Peristiwa

Petugas pemeriksa tiket terluka disebut pahlawan dalam kecelakaan kereta fatal di Bedford

×

Petugas pemeriksa tiket terluka disebut pahlawan dalam kecelakaan kereta fatal di Bedford

Sebarkan artikel ini
Injured ticket inspector who helped others in Bedford train crash hailed a hero
Ilustrasi: Injured ticket inspector 'a hero' in fatal Bedford train crash

jurnalistik.co.id – Seorang petugas pemeriksa tiket yang turut membantu penumpang pasca-kecelakaan kereta fatal di Bedford kini mendapat pujian luas, bahkan disebut sebagai “pahlawan” oleh seorang penumpang yang menyaksikan langsung keadaan di lokasi kejadian.

Kecelakaan terjadi pada Jumat, ketika dua layanan East Midlands Railway (EMR) menuju London St Pancras bertabrakan di dekat Bedford sekitar pukul 17:15 BST. Dalam peristiwa itu, sekitar 100 orang dilaporkan mengalami cedera.

Sementara itu, Shaun Burton, pengemudi kereta, dinyatakan meninggal dunia dalam tabrakan tersebut.

Seorang penumpang, Mareks Grabovskis, menceritakan bahwa ia melihat petugas pemeriksa tiket itu menanggung rasa sakit, namun tetap bergerak membantu penumpang yang terluka. Grabovskis mengatakan petugas tersebut berinisiatif berkomunikasi melalui radio dan memeriksa kondisi orang lain.

“I could see he was in pain himself, but he was telling someone on the radio to close the lines, and checking if everyone else was OK,” ucap Mareks Grabovskis.

Grabovskis menjelaskan bahwa ia berada di perjalanan menggunakan kereta Corby pukul 16:40. Ia berencana menaiki gerbong pertama, tetapi karena terlalu penuh—sementara kereta hanya memiliki empat gerbong—ia memutuskan berpindah ke gerbong terakhir pada detik terakhir.

Menurutnya, ia sempat “terlempar” saat tabrakan terjadi. Ia pingsan dan kemudian tersadar di lantai, lalu melihat orang-orang berada dalam kondisi memprihatinkan. Ia juga menggambarkan situasi yang ia lihat saat itu.

“I passed out and woke up on the floor to see people ‘covered in blood’ and screaming,” kata dia. Grabovskis menambahkan, momen tersebut merupakan salah satu yang paling menakutkan dalam hidupnya, namun ia bersyukur masih bisa berada di tengah situasi itu.

Gangguan layanan antara London dan Bedford diperkirakan berlangsung sekitar satu minggu. Dalam penanganan dampak kerusakan, Blake Stephenson, anggota parlemen untuk Mid Bedfordshire, menyebut perlu ada penggantian sekitar 600 meter rel.

“[There would need to be] replacing 600m (1968ft) of track,” kata Stephenson.

Sarah Conboy, pimpinan Huntingdon District Council, menyatakan dukanya atas kabar meninggalnya Shaun Burton. Ia menyampaikan kehilangan tersebut dirasakan mendalam oleh keluarga dan komunitas lokal tempat Burton berkiprah.

“His loss is profoundly felt, both by his family and across the local community he served,” tambah Sarah Conboy.

Conboy juga mengingat bahwa Burton sebelumnya adalah anggota dewan independen untuk wilayah Stukeleys pada periode 2018 hingga 2022.

Dalam proses pemulihan, Stephenson mengatakan lokasi kecelakaan “cukup sulit dijangkau”. Ia menjelaskan bahwa kabel overhead perlu dilepas, crane harus dapat mengakses bagian-bagian kereta yang rusak, dan kerusakan pada rel begitu luas sehingga sekitar 600 meter rel harus diganti sebelum kabel overhead dapat dipasang kembali.

“The overhead wires need to be removed, a crane needs access to remove train carriageways and there’s been so much damage to the rails that about 600m of track needs to be replaced before the overhead wires can be replaced and then the track can reopen,” ujar Stephenson.

