jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 26 Juni 2026, ditutup melemah. Berdasarkan data penutupan, IHSG terkoreksi turun 1,72 persen atau 102,9 poin menjadi 5.896,13.
Pergerakan tersebut tercermin dari dominasi sektor yang berada di zona merah. Sejumlah sektor mengalami penurunan, termasuk sektor barang baku yang turun paling dalam sebesar 5 persen.
Sektor perindustrian juga ikut melemah sebesar 4,23 persen. Selanjutnya, sektor barang konsumen non-primer turun 2,96 persen, diikuti sektor energi yang melemah 2,62 persen, serta sektor teknologi yang turun 2,51 persen.
Di tengah tekanan pada mayoritas sektor, sektor keuangan menjadi satu-satunya yang menguat. Namun, kenaikannya relatif tipis, yakni 0,03 persen.
Aktivitas perdagangan pada hari tersebut tercatat cukup ramai. Volume transaksi mencapai 20,32 miliar saham, sementara nilai transaksi total sebesar Rp 12,35 triliun.
Komposisi pergerakan saham juga menunjukkan kecenderungan melemah. Terdapat 123 saham yang menguat, 562 saham yang turun, dan 129 saham yang stagnan.
Dalam konteks transaksi investor asing, pergerakan menunjukkan adanya tekanan jual pada sejumlah saham. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat menjadi yang paling banyak dijual oleh investor asing pada penutupan IHSG Jumat, 26 Juni 2026.
Sepuluh saham dengan net sell terbesar oleh investor asing pada penutupan tersebut adalah BMRI, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Timah Tbk (TINS), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Nilai net sell masing-masing saham adalah sebagai berikut: PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 173,95 miliar; PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 152,82 miliar; PT Astra International Tbk (ASII) Rp 87,46 miliar; PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp 56,12 miliar; serta PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 54,65 miliar.
Saham berikutnya yang mencatat net sell cukup besar antara lain PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebesar Rp 41,34 miliar; PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 30,69 miliar; PT Timah Tbk (TINS) Rp 29,65 miliar; dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 27,97 miliar.
Di posisi terakhir dari daftar sepuluh besar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatat net sell sebesar Rp 25,78 miliar.
Dengan IHSG yang turun 1,72 persen dan mayoritas sektor melemah, data transaksi hari itu juga memperlihatkan bahwa tekanan jual investor asing terkonsentrasi pada sejumlah saham unggulan, dengan BMRI menjadi yang paling dominan dalam nilai net sell.
Secara lebih rinci, komposisi pergerakan saham yang didominasi penurunan memperkuat gambaran bahwa sentimen pada hari tersebut cenderung melemah. Dari total saham yang tercatat bergerak, jumlah emiten yang turun jauh lebih besar dibanding yang menguat, sementara sisanya bergerak datar.
Aktivitas perdagangan yang tercatat tinggi juga menunjukkan bahwa minat pelaku pasar tetap berlangsung meski indeks terkoreksi. Volume transaksi mencapai puluhan miliar saham dengan nilai yang mencapai belasan triliun rupiah, sehingga pergerakan IHSG mencerminkan perubahan harga yang melibatkan arus transaksi cukup signifikan.
Di sisi investor asing, tekanan jual terlihat terutama pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi yang paling besar nilai net sell-nya, disusul PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan masing-masing tercatat Rp 173,95 miliar, Rp 152,82 miliar, Rp 87,46 miliar, Rp 56,12 miliar, serta Rp 54,65 miliar.
Selanjutnya, investor asing juga mencatat net sell cukup material pada beberapa nama lain, termasuk PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Timah Tbk (TINS), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Pola ini memperlihatkan bahwa pelemahan IHSG pada hari Jumat, 26 Juni 2026, tidak hanya dipengaruhi pergeseran sektor, tetapi juga oleh konsentrasi aksi jual asing pada sejumlah saham unggulan.












