Daerah

Amin Zega: Dari Korban Kecelakaan ke Barista Bersertifikat di Warung Difabel Sharaswaty

×

Amin Zega: Dari Korban Kecelakaan ke Barista Bersertifikat di Warung Difabel Sharaswaty

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Perjalanan Amin Zega, dari Korban Kecelakaan hingga Jadi Barista Bersertifikat di Warung Difabel Sharaswaty
┊ review diff a//tmp/amin-zega-seed.txt → b//tmp/amin-zega-seed.txt @@ -0,0 +1,13 @@ +Desing suara mesin kopi adalah simfoni yang indah bagi Amin Zega (36), barista di Warung Difabel Sharaswaty, yang merupakan penyandang tunadaksa. Ia tidak hanya memulai dari pengalaman kerja yang beragam, tetapi akhirnya menemukan tempatnya di dunia perkopian. + +Ia menyebut bahwa sebagai barista berawal dari ajakan Bu Dewi, pengelola rumah difabel Sharaswaty. Menurut Amin, ia ingin sekalian mengeksplor kemampuan karena kerja di mana-mana tidak ada yang benar-benar pas, dan dari situlah ia menemukan pekerjaan sebagai barista. “Kalau jadi barista itu mulanya diajak Bu Dewi, pengelola rumah difabel. Saya mikirnya sekalian explore kemampuan juga, kan? Coba kerja di mana-mana tidak ada yang pas, dan ketemunya di barista ini. Sangat seru,” ujarnya. + +Pekerjaan sebagai barista sudah ia jalani sejak tahun 2023. Sebelum fokus menjadi barista, pekerjaan terakhirnya adalah menjadi karyawan di toko elektronik. Ia mengatakan rasa ingin tahunya tentang dunia perkopian tidak ada habisnya, termasuk saat meracik hingga mencari kesempurnaan rasa. + +Amin menyebut proses menjadi barista adalah perjalanan panjang, dengan berbagai aral dan kendala serta pelatihan yang ia ikuti. Pada akhirnya, ia berhasil mengantongi sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) serta lulus dari LKP (Lembaga Kursus dan Pelatihan) Indonesia pada tahun 2026. + +Ia juga mengakui bahwa rasa minder masih muncul bahkan hingga saat ini. Namun ia berusaha memaksakan diri agar bisa percaya diri. Mimpi Amin adalah memiliki usaha coffee shop. + +Amin Zega menegaskan bahwa ia bukan penyandang tunadaksa sejak lahir. Semua bermula pada tahun 2006, saat ia dan keluarganya mengalami kecelakaan becak di Tanjungbalai. Saat itu usia Amin masih 6 tahun. Kini ia menjalani hidup dengan keteguhan. + +Dalam bekerja, Amin menjelaskan kesulitan utamanya adalah saat harus berdiri lama. Ia berdiri dengan satu kaki, sehingga berdiri terlalu lama membuat kakinya kram karena sebelahnya lemah.

jurnalistik.co.id – TANJUNGBALAI — Suara desing mesin kopi kini menjadi bagian dari keseharian Amin Zega (36), penyandang tunadaksa yang bekerja sebagai barista di Warung Difabel Sharaswaty. Bagi Amin, dunia perkopian bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang baru tempat ia merasa menemukan kecocokan setelah sempat berpindah dari satu jenis pekerjaan ke pekerjaan lain.

Langkah Amin menuju profesi barista, pada awalnya, datang dari ajakan Bu Dewi selaku pengelola rumah difabel Sharaswaty. Ia menganggap kesempatan itu sebagai jalan untuk mencoba sekaligus menggali kemampuan yang selama ini ia cari. Setelah merasakan bahwa tidak semua pekerjaan pernah ia jalani benar-benar pas, barista menjadi pilihan yang terasa paling selaras.

“Kalau jadi barista itu mulanya diajak Bu Dewi, pengelola rumah difabel. Saya mikirnya sekalian explore kemampuan juga, kan? Coba kerja di mana-mana tidak ada yang pas, dan ketemunya di barista ini. Sangat seru,” ujarnya.

Amin menuturkan bahwa ia sudah menjalani pekerjaan barista sejak tahun 2023. Sebelum fokus meracik kopi, pekerjaan terakhirnya adalah menjadi karyawan di toko elektronik. Baginya, peralihan itu menandai perjalanan baru sekaligus ruang untuk menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap dunia perkopian.

Ia menyebut ketertarikannya tidak berhenti pada satu tahap saja. Mulai dari meracik hingga mengejar cita rasa yang dianggap paling pas, proses belajar itu terus berjalan. Baginya, dunia kopi seakan tidak pernah habis untuk dipahami dan dijalani.

Meski begitu, Amin tidak menutup mata bahwa perjalanan menuju titik sekarang tidak selalu mudah. Ia mengalami berbagai hambatan dan kendala, termasuk pelatihan-pelatihan yang harus ia lalui. Pada akhirnya, rangkaian proses tersebut membawanya pada pencapaian yang ia anggap penting.

Amin berhasil mengantongi sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) serta lulus dari LKP Indonesia pada tahun 2026. Ia memandang sertifikat itu sebagai pengakuan atas kemampuan sekaligus bukti bahwa perjuangan panjang yang ia jalani tidak sia-sia. Ia terus belajar agar bisa menekuni pekerjaan yang ia pilih.

Sekalipun sudah berada di tahap ini, Amin mengaku rasa minder masih kerap muncul hingga sekarang. Ia tetap berusaha memaksakan diri agar dapat tampil percaya diri dan tidak berhenti melangkah. Baginya, konsistensi adalah cara untuk mengubah rasa takut menjadi keberanian.

Kisah Amin juga berakar dari peristiwa yang mengubah jalan hidupnya. Ia menegaskan bahwa ia bukan penyandang tunadaksa sejak lahir, melainkan semua bermula pada tahun 2006 saat ia masih berusia 6 tahun dan mengalami kecelakaan becak bersama keluarganya di Tanjungbalai. Sejak saat itu, kehidupannya bergerak mengikuti kondisi yang harus ia jalani dengan keteguhan.

Dalam kesehariannya bekerja, Amin menjelaskan tantangan fisik yang paling terasa adalah saat berdiri terlalu lama. Ia berdiri dengan satu kaki, sehingga ketika harus menahan posisi dalam waktu panjang, kakinya kram karena sebelahnya lemah. Kondisi ini menjadi pertimbangan penting dalam aktivitas kerja yang ia lakukan.

Meski demikian, Amin tidak ingin keterbatasan menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Ia justru melihat pekerjaannya sebagai ruang untuk membuktikan bahwa belajar, bekerja, dan meraih pencapaian tetap mungkin dilakukan. Di dunia kopi, ia menemukan sesuatu yang sempat ia cari dari berbagai pekerjaan sebelumnya: rasa cocok, tantangan yang menarik, dan dorongan untuk terus memperbaiki diri.

Mimpi Amin akhirnya bermuara pada keinginan yang sederhana tetapi besar maknanya baginya, yaitu memiliki usaha coffee shop sendiri. Keinginan itu tumbuh dari proses panjang meracik kopi, mengikuti pelatihan, hingga menempuh sertifikasi. Dari ruang kerja di Warung Difabel Sharaswaty, Amin terus melangkah pelan namun pasti menuju cita-cita yang ingin ia wujudkan.