Daerah

Warga Gili Meno Berjuang Lepas dari Krisis Air Bersih

3
×

Warga Gili Meno Berjuang Lepas dari Krisis Air Bersih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Perjuangan Warga Gili Meno Lepas dari Krisis Air Bersih

jurnalistik.co.id – Warga Gili Meno, Lombok Utara, masih berjuang mendapatkan air bersih selama lebih dari tiga tahun. Di pulau yang dikenal tenang, alami, dan menjadi tujuan wisata itu, 267 kepala keluarga (KK) atau sekitar seribu jiwa harus terus mencari cara agar kebutuhan air sehari-hari tetap terpenuhi.

Di satu sisi, warga terus menjaga kawasan yang diburu wisatawan. Mereka ikut merawat alam dan kawasan hutan bakau di Gili Meno. Pulau ini dipilih banyak pelancong karena suasananya yang tenang, lautnya yang biru, dan pasir putihnya yang lembut. Namun di sisi lain, kebutuhan paling dasar berupa air bersih justru belum kunjung mendapat kepastian.

“Tapi mengapa perhatian pemerintah seperti berat sebelah pada kami”

H. Mahrip, salah satu warga Gili Meno, mengaku perjuangan itu belum menunjukkan titik terang. Menurut dia, warga sudah menunggu terlalu lama untuk bisa mendapatkan air bersih dengan layak dan mudah diakses.

“Tapi mengapa perhatian pemerintah seperti berat sebelah pada kami, kebutuhan akan air sudah tiga tahun kami tunggu tidak ada kejelasan, terus terang ini sangat menyulitkan, Ini bukan hanya menunggu tapi ini merugikan sekali,” kata H. Mahrip, Kamis (21/5/2026).

Mahrip yang mendirikan tiga bungalo di sekitar rumahnya juga memiliki sebuah restoran kecil untuk melayani kebutuhan tamu yang menginap. Kamar-kamar di tempatnya disewakan Rp 300.000-Rp 400.000 per malam, dan tamu yang datang kadang menginap lebih dari tiga hari. Meski begitu, biaya air bersih yang harus ia keluarkan selama tiga tahun terakhir justru sangat besar.

Untuk memenuhi kebutuhan air selama sebulan, Mahrip mengatakan ia bisa menghabiskan dana hingga Rp 4 juta. Air itu dibeli dari darat menggunakan tandon atau sekitar Rp 35.000 per liter. Menurut dia, kebutuhan air untuk mandi dan memasak berbeda dengan kebutuhan air minum dalam bentuk galon isi ulang.

Untuk minum, harga per galon mencapai Rp 15.000-Rp 20.000. Dalam sehari, kebutuhan bisa lebih dari 10 galon air karena setiap kamar yang dihuni tamu dilengkapi dengan air galon. Kondisi ini membuat pengeluaran warga, terutama yang juga menjalankan usaha penginapan, terus membengkak hanya untuk memastikan tamu tetap mendapat layanan dasar.

Upaya bertahan dengan tandon dan air hujan

Di tengah kesulitan itu, Mahrip mengakui ia kadang berupaya mengantisipasi kerugian dengan mencampur air darat atau tawar dengan air asin sehingga menjadi air payau. Cara itu memang bisa membantu, tetapi tidak selalu bisa dilakukan karena tamu akan mengeluh.

Karena itu, selain membeli air bersih, Mahrip dan warga lainnya juga menyiapkan tandon untuk menampung air hujan. Menurut dia, cara tersebut sedikit membantu mereka berhemat, meski belum menyelesaikan persoalan utama yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Ani, warga Gili Meno lainnya, juga mengaku bingung dengan susahnya air bersih selama tiga tahun ini. Ia menegaskan bahwa kebutuhan memasak dan minum tidak bisa dipenuhi dengan air asin.

“Sudah saya coba masak nasi dengan air asin tapi kok rasanya pahit, karena itu kami butuh air bersih,” kata Ani.

Ani kemudian menunjukkan aktivitas tetangganya, Hj. Napsiah yang berusia 80 tahun, saat mencuci pakaian dengan mesin cuci. Namun, air yang dipakai adalah air asin, yang tentu berdampak pada usia atau ketahanan mesin cuci.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa krisis air bersih di Gili Meno bukan hanya menyulitkan urusan dapur dan minum, tetapi juga memengaruhi aktivitas harian warga lainnya. Dari usaha kecil, kebutuhan rumah tangga, hingga perawatan peralatan, semuanya ikut terdampak ketika air bersih sulit didapat dan harganya mahal.

Selama air bersih belum tersedia secara pasti, warga Gili Meno tetap harus bertahan dengan biaya tambahan, tandon air hujan, dan berbagai penyesuaian lain. Di pulau yang ramai dikunjungi karena keindahan alamnya, kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan yang paling mendesak bagi warga yang tinggal dan bekerja di sana.