Internasional

8 Hari Menuju Piala Dunia 2026, Guru di Meksiko Bentrok dan Tuntut Kenaikan Gaji

1
×

8 Hari Menuju Piala Dunia 2026, Guru di Meksiko Bentrok dan Tuntut Kenaikan Gaji

Sebarkan artikel ini
8 Hari Jelang Piala Dunia, Guru di Meksiko Bentrok Tuntut Kenaikan Gaji Global 4 Juni 2026
Ilustrasi: 8 Hari Jelang Piala Dunia, Guru di Meksiko Bentrok Tuntut Kenaikan Gaji

jurnalistik.co.id – Menjelang laga pembuka Piala Dunia 2026, situasi di ibu kota Meksiko memanas setelah aksi protes para guru membesar dan berujung bentrokan serta tindakan perusakan.

Kurang dari dua pekan sebelum pertandingan pembuka digelar di Stadion Azteca, Mexico City, pada 11 Juni, para guru yang tergabung dalam Coordinadora Nacional de Trabajadores de la Educacion (CNTE) menuntut kenaikan gaji serta perubahan aturan pensiun.

Aksi yang berlangsung beberapa hari menjelang turnamen itu mengganggu aktivitas di pusat Kota Mexico City. Dalam rangkaian protesnya, para demonstran juga melakukan perusakan di sejumlah titik yang terkait dengan promosi sepak bola dan Piala Dunia.

Pada Selasa (2/6/2026), demonstrasi yang melibatkan CNTE menumbangkan sejumlah patung raksasa pesepak bola yang dipasang sebagai bagian dari promosi Piala Dunia di ibu kota. Langkah tersebut membuat suasana semakin tegang di area pusat kota.

Dorong masuk kantor kementerian pendidikan

Menurut laporan AFP, pada Rabu (3/6) para demonstran menggunakan tiang lampu jalan sebagai pendobrak untuk menerobos masuk ke kantor pusat Kementerian Pendidikan di ibu kota.

Sumber dari kementerian menyebut aksi tersebut menyebabkan pos penjagaan rusak dan sejumlah jendela pecah. Tayangan televisi Meksiko juga memperlihatkan adanya kebakaran kecil di lokasi.

Sehari sebelumnya, para guru yang berunjuk rasa menumbangkan patung besar pemain sepak bola di jalur utama Paseo de la Reforma. Selain itu, mereka merusak properti bertema sepak bola serta memblokir sejumlah jalan utama.

Kelompok guru menilai, tuntutan yang mereka bawa tidak hanya berkaitan dengan gaji, tetapi juga pencabutan aturan pensiun yang mereka anggap merugikan. Karena itu, aksi protes terus berlanjut meski Piala Dunia akan segera dimulai.

Para guru juga menyatakan mereka akan terus melakukan demonstrasi jika pemerintah tidak memenuhi tuntutan yang disampaikan. Sikap tersebut membuat eskalasi di ruang publik berpotensi terus terjadi dalam periode mendekati turnamen.

Kesepakatan kenaikan gaji dinilai belum cukup

Dalam tuntutan mereka, para demonstran meminta kenaikan gaji serta pencabutan aturan pensiun. Pemerintah Meksiko sebelumnya menyepakati kenaikan gaji sebesar 9 persen, namun angka itu dinilai masih jauh dari permintaan kelompok guru.

Kelompok CNTE menuntut kenaikan hingga 100 persen. Jarak yang besar antara besaran yang disepakati pemerintah dan angka yang diminta menjadi salah satu faktor yang membuat negosiasi tidak dianggap memadai oleh pihak pengunjuk rasa.

Selain isu besaran kenaikan, aturan pensiun turut menjadi fokus protes. Para guru menilai ketentuan tersebut merugikan mereka, sehingga tuntutan pencabutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda aksi.

Dengan latar tersebut, protes yang semula terkonsentrasi di ruang publik berkembang hingga melibatkan perusakan dan pemblokiran jalan, serta berujung bentrokan di beberapa titik.

Sheinbaum: tak akan memilih tindakan represif

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan pemerintah tidak akan memilih tindakan represif meskipun protes terjadi menjelang ajang internasional besar tersebut.

Ia mengungkapkan, “Mereka ingin kita menggunakan represi menjelang Piala Dunia,” dalam konferensi pers hariannya. Sheinbaum menegaskan pemerintah tidak akan “jatuh ke dalam jebakan” untuk melakukan tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa.

Selain menyampaikan sikap tersebut, Sheinbaum juga menyerukan dialog dengan para guru. Menurutnya, ada tuntutan yang bisa dipenuhi pemerintah, meskipun sebagian lainnya terkendala oleh keterbatasan anggaran.

Dalam pernyataannya, Sheinbaum mengatakan, “Melalui dialog, kami akan mencoba menangani masalah-masalah yang memungkinkan untuk ditangani. Ada beberapa tuntutan yang tidak memungkinkan dipenuhi sepenuhnya karena anggaran, tetapi ada beberapa yang bisa kami penuhi; jadi, kami sedang menanganinya.”

Seruan untuk berdialog itu disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi demonstrasi. Pemerintah, lewat pernyataan presiden, menunjukkan posisi bahwa penyelesaian tidak ditempuh melalui tindakan represif.

Guru menilai dialog belum menghasilkan kemajuan

Namun, para guru menilai dialog pemerintah belum menghasilkan kemajuan nyata. Dengan pandangan tersebut, mereka tetap mempertahankan rencana untuk melanjutkan aksi protes.

Di tengah situasi menjelang laga pembuka Piala Dunia pada 11 Juni di Stadion Azteca, rangkaian aksi CNTE—mulai dari penumbangan patung raksasa hingga percobaan menerobos kantor Kementerian Pendidikan—terus menjadi sorotan.

Jika tuntutan yang berkaitan dengan kenaikan gaji dan perubahan aturan pensiun tidak dipenuhi, protes diperkirakan akan terus berlangsung sesuai pernyataan para guru bahwa aksi akan dilanjutkan bila pemerintah tidak merespons permintaan mereka.