Hukum & Kriminal

Streeting Minta Maaf Setelah Komentar soal Pembebasan Narapidana Dini Terekam di Hot Mic

×

Streeting Minta Maaf Setelah Komentar soal Pembebasan Narapidana Dini Terekam di Hot Mic

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Streeting apologises after early prisoner release comments heard on mic

jurnalistik.co.id – Wes Streeting dan Shabana Mahmood menyampaikan permintaan maaf setelah komentar mereka tentang skema pembebasan narapidana lebih awal terekam saat suasana mendadak menjadi “hot mic”. Pernyataan itu muncul setelah video yang memperlihatkan momen mereka berbicara di depan Alex Norris beredar di publik.

Dalam rekaman tersebut, Alex Norris terlihat berjalan mendekati Streeting dan Mahmood, lalu disapa oleh Mahmood. Norris digambarkan sebagai Justice Secretary yang baru, sementara Streeting disebut sebagai defence secretary yang baru.

Rekaman video itu dipublikasikan oleh Guido Fawkes. Di dalamnya, Streeting terdengar menyebut Norris “the enemy now” sementara Mahmood menanggapi “no he’s not”.

Setelah pertukaran itu, Streeting kemudian mengatakan “he wants to let them all out”. Komentar tersebut dipahami sebagai rujukan pada rencana pemerintah terkait pelepasan lebih awal bagi narapidana.

Komentar-komen tersebut kemudian menuai kritik. Kemi Badenoch, yang disebut berada pada garis oposisi tegas terhadap skema pembebasan narapidana dini, menilai mereka membuat bercanda atas kebijakan yang dianggap serius.

Melalui akun X, Badenoch menulis, “While Andy Burnham’s cabinet are joking about letting criminals out of prison early, Conservatives are listening to victims and will continue to fight this disgusting policy”.

Di tengah sorotan itu, Streeting menyatakan bahwa tidak ada niat buruk di balik tuturannya. Ia mengatakan ada “no ill intent” di balik komentar yang terdengar dalam rekaman tersebut.

Streeting dan Mahmood juga sama-sama meminta maaf dengan menekankan bahwa skema pembebasan narapidana lebih awal adalah “serious issue”.

Streeting menjelaskan bahwa ia berharap semua orang dapat melihat konteksnya. Ia menulis di X: “I hope everyone can see there was no ill intent behind this ribbing of the new Justice Secretary – it was a reference to an old May/Clarke joke”.

Ia melanjutkan permintaan maafnya dengan menyatakan, “But I appreciate these are very serious issues and am sorry for any offence inadvertently caused by this moment of levity”.

Mahmood menyampaikan hal serupa. Ia menulis: “I think everyone can see there was no ill intent behind this ribbing of the new Lord Chancellor – a role I once filled and which comes with immense challenges thanks to the vandalism inflicted on our justice system by the last Conservative government”.

Pernyataan itu kemudian ditutup dengan bagian permintaan maaf yang menegaskan keseriusan isu. Mahmood menulis, “But I appreciate this is an extremely serious issue and do not want anyone to mistake this moment of levity for a lack of serious intent.”

Dalam rangkaian pernyataannya, baik Streeting maupun Mahmood menempatkan momen bercanda yang terdengar melalui rekaman sebagai sesuatu yang tidak boleh disalahartikan sebagai kurangnya kesungguhan terhadap kebijakan pembebasan narapidana dini. Mereka menegaskan bahwa meski terjadi “moment of levity”, persoalannya tetap “serious issue”.

Kasus ini kembali memperlihatkan bagaimana komentar di antara pejabat dapat cepat menjadi bahan perdebatan publik, terutama ketika isu yang dibahas menyangkut kebijakan hukum dan sistem peradilan. Streeting menyatakan tidak ada niat buruk, sementara Mahmood menekankan pengalaman perannya di masa lalu serta tantangan besar yang menyertai jabatan terkait.

Seiring kritik dari kubu oposisi dan respons permintaan maaf dari pihak yang terkait, diskusi mengenai rencana pembebasan narapidana lebih awal tetap menjadi fokus utama. Baik Streeting maupun Mahmood berusaha meredakan ketegangan dengan menegaskan bahwa konteks bercanda tidak seharusnya mengurangi keseriusan isu yang sedang dipersoalkan.