jurnalistik.co.id – Jakarta, investor muda sekaligus pendiri Stockwise, Andry Hakim, melihat ada ruang bagi emiten Badan Usaha Milik Negara atau BUMN untuk menjadi narasi baru yang menopang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan. Pandangan itu ia sampaikan di tengah perubahan perhatian pasar yang menurutnya mulai bergeser dari tema-tema besar sebelumnya.
Andry menegaskan bahwa fokus pelaku pasar tidak akan selalu bertahan pada satu cerita yang sama. Dalam pandangannya, emiten yang berkaitan dengan BPI Danantara berpeluang mengambil panggung dan menggeser sejumlah narasi yang selama ini cukup dominan, mulai dari bank digital, konglomerasi, hingga inklusi MSCI.
“Kalau saya lihat sektor yang menarik itu di bidang BUMN karena swasta lagi dijegal,” kata Andry Hakim dalam Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026). Pernyataan itu menjadi penanda bahwa dirinya membaca arah pasar melalui kombinasi sentimen dan ruang gerak emiten yang menurutnya kini lebih menarik di sisi BUMN.
Dalam konteks itu, Andry tidak hanya berbicara soal peluang secara umum. Ia juga mengisyaratkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, ia memperbesar taruhan pada saham bank pelat merah. Langkah tersebut menunjukkan keyakinannya bahwa sektor perbankan BUMN masih menyimpan potensi yang layak diperhitungkan oleh investor.
Dia menyebut saham emiten swasta relatif akan bergerak terbatas pada tahun ini. Dengan kondisi seperti itu, Andry menilai perhatian investor berpotensi lebih tertuju pada saham-saham BUMN, terutama di kelompok big banks yang selama ini memang kerap menjadi salah satu penopang pergerakan pasar.
Pandangan tersebut memperlihatkan cara Andry membaca dinamika IHSG bukan semata dari sisi angka indeks, melainkan dari narasi yang sedang terbentuk di pasar. Ketika tema-tema lama mulai kehilangan tenaga, menurut dia, ruang bagi cerita baru akan terbuka. Dalam pembacaannya, cerita baru itu ada di BUMN, khususnya pada emiten yang terhubung dengan BPI Danantara.
Andry juga menempatkan narasi itu sebagai kelanjutan dari perubahan arah perhatian investor yang belakangan bergerak cepat. Tema bank digital, konglomerasi, dan inklusi MSCI yang sebelumnya ramai dibicarakan, dalam penilaiannya, bisa saja tergeser oleh cerita lain yang dinilai lebih menarik untuk diikuti. Di titik ini, BUMN menjadi sektor yang ia soroti paling serius.
Meski demikian, Andry tidak mengubah pandangannya menjadi klaim yang berlebihan. Ia tetap menempatkan penilaian tersebut sebagai pembacaan atas sektor yang ia anggap menarik, bukan kepastian mutlak untuk seluruh pasar. Namun, dengan porsi yang ia tambahkan pada saham bank BUMN kelas big banks, arah preferensinya terlihat cukup jelas.
Di hadapan peserta Stock Idea Festival di Jakarta itu, Andry pun memperkuat sinyal bahwa sektor BUMN bukan sekadar pilihan defensif, melainkan bisa menjadi narasi yang mendorong minat pasar berikutnya. Bagi dirinya, swasta yang disebut sedang “dijegal” membuat BUMN tampil lebih menonjol sebagai area yang layak dipantau investor dalam pergerakan IHSG mendatang.
Secara lebih luas, cara pandang seperti itu menunjukkan bahwa pasar kerap merespons bukan hanya kinerja emiten, tetapi juga cerita yang dianggap paling relevan pada periode tertentu. Ketika satu tema mulai kehilangan daya tarik, investor biasanya mencari pengganti yang punya ruang untuk diperhatikan lebih lama. Dalam kerangka itu, BUMN tampil sebagai opsi yang menurut Andry belum sepenuhnya habis dibaca pasar, terutama karena masih memiliki daya tarik di tengah pergeseran selera investor.
Karena itulah, penekanan Andry pada saham bank pelat merah menjadi penting untuk dicermati. Pilihan tersebut mengindikasikan bahwa ia melihat ada kombinasi antara sentimen, posisi sektor, dan momentum yang dapat menopang perhatian pasar. Dengan tema lama yang disebut mulai bergeser, narasi baru yang bertumpu pada BUMN berpotensi menjadi salah satu faktor yang ikut mewarnai pergerakan IHSG, setidaknya dalam periode yang ia soroti saat ini.












