jurnalistik.co.id – Akses layanan keuangan digital yang semakin luas dinilai perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang pengelolaan keuangan, terutama bagi mahasiswa yang kian mudah menjangkau produk keuangan berbasis aplikasi.
Hal ini menjadi perhatian karena mahasiswa kini dapat menggunakan berbagai layanan keuangan digital, termasuk layanan pinjaman daring atau pinjol.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru, tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia telah melampaui 80 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada pada kisaran 60 hingga 70 persen.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sudah terbiasa memanfaatkan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami manfaat, risiko, dan konsekuensi dari penggunaannya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat layanan pinjaman daring terus mengalami pertumbuhan signifikan. Jumlah rekening penerima pinjaman disebut mencapai puluhan juta akun.
Di sisi lain, Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) secara konsisten menemukan dan menindak ribuan entitas pinjaman online ilegal dalam beberapa tahun terakhir.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa risiko penyalahgunaan layanan keuangan digital masih menjadi tantangan. Tantangan ini terutama terasa ketika tingkat literasi keuangan belum memadai.
Untuk merespons kondisi tersebut, Kredit Pintar bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar program edukasi keuangan bertajuk Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi di Universitas Islam Malang pada Rabu (24/6/2026).
Melalui kegiatan itu, penyelenggara mendorong generasi muda agar menjadi pengguna layanan keuangan yang lebih cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Pengelolaan keuangan sebagai keterampilan sejak dini
Head of Brand & Communications Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, menyampaikan bahwa pengelolaan keuangan merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa sejak dini.
Dalam siaran pers pada Sabtu (27/6/2026), Puji menjelaskan, “Di tengah berbagai tantangan finansial yang dihadapi mahasiswa, pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya soal besar atau kecilnya uang saku, melainkan bagaimana mengalokasikannya secara tepat. Melalui kegiatan ini, kami mengajak mahasiswa untuk memahami pentingnya pengelolaan keuangan sejak dini sebagai fondasi menuju masa depan yang lebih sejahtera,” ujar Puji.
Menurut pesan yang disampaikan melalui kegiatan tersebut, fokus edukasi diarahkan pada kebiasaan mengelola uang secara lebih terencana. Dengan begitu, mahasiswa diharapkan mampu menempatkan kebutuhan finansial secara lebih rasional.
Metode 50/30/20 untuk menyusun prioritas
Dalam sesi edukasi, peserta diperkenalkan pada metode pengelolaan keuangan 50/30/20. Metode ini menekankan pembagian pendapatan menjadi beberapa pos agar pengeluaran lebih terarah.
Puji dan tim menjelaskan bahwa melalui metode tersebut, 50 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan gaya hidup, dan 20 persen untuk tabungan maupun investasi.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun kebiasaan finansial yang sehat dan berkelanjutan. Melalui pembiasaan pembagian anggaran, mahasiswa dapat belajar menyeimbangkan penggunaan dana dan perencanaan masa depan.
Dengan mempertimbangkan kondisi akses pinjol yang terus meningkat serta temuan terkait aktivitas pinjaman online ilegal, edukasi seperti program Pindar Mengajar diposisikan sebagai upaya memperkuat pemahaman pengguna sejak awal.
Langkah edukasi yang menekankan literasi keuangan juga menjadi penanda bahwa peningkatan akses tidak dapat berjalan sendiri. Pemahaman tentang risiko dan konsekuensi tetap menjadi bagian yang menentukan kualitas keputusan finansial.
Selain itu, perbedaan angka inklusi dan literasi pada SNLIK dapat menjadi pengingat bahwa kebiasaan memakai layanan keuangan tidak otomatis berarti kemampuan mengelola keuangan sudah matang.
Karena itu, program-program yang menyasar mahasiswa di kampus dinilai penting untuk memperluas pengetahuan praktis, termasuk cara memprioritaskan kebutuhan, mengatur gaya hidup, serta menyiapkan tabungan dan investasi.
Dengan mengikuti kerangka pengelolaan yang terukur, peserta diharapkan lebih siap menghadapi berbagai pilihan transaksi keuangan yang tersedia. Pada akhirnya, penguatan literasi ditujukan agar penggunaan layanan keuangan digital berlangsung dengan pertimbangan yang bertanggung jawab.












