pencopotan Fedorov pekan lalu memicu protes besar-besaran di berbagai tempat. Zelensky kemudian menghadapi tekanan lanjutan hingga memecat panglima tertinggi Oleksandr Syrskyi, yang disebut memiliki konflik dengan Fedorov.
Namun, sebagian pengunjuk rasa menilai pemecatan Syrskyi tidak cukup. Mereka menyatakan akan terus melanjutkan demonstrasi jalanan sampai Fedorov dikembalikan sebagai menteri pertahanan.
Fedorov berusia 35 tahun dan selama masa jabatannya mendapat pujian atas sejumlah langkah pembaruan. Ia dikreditkan berperan menggunakan data untuk meningkatkan kinerja militer Ukraina di garis depan, serta memunculkan inovasi lain, termasuk inisiatif “Army of Drones”.
Selain itu, ia juga dipuji karena memimpin upaya pemberantasan korupsi. Sementara itu, Syrskyi, yang berusia 60 tahun, sebelumnya memainkan peran kunci dalam pertahanan ibu kota Kyiv pada hari-hari awal invasi skala penuh Rusia di bulan Februari 2022.
Meski demikian, banyak pihak di Ukraina kini memandang Syrskyi sebagai komandan bergaya “sekolah” era Soviet yang enggan menerapkan perubahan radikal yang dinilai sangat dibutuhkan di tubuh angkatan bersenjata.
Rencana penutupan perang dan alasan memilih jabatan menteri
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada jurnalis pada Kamis, Fedorov mengatakan timnya memiliki “a specific plan how to end the war” ketika ia ditunjuk sebagai menteri pertahanan pada Januari. Ia menyebut elemen-elemen utama rencana itu mencakup perlindungan wilayah langit, stabilisasi lini depan, serta serangan terhadap ekonomi Rusia.
Berita Terkait
Menurut Fedorov, “For six months, we have consistently implemented this very plan. For the first time in recent years, Ukraine has begun to seize the initiative [on the battlefield].” Ia menilai hasil kolektif yang terbentuk menciptakan peluang untuk memaksa Rusia menuju perdamaian.
Ia menegaskan, “Our collective results have created something unprecedented – a window of opportunity to force Russia into peace through strength. And we cannot afford to lose it.” Dalam kesempatan itu, Fedorov juga menegaskan tidak mengejar jabatan semata.
Ia menekankan bahwa ia tidak pernah mencari “post or status”, tetapi hanya menginginkan “opportunity to really influence the result and bring Ukraine’s victory closer”.
Fedorov telah digantikan oleh Yevhenii Khmara, pejabat senior yang pernah bekerja di keamanan Ukraina (SBU). Sementara itu, Zelensky mengatakan bahwa sebelumnya di minggu yang sama presiden sempat bertemu Fedorov dan mengungkap tawaran untuk posisi wakil perdana menteri urusan inovasi militer.
Zelensky menyebut peran tersebut penting, dengan mengatakan, “This is a very important role,” dan menambahkan, “because innovation must be co-ordinated with the leadership of the defence ministry, the commander-in-chief… and the president.” Meski demikian, Fedorov menolak tawaran tersebut.
Negosiasi masih berlangsung, tetapi “battles of wills” belum selesai
Belum jelas apakah pernyataan Fedorov berarti perundingan terkait masa depannya sudah berakhir. Penasihat kepresidenan Dmytro Lytvyn menyatakan diskusi masih berlanjut, dan “it would be inappropriate to disclose details at this stage”.
Jika Zelensky berpikir masalah ini sudah selesai lewat pengangkatan panglima tertinggi baru, Mykhailo Drapatyi, maka komentar terbaru Fedorov menjadi sinyal bahwa pertarungan kehendak di antara kedua kubu masih belum terselesaikan.
Menurut rangkaian penjelasan Fedorov, ia tidak yakin posisi lain akan memungkinkan dirinya terus mendorong inovasi dan reformasi dengan cara yang ia inginkan. Ia juga menilai tanpa sebuah kementerian di bawah kendalinya, peluang untuk menjalankan arah tersebut menjadi terbatas.
Fedorov meyakini, demikian pula pendukungnya, bahwa ia berkontribusi besar terhadap keberhasilan Ukraina belakangan ini. Meski begitu, dalam pernyataannya ia berhati-hati dengan menyandarkan capaian pada kerja kolektif, menyebut “our collective results”.
Di sisi lain, sejumlah pengamat memberi penekanan berbeda. Mereka menunjuk bahwa keberhasilan Ukraina dalam serangan drone jarak panjang dan jarak menengah ke wilayah Rusia berakar pada rencana yang sudah disusun lebih dari setahun sebelumnya, ketika Syrskyi masih menjabat sebagai panglima tertinggi.
Meski Zelensky telah mengganti kepala militer yang dinilai tidak populer dengan Drapatyi yang lebih muda dan berperingkat tinggi, banyak warga Ukraina tetap memandang Fedorov sebagai figur yang dianggap diperlukan. Kemarahan juga diarahkan kepada presiden, karena keputusan awal mencopot Fedorov dinilai tidak sesuai dengan harapan sebagian publik.












