jurnalistik.co.id – Dalam hitungan minggu, arah politik Partai Buruh Inggris semakin mengerucut pada Andy Burnham untuk menjadi perdana menteri berikutnya, setelah ia mengonfirmasi kesediaannya maju sebagai pemimpin partai dan sekaligus pemimpin pemerintahan.
Kira-kira tak lama setelah pukul 10.00 pagi waktu setempat, Burnham akhirnya menyatakan hal yang selama beberapa hari sudah tampak jelas. Anggota parlemen baru dari Makerfield itu, saat berada di kereta dari Manchester menuju London, menggunakan media sosial untuk mengatakan, “I will put myself forward as part of this process.”
Sesaat sebelum keretanya tiba di London Euston, peluang munculnya kontes kepemimpinan yang penuh sejak awal mulai dianggap makin tipis. Wes Streeting—yang selama ini disebut sebagai rival terdekat Burnham—lebih dulu “melempar handuk” dan menyatakan dukungannya untuk pekerjaan teratas.
Streeting sebelumnya menyinggung perlunya “battle of ideas”, namun setelah keputusan itu ia memilih bahasa yang lebih menahan diri. Ia menyatakan lebih baik tidak “spend the summer exaggerating small differences”. Langkah tersebut mengejutkan banyak pendukungnya.
Dalam momen-momen sebelum pengumuman Streeting, sejumlah pihak di dekat mantan sekretaris kesehatan itu mengisyaratkan masih ada dorongan untuk menantang Burnham. Seorang sumber menyebut ada “lots of colleagues” yang tetap mendesaknya maju, sementara satu pendukung lain menilai perlu adanya kontestasi karena “the lack of clarity [from Burnham] is concerning”.
Streeting memang mengakui ia dan Burnham telah “spoken at length” sejak kemenangan Burnham dalam pemilihan sela. Meski begitu, ia membantah ada kesepakatan bahwa Streeting ditawari sebuah jabatan sebagai bagian dari pertukaran politik.
Terlepas dari perdebatan di balik layar, yang kini paling luas diperkirakan di Partai Buruh adalah bahwa masa pemerintahan Burnham akan diikuti penyerahan posisi kabinet senior kepada Streeting. Sementara itu, Angela Rayner—yang juga sempat dibicarakan sebagai kandidat—mengatakan Partai Buruh “must now redouble our efforts to deliver for working people”, tetapi tidak dipahami sedang menyiapkan pencalonan kepemimpinan sendiri.
Di sisi lain, ada penilaian yang kian menguat di kalangan loyalis Sir Keir Starmer bahwa Burnham kesulitan menghadapi sorotan dan pemeriksaan yang lebih tajam. Salah satu pemicunya adalah wawancara BBC Newsnight, ketika ia menolak menyebut aturan fiskal pemerintah yang semula ia nyatakan berkomitmen untuk dipatuhi.
Burnham juga menolak menjawab banyak pertanyaan mengenai kebijakan nasional dengan alasan ia hanya sedang berupaya menjadi anggota parlemen untuk Makerfield. Di dalam suasana peralihan kekuasaan yang bergerak cepat, itu dibaca sebagian orang sebagai keterbatasan dalam menjabarkan posisi kebijakan pada tahap awal.
Namun bagi para pengamat di ruang politik, simbol terbesar terjadi saat Burnham tiba di Parlemen dan diberi sambutan sekitar 200 anggota parlemen Buruh dalam sebuah foto bersama. Foto itu memang praktik umum bagi pemenang pemilihan sela, tetapi suasananya jauh dari sekadar seremonial: ada gema yang terasa seperti pengangkatan pemimpin baru sejak awal.
Dalam gambar tersebut tampak Rachel Reeves sebagai kanselir dan Jonathan Reynolds sebagai chief whip di posisi yang sangat menonjol. Keduanya juga tidak terlihat berada dalam ruang untuk menyaksikan Starmer menyampaikan pengunduran diri dari No 10 beberapa jam sebelumnya. Darren Jones, sekretaris utama perdana menteri, turut hadir bersama sekutu-utama Starmer lainnya seperti Steve Reed (menteri perumahan) dan Nick Thomas-Symonds yang bertanggung jawab atas hubungan Uni Eropa.
Seorang sekutu yang setia pada Starmer bahkan menyinggung bahwa suasana itu membuat mereka lega karena tidak perlu memikirkan cara merangkul seluruh kubu partai secara bersamaan. Meski begitu, masih ada potensi gesekan: kelompok yang menilai Partai Buruh keliru menyingkirkan Starmer, serta kelompok lain yang yakin Streeting akan menjadi penerus yang lebih baik, bisa saja membuat konsolidasi tidak sepenuhnya mulus.
Soal tempo, tidak ada keseragaman di lingkungan terdekat Burnham. Timnya sudah menyatakan preferensi perubahan kekuasaan pada September. Tetapi jika tak muncul kontes, skenario yang makin sering disebut adalah Burnham bisa segera melangkah masuk ke No 10 paling cepat pada 16 Juli.
Seorang sumber yang selama berbulan-bulan membantu pekerjaan kebijakan Burnham menggambarkan persiapan mereka sebagai “not very ready”. Ia bahkan menyebut ada kemungkinan upaya mempertahankan Starmer lebih lama hingga musim gugur sekalipun kontes kepemimpinan tidak terjadi.
Rencana itu mencakup peluang menyiapkan calon menteri dan penasihat sebelum waktu tersebut. Setelahnya, mereka bisa menjalani “accession talks” pada bulan Agustus agar transisi pemerintahan lebih siap sejak dini.
Tetapi pandangan itu tidak dibagikan mayoritas lingkar dalam Burnham. Seorang sumber menyatakan, “the timetable is the timetable, we don’t have a choice, he becomes PM in July if he’s the only candidate”. Dengan kata lain, jika tak ada penantang, jadwal dianggap tidak lagi menjadi ruang tawar.
Bagi Partai Buruh, pengaturan jadwal kontestasi kepemimpinan memang ditentukan oleh National Executive Committee. Namun bila tidak ada kontes, penentunya bisa bergantung pada Starmer sendiri, sesuai dinamika politik yang berkembang.
Di luar perhitungan prosedural, ada pula sinyal bahwa Starmer tidak berniat bertahan hanya untuk memberi Burnham waktu tambahan. Sementara itu, pekerjaan kebijakan di sejumlah bidang sudah berjalan selama berminggu-minggu, terutama pada sektor perumahan dan transportasi.
Advisers juga memeriksa opsi bagaimana pemerintahan Burnham mungkin bisa meminjam lebih banyak pada area-area tertentu. Meski demikian, pihak-pihak yang berada dekat Burnham menerima bahwa pemikiran yang lebih matang masih kurang pada sektor seperti pertahanan, energi, dan kesejahteraan.
Di akhir hari yang penuh perubahan di Westminster, gambaran yang paling sering muncul adalah satu hal: Burnham kemungkinan harus merangkai semua bagian itu menjadi pemerintahan yang kohesif sekaligus proyek politik yang bekerja. Bahkan, di tengah foto-foto resmi dan suasana meriah, cara partai menempatkan tokoh-tokoh kunci tampak seperti sinyal bahwa momentum peralihan kekuasaan sedang bergerak cepat.












