Peristiwa

40.000 Anak Ayam di Magetan Hangus dalam Kebakaran Kandang, Api Diduga dari Tungku Pemanas

×

40.000 Anak Ayam di Magetan Hangus dalam Kebakaran Kandang, Api Diduga dari Tungku Pemanas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 40.000 Ekor Anak Ayam di Magetan Terpanggang, Api Diduga dari Penghangat Kandang

jurnalistik.co.id – Kebakaran hebat melanda kandang ayam pedaging di Kelurahan Lembeyan Kulon, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada Rabu pagi.

Satu kandang dengan kapasitas sekitar 40.000 ekor ayam hangus terbakar. Kandang tersebut digunakan untuk memelihara anak ayam usia 1–15 hari.

Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Magetan, Dovi, menyampaikan bahwa kandang yang terbakar merupakan fasilitas masa pemanasan atau brooding bagi anak ayam.

“Pemilik sebenarnya memiliki dua kandang. Yang terbakar ini kandang untuk ayam usia 1 sampai 15 hari. Setelah lewat masa pemanasan, ayam dipindahkan ke kandang yang satunya,” ujar Dovi melalui sambungan telepon pada Rabu (29/7/2026).

Dovi menjelaskan proses pemadaman sempat terkendala karena laporan diterima saat api sudah membesar. Menurutnya, angin yang bertiup kencang ikut mempercepat penyebaran kobaran api.

“Laporan yang masuk ke Damkar sebenarnya sudah terlambat. Saat kami menerima laporan sekitar pukul 07.16 WIB, api sudah besar. Anginnya cukup kencang. Titik awal api dari sisi selatan, lalu tiupan angin mengarah ke utara sehingga api cepat sekali merambat. Saat kami tiba, kobaran api sudah sampai di bagian utara kandang,” imbuhnya.

Kronologi dan dugaan awal sumber api

Dari informasi awal yang diperoleh petugas di lokasi, titik awal kebakaran diduga berkaitan dengan tungku pemanas. Tungku tersebut digunakan untuk menghangatkan anak ayam selama masa brooding.

Dovi menuturkan bahwa pekerja sempat memantau kandang pada sekitar pukul 05.00 WIB. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan.

“Ada informasi dari warga yang menyebut menggunakan tungku pemanas. Warga juga mengatakan sekitar pukul 05.00 WIB pemilik sempat mengecek kandang, kemudian pulang lagi,” kata Dovi.

Selain faktor dugaan sumber api, Dovi juga menyebut konstruksi lantai kandang yang didominasi material kayu berperan dalam cepatnya penyebaran api. Meski rangka bangunan menggunakan besi, material di bagian lantai membuat kobaran lebih mudah merambat.

Ia juga menggambarkan arah rambatan api yang semakin sulit dikendalikan ketika tiupan angin menguat. Api yang awalnya berada di sisi selatan kemudian merambat ke bagian utara kandang.

Warga sempat mengira kebakaran lahan tebu

Informasi di lokasi menyebutkan bahwa kebakaran pertama kali diketahui warga ketika asap hitam membubung tinggi. Namun, pada tahap awal warga mengira yang terbakar adalah lahan tebu.

“Warga awalnya mengira lahan tebu yang terbakar karena asapnya sudah menghitam. Setelah dicek, ternyata kandang ayam yang terbakar. Saat diketahui, apinya sudah besar,” ujarnya.

Menurut penjelasan petugas, saat warga memastikan lokasi, kobaran api sudah berada pada kondisi yang luas. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman perlu penanganan cepat agar api tidak merambat lebih jauh.

Hingga berita ini disusun, Dovi menegaskan bahwa dugaan terkait tungku pemanas masih berupa informasi awal. Penyebab pasti kebakaran tetap akan ditentukan melalui proses penyelidikan.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena kandang yang terbakar menampung anak ayam dalam rentang usia yang masih sangat membutuhkan penghangatan. Kapasitas besar sekitar 40.000 ekor ayam menjadikan insiden tersebut berdampak signifikan bagi kegiatan pemeliharaan peternak setempat.

Petugas juga menilai keterlambatan respons menjadi salah satu faktor penting di balik cepatnya api membesar. Saat armada Damkar mulai bergerak pada sekitar pukul 07.16 WIB, kobaran sudah menyebar luas sehingga petugas harus fokus menahan agar api tidak meluas ke area lain di dalam kandang.

Di lapangan, pekerja sebelumnya sempat memantau kondisi kandang sekitar pukul 05.00 WIB, sebelum kemudian kembali menunggu perkembangan. Dalam keterangan awal, dugaan yang mengarah pada tungku pemanas masih dikaitkan dengan kebutuhan pemanasan selama fase anak ayam 1–15 hari, sementara rincian penyebab lainnya menunggu hasil pemeriksaan.

Dovi menambahkan, perpaduan kondisi angin yang kencang dengan karakter material bangunan ikut mempercepat perambatan. Meski struktur rangka menggunakan besi, keberadaan material kayu pada lantai membuat api lebih mudah merambat dan akhirnya mengarah dari sisi selatan menuju bagian utara kandang.