jurnalistik.co.id – Pengadilan Arbitrasi untuk Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (Cas) memutus bahwa Lazio Women melakukan pemutusan kerja secara melawan hukum terhadap mantan gelandang asal Swedia, Maja Gothberg, karena kehamilannya. Dalam putusan tersebut, pemain tersebut juga dinyatakan berhak menerima kompensasi serta “moral damages”.
Cas memihak Gothberg dalam sengketa yang oleh Serikat Pemain Global, FifPro, disebut sebagai kasus “groundbreaking”. Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa Lazio Women dinilai melanggar aturan terkait kehamilan dalam hubungan kerja pemain.
Selain kompensasi finansial, Gothberg juga akan memperoleh “moral damages” dari klub. Cas juga menemukan bahwa klub telah mengungkapkan informasi mengenai kehamilan Gothberg kepada beberapa rekan setim, tanpa persetujuan dari pemain.
“Kasus ini tidak pernah hanya tentang sepak bola, melainkan tentang diperlakukan secara adil dan dengan rasa hormat pada momen penting dalam hidup saya,” kata Gothberg. “Putusan ini mengirimkan pesan bahwa kehamilan tidak boleh dianggap sebagai masalah atau alasan untuk menutup peluang kerja bagi seorang pemain.”
Pertikaian tersebut berawal ketika perkara Gothberg sempat ditolak pada tahap sebelumnya di FIFA. Setelah kasusnya tidak diterima oleh FIFA Dispute Resolution Chamber (DRC), sengketa kemudian dibawa ke Cas.
BBC Sport menyebut telah menghubungi Lazio Women untuk meminta komentar, namun belum ada tanggapan yang dipublikasikan dalam laporan tersebut.
Kasus berawal dari akhir musim 2023-24
Perselisihan bermula pada akhir musim 2023-24. Pada periode itu, Gothberg tampil sebanyak 29 kali dan ikut membantu klub meraih promosi ke kasta tertinggi sepak bola Italia.
Gothberg menyatakan bahwa Lazio melakukan pembicaraan terkait kontrak baru. Meski kontrak tersebut belum ditandatangani secara resmi, ia menunjuk bukti pesan WhatsApp yang menunjukkan bahwa poin-poin penting kesepakatan telah dijalin.
Sebelum kontrak difinalisasi, Gothberg mengetahui bahwa dirinya tengah hamil dan kemudian memberi tahu klub. Ia juga disebut tidak memiliki kewajiban secara hukum untuk menyampaikan informasi tersebut.
Lazio dinilai tidak memenuhi kesepakatan yang menjadi dasar pembicaraan. Setelah hubungan di antara kedua pihak memburuk, klub kemudian menyampaikan klaim bahwa Gothberg tidak lagi ingin melanjutkan permainan di klub.
Menurut ketentuan FIFA, klub harus membuktikan bahwa kehamilan bukanlah alasan pemutusan kontrak. FIFA juga menempatkan informasi kehamilan sebagai data medis yang bersifat rahasia.
Alexandra Gomez Bruinewoud, direktur hukum FifPro, menyatakan, “Kasus ini menunjukkan bahwa Peraturan Maternitas FIFA bukan sekadar kata-kata di atas kertas, tetapi memberikan perlindungan nyata bagi para pemain.” Ia menambahkan, “Dampak putusan ini melampaui Maja Gothberg dan menegaskan bahwa klub tidak bisa sekadar mengakhiri hubungan kerja, meskipun kesepakatan itu tidak sepenuhnya formal, setelah mengetahui seorang pemain sedang hamil.”
Sepanjang proses sengketa, Gothberg memperoleh dukungan dan pendampingan dari FifPro serta serikat pemain asal Swedia, Spelarforeningen.
Preseden serupa: Lyon dan tuntutan gaji saat hamil
Dalam konteks yang lebih luas, laporan juga mengingatkan preseden pada 2023. Saat itu, mantan kapten Islandia, Sara Bjork Gunnarsdottir, memenangkan tuntutan terhadap Lyon karena kegagalan klub membayar gaji penuh selama masa kehamilan.
Seputusan tribunal FIFA memerintahkan Lyon membayar gaji yang belum dibayar senilai lebih dari 82.000 euro atau sekitar £72.000. FifPro pada saat itu menyebutnya sebagai kasus “landmark”.
Lyon juga telah diberi peringatan oleh FIFA bahwa jika pembayaran tidak dilakukan dalam waktu 45 hari setelah keputusan, klub berisiko terkena larangan transfer.
Hak maternitas yang ada dalam regulasi FIFA
Pada 2024, FIFA melakukan perubahan untuk memperkuat perlindungan bagi pemain perempuan dan pelatih selama serta setelah kehamilan. Perubahan itu juga mencakup situasi non-biologis seperti adopsi.
Kerangka yang diperbarui mencakup penambahan minimal 14 minggu cuti melahirkan dengan bayaran untuk pelatih. Sebelumnya, ketentuan tersebut hanya tersedia bagi pemain.
Dalam aturan yang disebutkan, pemain dan pelatih dibayar 100% dari gaji mingguan mereka, termasuk remunerasi dan manfaat lain, sebelum kemudian menurun ke tarif sesuai ketentuan setelah 14 minggu.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa klub dapat memilih untuk membayar gaji penuh untuk jangka waktu yang lebih panjang apabila mereka menginginkannya.
Untuk adopsi, pemain dan pelatih dapat diberikan periode cuti yang disesuaikan dengan usia anak. Sementara itu, family leave tersedia bagi orang tua yang bukan ibu biologis.
Klub juga dapat mendaftarkan atau menandatangani pemain di luar jendela transfer jika anggota skuad telah mengambil cuti maternitas, adopsi, atau family leave.
Selain itu, pemain berhak meminta absen dari latihan atau pertandingan karena alasan kesehatan terkait kondisi menstruasi, namun tetap dengan pembayaran penuh.
Pada 2024, BBC Sport melaporkan bahwa klub menerima pedoman baru dari FifPro mengenai cara mendukung pemain saat kembali setelah melahirkan. Pedoman tersebut mencakup berbagai topik, termasuk kebugaran, nutrisi, dan pengasuhan anak.
Laporan juga menyebut bahwa pada bulan lalu, Professional Footballers’ Association (PFA) meluncurkan kemitraan dengan klinik kesuburan untuk memberi anggota akses pada panduan yang bersifat rahasia dan ahli terkait perencanaan keluarga, termasuk diskon finansial untuk perawatan tertentu.







