Bisnis & Ekonomi

Akses Keuangan Makin Meluas, Literasi Pelajar Masih Tertinggal

×

Akses Keuangan Makin Meluas, Literasi Pelajar Masih Tertinggal

Sebarkan artikel ini
Akses Keuangan Meluas, Literasi Pelajar Masih Tertinggal Money 15 Juni 2026
Ilustrasi: Akses Keuangan Meluas, Literasi Pelajar Masih Tertinggal

jurnalistik.co.id – Peningkatan akses layanan keuangan di kalangan generasi muda belum sepenuhnya diikuti peningkatan kemampuan mengelola keuangan. Kondisi ini terlihat dari kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan dan literasi keuangan pelajar, di tengah semakin mudahnya akses terhadap berbagai layanan keuangan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan literasi keuangan kelompok pelajar meningkat dari 56,42 persen pada 2024 menjadi 61,76 persen pada 2025. Pada periode yang sama, tingkat inklusi keuangan justru tumbuh lebih cepat, dari 69 persen menjadi 84,42 persen.

“Peningkatan akses keuangan harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi keuangan yang setara bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” kata Asisten Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Chandra Shadiq Faritzi melalui keterangan pers, Senin (15/6/2026).

Chandra menambahkan, pada awal 2025 OJK telah meluncurkan Pedoman Akses Pelayanan Keuangan untuk Disabilitas Berdaya (SETARA) sebagai panduan bagi pelaku usaha jasa keuangan dalam menerapkan inklusi disabilitas. Selain itu, pada Desember 2025 OJK menerbitkan Buku Pedoman Literasi Keuangan Bagi Penyandang Disabilitas.

Menurut Chandra, pendekatan yang inklusif dan relevan membuat edukasi keuangan lebih mudah dipahami dan diterapkan. Edukasi tersebut, ujarnya, membantu generasi muda memahami risiko, mengelola pengeluaran secara bijak, serta membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini.

Dalam kesempatan yang sama, OJK mengapresiasi kolaborasi PT Bank HSBC Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia (PJI) dalam mendukung upaya menciptakan generasi muda yang lebih mandiri dan berdaya secara finansial.

Program penguatan literasi keuangan

Untuk menjawab tantangan kesenjangan akses dan pemahaman, PT Bank HSBC Indonesia bekerja sama dengan PJI menjalankan program Financial Empowerment Pathways 2026. Program ini ditargetkan menjangkau 1.700 pelajar dari berbagai kelompok usia dan latar belakang hingga Desember 2026.

Program tersebut juga menekankan pentingnya kesetaraan dalam literasi keuangan, terutama bagi kelompok penyandang disabilitas. Data yang disampaikan dalam program menunjukkan hanya 24,3 persen penyandang disabilitas berusia 15 tahun ke atas yang memiliki rekening bank. Angka itu lebih rendah dibandingkan masyarakat tanpa disabilitas yang mencapai 47 persen.

Financial Empowerment Pathways 2026 dijalankan melalui tiga inisiatif utama, yakni INFINITY (Inclusive Financial Literacy for Young People), JA More than Money, dan ELEVATE (Elevating Financial Literacy through Action & Innovation). Rangkaian program tahun ini dibuka melalui pelaksanaan INFINITY di SLBN 02 Jakarta pada 13 Mei 2026.

INFINITY melibatkan 100 siswa penyandang disabilitas pendengaran melalui metode pembelajaran visual, kinestetik, dan pengalaman langsung. Peserta kemudian mengikuti kegiatan bertajuk Money Adventures yang dirancang untuk memperkenalkan konsep dasar pengelolaan keuangan.

Melalui Money Adventures, peserta mempelajari empat konsep, yaitu memperoleh (earn), menabung (save), berbelanja (spend), dan berdonasi (donate). Pembelajaran dilakukan melalui simulasi profesi, penyusunan tujuan menabung, pengambilan keputusan belanja berdasarkan prioritas kebutuhan, serta pemahaman mengenai nilai berbagi dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi muda butuh kebiasaan, bukan sekadar teori

Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Stuart Rogers mengatakan, generasi muda saat ini menghadapi lingkungan keuangan yang semakin kompleks meski akses terhadap layanan keuangan semakin terbuka. Ia menilai, akses yang makin mudah tidak otomatis diikuti kesiapan menghadapi keputusan finansial yang makin beragam.

“Generasi muda saat ini tumbuh di tengah akses finansial yang semakin mudah, tetapi dihadapkan juga pada keputusan finansial yang semakin kompleks mulai dari tekanan konsumsi digital hingga layanan keuangan instan,” kata Stuart. Ia menambahkan bahwa generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman teori.

“Mereka perlu membangun kebiasaan dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan finansial yang sehat,” lanjutnya. Stuart juga menjelaskan, melalui Financial Empowerment Pathways 2026, HSBC Indonesia dan PJI ingin membantu generasi muda belajar mengelola uang melalui pengalaman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, program yang menargetkan 1.700 pelajar tersebut menempatkan penguatan literasi sebagai bagian yang berjalan seiring dengan perluasan akses. Di saat data OJK memperlihatkan kenaikan literasi yang lebih lambat dibanding inklusi, pendekatan edukasi yang inklusif dan berbasis praktik menjadi salah satu jawaban yang dipilih.

Seluruh rangkaian inisiatif ini juga selaras dengan panduan yang disebutkan OJK, melalui Pedoman SETARA di awal 2025 dan penerbitan buku pedoman literasi keuangan bagi penyandang disabilitas pada Desember 2025. Upaya tersebut diharapkan membantu peserta membangun kebiasaan finansial sejak dini agar keputusan pengelolaan keuangan dapat dilakukan secara lebih bijak.