Internasional

Keluhan pas pakaian: perlengkapan pelindung wanita prajurit masih tak sesuai bentuk payudara

×

Keluhan pas pakaian: perlengkapan pelindung wanita prajurit masih tak sesuai bentuk payudara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Military kit prompts breast-fit concerns among women troops

jurnalistik.co.id – Lima tahun setelah laporan penting memperingatkan risiko dari seragam yang tidak terukur bagi perempuan di militer, keluhan soal kesesuaian perlengkapan masih terus muncul. Perempuan prajurit mengatakan beberapa perlengkapan mereka tidak mengikuti bentuk tubuh, terutama area dada, sekaligus menimbulkan persoalan ukuran.

Para perempuan di angkatan bersenjata menyampaikan bahwa mereka masih mendapatkan kit yang kurang pas, meski rekomendasi sudah disuarakan sejak laporan “Atherton” pada 2021. Laporan itu menyatakan Kementerian Pertahanan Inggris perlu segera meluncurkan perlengkapan yang lebih aman dan lebih sesuai bagi personel perempuan paling lambat akhir 2022.

Dalam praktiknya, sejumlah perbaikan disebut sudah dilakukan. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan masalah belum benar-benar selesai, termasuk pelindung tubuh yang tidak mampu mengakomodasi bentuk payudara dan kekurangan ukuran yang membuat proses distribusi menjadi kompetitif di antara prajurit.

Kementerian Pertahanan menyatakan pihaknya memastikan semua orang mendapat akses ke “peralatan terbaik” yang dibutuhkan untuk melindungi diri dalam pertempuran. Meski demikian, mantan prajurit Rhian Brown mengatakan ia tidak pernah merasa rapi, “presentable”, atau berada dalam seragam yang seharusnya. Brown juga menuturkan bahwa perlengkapan yang ia pakai tidak terasa benar-benar memenuhi fungsi perlindungan sebagaimana mestinya.

Brown, yang berusia 26 tahun dan meninggalkan layanan pada 2024, sebelumnya menjalani tujuh tahun di Army Reserve setelah bekerja sebagai komandan peleton infanteri. Ia memakai versi terbaru pelindung tubuh yang disebut disesuaikan untuk perempuan, tetapi tetap menilai sistem itu tidak dirancang untuk tubuhnya.

Ia menjelaskan bahwa versi yang lebih baru memang terasa lebih rapat dan aman, serta tampak lebih tertata. Meski begitu, Brown menegaskan pelindung itu tetap “tidak didesain” untuk fit dirinya. Baginya, “kesesuaian” bukan persoalan penampilan, melainkan keamanan, karena pelatnya datar dan tidak lentur.

Brown juga menceritakan satu pengalaman saat distribusi perlengkapan pelindung. Ia mengaku petugas pengada berkata, “kamu mungkin kecil… tapi kami tidak punya ukuran kecil, jadi di sini ambil yang medium.” Cerita tersebut menggambarkan bagaimana keterbatasan stok ukuran dapat mengubah pilihan perlindungan menjadi kompromi.

Sejalan dengan itu, pemerintah Inggris menyebut telah membiayai pasokan 2.000 set pelat pelindung tubuh versi lengkung untuk pasukan bersenjata Ukraina. Pemerintah juga menyatakan pengeluaran dukungan militer untuk Ukraina mencapai ÂŁ4,5 miliar tahun lalu, sementara kontrak kerja dipahami melibatkan NP Aerospace yang berbasis di Coventry.

Seren White, yang ikut merancang pelat pelindung lengkung baru, menyatakan pelat tersebut diuji dengan tingkat ketelitian tertinggi. Untuk sertifikasi industri, ia menjelaskan pelat perlu diuji 36 kali, namun pelat lengkung itu ditembakkan hampir 300 kali.

Di sisi lain, insinyur dari NP Aerospace menyebut ada beberapa “mitos” yang perlu diluruskan. Erin Grieve menyampaikan bahwa perempuan saat ini memakai pelat datar yang sebelumnya dirancang untuk torso laki-laki. Menurut Grieve, upaya yang dilakukan adalah memastikan desain memahami kenyataan bahwa perempuan bukan “pria kecil”, melainkan memiliki bentuk tubuh yang berbeda.

Menurut riset perusahaan, pelat lengkung memberi perlindungan lebih baik untuk perempuan dibanding pelat datar. Namun, saat ini kit tersebut masih belum tersedia bagi perempuan prajurit di Inggris. BBC juga mewawancarai beberapa perempuan yang meminta identitas dirahasiakan, termasuk seorang prajurit yang menyebut perlindungan yang ia terima “definitely not female and definitely not good”.

