Peristiwa

Santriwati Pekalongan Mengaku Hamil Tanpa Laki-laki, Keluarga Kaitkan Mimpi

0
×

Santriwati Pekalongan Mengaku Hamil Tanpa Laki-laki, Keluarga Kaitkan Mimpi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Santriwati Pekalongan Mengaku Hamil Tanpa Laki-laki, Keluarga Kaitkan dengan Mimpi

jurnalistik.co.id – PEKALONGAN — Seorang santriwati berinisial F (22) asal Kabupaten Pekalongan mengaku mengalami kehamilan tanpa pernah melakukan hubungan dengan laki-laki. Keluarganya menyebut peristiwa yang dialami F berkaitan dengan mimpi yang pernah muncul sebelumnya. Cerita itu kemudian menjadi perhatian publik setelah kisah kehamilan F viral di media sosial.

F diketahui melahirkan seorang bayi laki-laki pada 13 Desember 2025. Informasi itu memicu banyak pertanyaan di tengah masyarakat, terlebih karena pihak keluarga menegaskan bahwa F tidak pernah memiliki hubungan asmara maupun riwayat perbuatan di luar nikah. Dalam penjelasan keluarga, pengalaman yang dialami F tidak dipandang sebagai peristiwa biasa, melainkan sesuatu yang mereka kaitkan dengan mimpi yang pernah dialami sang anak.

Ayah F, Slamet, mengatakan keluarganya berusaha menerima keadaan tersebut dan memilih berserah diri atas apa yang terjadi. Ia menegaskan bahwa keluarga sudah meyakini rangkaian peristiwa itu sebagaimana yang mereka pahami selama ini. “Kami sudah meyakini begitulah yang terjadi,” kata Slamet dilansir dari TribunJateng, Rabu (27/5/2026).

Slamet juga menyampaikan bahwa keluarga memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan di luar rumah. Menurut dia, ada orang yang mungkin tidak percaya dengan cerita yang disampaikan keluarga, tetapi bagi mereka yang terpenting adalah keadaan F yang kembali tenang setelah melalui tekanan dari situasi ini. “Orang boleh tidak percaya, tapi kami menerima ini sebagai takdir Allah. Yang penting sekarang, anak kami bisa kembali tenang,” tambahnya.

Perubahan kondisi F, menurut Slamet, mulai terlihat setelah putrinya tidak mengalami menstruasi sejak September 2025. Meski demikian, pada awalnya keluarga tidak menemukan tanda-tanda kehamilan yang dianggap jelas. Salah satu hal yang sempat diperhatikan ialah kondisi perut F yang disebut membesar pada waktu tertentu, terutama menjelang sore hingga malam, lalu kembali normal pada waktu lain.

Keluarga juga mengatakan bahwa mereka beberapa kali sempat menanyakan kemungkinan adanya hubungan dengan laki-laki kepada F. Namun, jawaban yang diberikan tetap sama. Slamet menegaskan kembali bahwa F membantah pernah menjalin hubungan asmara maupun melakukan hubungan di luar nikah. Dalam pandangan keluarga, penjelasan itu tidak berubah sejak awal.

Di tengah cerita yang terus menyebar, keluarga F tetap menempatkan pengalaman tersebut dalam kerangka yang mereka pahami sendiri. Mereka menyebut bahwa peristiwa itu berkaitan dengan mimpi yang pernah dialami F sebelumnya. Keterangan itu menjadi bagian dari alasan keluarga saat berupaya menjelaskan bagaimana kehamilan tersebut dipandang dari sudut keluarga, sekaligus menjadi jawaban atas rasa penasaran yang muncul di luar rumah.

F sendiri diketahui pernah menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Buaran setelah lulus Madrasah Tsanawiyah. Keluarga menyebut lingkungan pesantren itu memiliki pengawasan yang ketat. Informasi tersebut disampaikan untuk menunjukkan bahwa selama menimba ilmu di sana, F berada dalam lingkungan yang menurut keluarga dijaga dengan cukup serius.

Di sisi lain, tekanan publik yang muncul setelah kabar ini ramai membuat keluarga mengambil langkah yang mereka nilai paling aman untuk saat ini. Bayi yang dilahirkan F akhirnya diserahkan kepada pihak pengadopsi di Kabupaten Banjarnegara melalui jalur resmi. Keputusan itu diambil untuk menjaga kondisi psikologis F sekaligus memberi masa depan yang lebih baik bagi bayi laki-laki tersebut.

Bagi keluarga, keputusan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menata keadaan setelah kisah yang mereka alami menyebar luas. Mereka ingin F bisa kembali tenang, sementara bayi yang dilahirkan juga mendapat penanganan sesuai jalur yang resmi. Di tengah perbincangan publik yang terus bergulir, keluarga memilih untuk bertahan pada penjelasan yang sejak awal mereka sampaikan dan tidak menambah cerita di luar yang sudah mereka yakini.