Ia menambahkan bahwa tim akan bekerja dengan cepat, tetapi pekerjaan yang harus dilakukan jumlahnya sangat besar.

“The teams will work at pace but there’s an awful lot of work to do,” katanya.

Seorang dokter yang mengalami beberapa patah tulang akibat tabrakan dilaporkan tetap berada di dalam kereta untuk membantu menangani penumpang dengan cedera paling serius. Seorang dokter umum dari Bedford juga disebut bertahan di lokasi sebelum para korban dibawa ke rumah sakit.

Pada Senin, sejumlah penumpang yang tiba di Stasiun Bedford mengatakan staf kereta terus berupaya memberikan dukungan bagi penumpang. Network Rail menyatakan jalur diperkirakan tetap ditutup antara Bedford dan Luton untuk sisa pekan ini hingga 28 Juni.

Network Rail juga menyampaikan tidak akan ada layanan GTR di utara Luton dan tidak ada layanan EMR di selatan Bedford. Sebagai gantinya, tersedia bus pengganti layanan kereta secara terbatas antara Luton dan Bedford.

Sejumlah penumpang turut membagikan pengalaman mereka menghadapi pengalihan rute. Bernie Casey, misalnya, menyatakan ia memilih bekerja dari rumah karena lamanya perjalanan menggunakan layanan bus pengganti.

Casey biasa menempuh perjalanan dari Bedford ke London untuk bekerja, tetapi kali ini ia tidak bisa melakukannya akibat keterlambatan. Ia mengatakan ia sudah bangun pukul 06:00 BST pada Jumat untuk mencoba berangkat, namun perjalanan itu tidak terjadi.

“I was up at 06:00 BST looking to attempt the journey, but it’s not going to happen. It’s a sad set of circumstances,” ujarnya. Casey juga menyampaikan bahwa perjalanan pada Jumat sebelumnya terganggu dan butuh hampir lima jam untuk kembali ke Bedford.

Ia menyatakan keprihatinannya kepada para korban kecelakaan. “I mean, my heart goes out to the people who were affected in the crash on Friday,” katanya.

Casey juga memuji staf di stasiun. Ia menyebut begitu tiba, orang-orang sudah berada di sana untuk memberi saran dan bantuan terkait perkiraan durasi perjalanan, yang kemudian memengaruhi keputusan untuk tidak berangkat.

Megan Hughes, yang biasa bepergian dari Flitwick ke Bedford dan biasanya hanya membutuhkan 10 hingga 15 menit, mengatakan layanan pengganti membuat perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit sehingga ia berpotensi terlambat bekerja. Ia memuji tim di Flitwick yang memberikan arahan bagi penumpang yang sedang stres.

“She praised the teams at Flitwick for offering advice to stressed passengers,” demikian laporan tersebut, sementara Hughes menambahkan bahwa ia merasa lebih tenang karena ada orang yang memberitahu arah tujuannya.

Penumpang lain, Feby Thomas, dari Wellingborough, mengaku sempat masih bisa naik kereta, tetapi harus mengubah jadwal shift di tempat kerja. Ia menyatakan butuh sekitar dua jam lebih lama untuk pulang pada Jumat, namun ia baru memahami penyebab keterlambatan kemudian.

“We didn’t know what happened. When we got home and saw the news, it was terrible,” katanya. Thomas menegaskan keterlambatan yang ia hadapi menjadi hal yang tidak seberapa dibandingkan besarnya keparahan tabrakan.

Nana Adjho, yang biasanya tinggal di Stevenage dan menuju Luton untuk melanjutkan perjalanan ke Bedford, menyatakan bus pengganti yang ia gunakan perlu diperbaiki. Ia juga mengatakan tidak banyak informasi yang ia terima mengenai keterlambatan.

Ia menilai keseluruhan perjalanan memakan waktu sekitar 90 menit lebih lama dari biasanya, sehingga ia diperkirakan terlambat bekerja. Di tengah gangguan layanan yang meluas, kisah tentang petugas pemeriksa tiket—yang meski terluka tetap membantu—menjadi salah satu sorotan utama dari pengalaman penumpang di Bedford.