Seorang narasumber lain mengatakan hampir tidak ada perlengkapan khusus perempuan yang tersedia baginya. Ia menambahkan bahwa pelindung tubuh tidak mengakomodasi perempuan berukuran lebih besar di area dada.

Persoalan kesesuaian perlengkapan juga tercermin dalam penilaian eksternal. Pada Oktober 2025, Ofsted—yang menilai fasilitas pelatihan Kementerian Pertahanan sekaligus sekolah—menyebut bahwa untuk tahun keempat berturut-turut perempuan dan rekrut yang berukuran lebih kecil mendapat perlengkapan dan pakaian yang tidak pas. Laporan itu menyatakan kondisi ini membuat mereka dirugikan, baik karena tidak terlihat seimbang seperti rekan lain maupun karena perlengkapan yang tidak pas seperti webbing atau ransel menghambat partisipasi penuh selama latihan. Ofsted juga menegaskan bahwa perlengkapan yang tidak sesuai menimbulkan risiko serius dalam situasi tempur.

Dr Mary Keeling dari Centre for Evidence for the Armed Forces menyatakan bahwa peluncuran perlengkapan perempuan serta ketersediaannya dinilai tidak konsisten sejak laporan Atherton. Ia menyebut ada langkah yang “baik” ke arah yang benar, tetapi kemajuannya lambat, sehingga perlu perubahan yang lebih cepat karena Kementerian Pertahanan menargetkan peningkatan jumlah perempuan yang bergabung.

Keeling menilai tantangan rekrutmen kemungkinan akan membaik jika perempuan merasa diterima melalui ketersediaan perlengkapan dan peralatan yang tepat. Ia menekankan bahwa keputusan untuk bergabung berkaitan langsung dengan rasa aman dan kesesuaian perlindungan yang diberikan.

Selain itu, RAF veteran Stacey Denyer yang meninggalkan dinas pada 2023 ikut hadir dalam pertemuan meja bundar tingkat menteri untuk membahas penerapan rekomendasi. Ia menuturkan bahwa pada bagian akhir kariernya, pihak militer mulai menyiapkan sepatu khusus perempuan, dan pengalaman itu ia nilai sangat berarti. Denyer menegaskan bahwa desakan bukan sekadar keluhan, melainkan isu keselamatan, sekaligus menyebut kebutuhan agar perubahan terjadi cepat.

Denyer juga menyampaikan adanya target aspiratif agar angkatan bersenjata menjadi 30% perempuan pada 2030. Ia menambahkan bahwa jika militer ingin menarik perempuan, perhatian pada kebutuhan mereka harus dimulai dari kit yang layak.

Fred Thomas, anggota parlemen untuk Plymouth Moor View dan mantan perwira Royal Marines, menilai pemenuhan perlindungan yang benar-benar pas untuk perempuan harus menjadi prioritas utama bagi Kementerian Pertahanan. Ia menyebut kondisi ketidakstabilan global saat ini membuat isu tersebut makin mendesak, serta mengaku pernah ikut dalam sidang Defence Select Committee yang meninjau laporan Atherton pada April, hampir lima tahun setelah diterbitkan.

Menurut Thomas, ia memahami kemajuan terkait perlengkapan yang lebih baik berlangsung pelan, tetapi layanan bersenjata “berusaha semaksimal mungkin”. Ia tetap menilai tidak dapat diterima jika sebagian orang memperoleh perlindungan yang lebih baik dibanding yang lain.

Kementerian Pertahanan menyatakan pelat balistik baru akan dikirim pada 2028 dan tersedia dalam berbagai ukuran sehingga menawarkan kesesuaian lebih baik bagi seluruh personel. BBC memahami bahwa pelat tersebut akan berbentuk datar, bukan lengkung. Kementerian Pertahanan juga menyebut pihaknya mengembangkan generasi berikutnya melalui Complex Geometry Body Armour Programme agar pengadaan pelat pelindung lengkung dapat dilakukan, dan dipahami pengiriman awal bisa dimulai pada 2029.

Keseluruhan temuan itu menunjukkan bahwa modernisasi perlengkapan tidak cukup berhenti pada perubahan desain, melainkan harus berujung pada ketersediaan ukuran yang tepat serta sistem distribusi yang benar-benar memperhitungkan bentuk tubuh perempuan. Bagi para prajurit, kesesuaian bukan urusan estetika, melainkan batas langsung antara perlindungan dan risiko di lapangan.