Peristiwa

BNPB Ingatkan Kekeringan dan Karhutla, Pemda Diminta Petakan Wilayah Krisis Air Bersih

×

BNPB Ingatkan Kekeringan dan Karhutla, Pemda Diminta Petakan Wilayah Krisis Air Bersih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Waspada Kekeringan dan Karhutla, BNPB: Pemda Diminta Petakan Wilayah

jurnalistik.co.id – BNPB mengingatkan pemerintah daerah untuk segera menyiapkan langkah menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sepekan ke depan. Imbauan itu disampaikan menyusul pemantauan kondisi iklim yang menunjukkan El Niño masih terdeteksi di Samudra Pasifik.

Kepala BNPB meminta pemda memetakan wilayah yang berisiko agar penyaluran dukungan bisa berjalan lebih cepat. Fokus pemetaan diarahkan pada area yang diperkirakan terdampak kekeringan sekaligus kebutuhan penanganan karhutla bila titik api mulai muncul.

Dalam keterangan BNPB yang dikutip pada Jumat (3/7/2026), pemerintah daerah juga diminta mempercepat proses pengenalan lokasi terdampak. “Pemerintah daerah juga diharapkan segera memetakan wilayah rawan kekeringan guna mempercepat distribusi bantuan armada tangki air bersih ke daerah terdampak,” bunyi keterangan BNPB.

Selain pemetaan, BNPB menekankan pentingnya pengelolaan pemakaian air secara lebih disiplin oleh masyarakat. BNPB meminta warga memprioritaskan kebutuhan pokok, seperti untuk minum dan memasak, serta lebih teliti memeriksa instalasi pipa di lingkungan sekitar untuk mencegah kebocoran.

Untuk menekan risiko karhutla, BNPB juga mengarahkan langkah pencegahan dari tingkat aktivitas harian masyarakat. “Sebagai bagian dari upaya pencegahan karhutla dan kebakaran permukiman, BNPB meminta masyarakat untuk tidak membuka lahan atau membersihkan pekarangan dengan cara membakar,” ucap dia.

BNPB menambahkan bahwa kebiasaan membuang puntung rokok juga perlu diperhatikan karena dapat menjadi pemicu munculnya api di musim yang kering. “Masyarakat juga diharapkan memastikan puntung rokok telah padam sepenuhnya sebelum dibuang serta segera melaporkan kemunculan titik asap atau api sekecil apa pun kepada BPBD atau Dinas Pemadam Kebakaran setempat,” ucap dia.

Menurut BNPB, upaya pengurangan dampak bencana tidak hanya bertumpu pada tindakan teknis, tetapi juga pada kesiapsiagaan bersama. BNPB menilai gotong royong dan koordinasi di lapangan berperan dalam merespons cepat ketika kondisi darurat mulai terjadi, termasuk ketika potensi asap dan api berkembang di wilayah rawan.

Dalam perkembangan pemantauan iklim, BNPB menyebut El Niño masih terpantau. “Berdasarkan analisis indikator iklim global terkini, kondisi El Niño masih terpantau di Samudra Pasifik,” bunyi keterangan BNPB.

Kondisi tersebut, kata BNPB, umumnya menurunkan peluang terbentuknya curah hujan di banyak wilayah Indonesia. BNPB juga melaporkan hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang menunjukkan ada wilayah dengan periode kering yang berlangsung lebih lama, sehingga kebutuhan kesiapsiagaan perlu ditingkatkan sejak dini.

Berdasarkan pemantauan HTH, sebanyak 493 titik atau sekitar 11 persen wilayah pengamatan masuk kategori panjang. Sementara itu, 84 titik atau sekitar 2 persen berada pada kategori sangat panjang, yang mengindikasikan adanya area dengan durasi kering lebih ekstrem dibanding periode normal.

BNPB turut menginformasikan kondisi suhu udara maksimum pada periode pemantauan. “Selain itu, suhu udara maksimum pada periode 28 Juni–1 Juli 2026 masih tercatat mencapai lebih dari 35°C di beberapa wilayah, antara lain Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur,” jelasnya. BNPB mengaitkan temuan ini dengan potensi peningkatan risiko di wilayah yang lebih rentan terhadap dampak kekeringan.

Meskipun demikian, BNPB menyatakan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat tetap terjadi di sejumlah wilayah. Pada periode yang sama, curah hujan tertinggi tercatat terjadi di Kepulauan Riau sebesar 81 milimeter per hari, disusul Kalimantan Barat 76 milimeter per hari, Papua Tengah 57 milimeter per hari, serta Sumatra Utara 54 milimeter per hari.

BNPB menjelaskan bahwa hujan yang masih berlangsung di Indonesia bagian utara dan sekitar ekuator dipengaruhi oleh dinamika atmosfer tertentu. Faktor yang disebut meliputi Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di sebagian Papua, Gelombang Kelvin di sebagian Sumatra dan Kalimantan, serta Gelombang Rossby Ekuatorial di sebagian Papua.

BNPB menambahkan bahwa kondisi atmosfer yang labil ikut meningkatkan peluang pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut. Dengan gambaran itu, BNPB menilai bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, karena distribusi hujan dapat tidak merata dan wilayah tertentu tetap berpotensi mengalami keterbatasan air.

Di tengah kondisi tersebut, BNPB meminta semua pihak menjalankan langkah pencegahan secara konsisten. Bagi pemda, pemetaan wilayah rawan menjadi dasar untuk mengatur respons, termasuk percepatan bantuan armada tangki air bersih. Bagi masyarakat, penghematan air, pencegahan pembakaran lahan atau pekarangan, serta pelaporan cepat ketika ada titik asap atau api dinilai penting agar risiko karhutla bisa ditekan sedini mungkin.