jurnalistik.co.id – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyoroti tiga tantangan utama yang masih dihadapi pemerintah daerah dalam pengembangan ekonomi daerah. Tiga hal itu, menurut dia, adalah perlunya diversifikasi ekonomi daerah, peningkatan kualitas belanja daerah, dan keterbatasan kapasitas fiskal daerah.
Juda menyampaikan poin tersebut dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (25/5/2026). Dalam forum itu, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah masih berhadapan dengan pekerjaan rumah yang tidak ringan untuk mendorong ekonomi tumbuh lebih kuat dan lebih merata.
Ketergantungan pada sektor primer
Menurut Juda, banyak daerah masih bergantung pada sektor komoditas primer serta transfer dari pemerintah pusat. Kondisi itu membuat struktur ekonomi daerah belum sepenuhnya beragam, sehingga ruang untuk mengembangkan sumber pertumbuhan baru masih terbatas.
Di sisi lain, ketergantungan terhadap transfer dari pusat juga menunjukkan bahwa banyak daerah belum memiliki basis pendapatan dan aktivitas ekonomi yang cukup kuat untuk menopang kebutuhan pembangunan secara mandiri. Karena itu, diversifikasi ekonomi menjadi salah satu agenda yang dinilai penting untuk diperkuat.
Juda menempatkan diversifikasi ekonomi daerah sebagai tantangan pertama yang perlu mendapat perhatian. Dengan ekonomi yang lebih beragam, daerah diharapkan tidak terlalu rentan ketika satu sektor mengalami perlambatan. Namun, dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa tantangan itu masih nyata dan belum sepenuhnya teratasi.
Belanja daerah belum sepenuhnya produktif
Tantangan kedua yang disoroti Juda adalah peningkatan kualitas belanja daerah. Ia menilai belanja daerah belum sepenuhnya produktif karena masih didominasi belanja pegawai dan barang. Dengan komposisi seperti itu, belanja daerah dinilai belum optimal dalam mendukung penguatan ekonomi daerah.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya arah belanja yang tidak hanya terserap untuk kebutuhan rutin, tetapi juga mampu memberi dampak lebih besar bagi aktivitas ekonomi di daerah. Dalam pandangan Juda, kualitas belanja menjadi salah satu kunci agar anggaran daerah benar-benar mendorong pertumbuhan.
Meski begitu, ia tidak mengubah fokus utamanya dari tiga tantangan pokok yang disebutkan sejak awal. Baginya, persoalan belanja daerah tetap perlu dibenahi bersama dengan upaya memperluas basis ekonomi dan memperkuat kapasitas fiskal daerah.
Kapasitas fiskal daerah masih terbatas
Tantangan ketiga adalah keterbatasan kapasitas fiskal daerah. Juda menyebut masalah ini sebagai bagian penting dari gambaran umum yang dihadapi pemerintah daerah dalam mengembangkan ekonomi wilayahnya. Kapasitas fiskal yang terbatas membuat ruang gerak daerah menjadi lebih sempit dalam mendorong program-program pembangunan.
Dalam konteks itu, Juda menekankan bahwa sinergi antara kebijakan fiskal pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut dia, kerja bersama kedua level kebijakan tersebut harus benar-benar terasa dampaknya di lapangan.
“Pertumbuhan tidak dimulai dari tabel dan angka, pertumbuhan dimulai ketika kebijakan pusat dan daerah bergerak bersama dan manfaatnya dirasakan sampai ke rumah tangga,” kata Juda seperti dikutip dari keterangan pers Kementerian Keuangan.
Pernyataan itu menegaskan pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya berhenti pada data dan indikator, tetapi harus menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. Karena itu, koordinasi antara pusat dan daerah menjadi unsur yang dinilai menentukan dalam mendorong hasil yang lebih nyata.
Dengan tiga tantangan yang ia soroti, Juda kembali menempatkan pengembangan ekonomi daerah sebagai agenda yang memerlukan kerja bersama dan arah kebijakan yang selaras. Di satu sisi, daerah perlu memperluas sumber ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada satu sektor. Di sisi lain, kualitas belanja dan kapasitas fiskal juga harus diperkuat agar kebijakan di daerah bisa lebih efektif mendukung pertumbuhan.
Pada akhirnya, pesan utama Juda dalam forum tersebut cukup jelas: ekonomi daerah akan lebih kuat jika sumber pertumbuhannya lebih beragam, belanjanya lebih produktif, dan kapasitas fiskalnya lebih memadai. Sinergi pusat dan daerah, menurut dia, menjadi jembatan agar manfaat kebijakan benar-benar sampai ke rumah tangga.






