jurnalistik.co.id – Arsenal dipastikan berpisah dengan kepala tim medis klub, Zafar Iqbal, setelah dua tahun bekerja sama dengan The Gunners. Keputusan ini menandai babak baru bagi departemen medis Arsenal di tengah periode yang menuntut kebugaran pemain.
Zafar Iqbal dikonfirmasi meninggalkan posisinya setelah dua tahun menjalin kerja sama dengan Arsenal di kompetisi Liga Inggris (Premier League). Kepergian tersebut datang setelah klub melalui periode intens dalam menjaga kondisi fisik para pemain.
Arsenal sebelumnya mendatangkan Zafar Iqbal pada tahun 2023 dari Crystal Palace untuk mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan oleh Gary O’Driscoll. O’Driscoll adalah sosok yang memilih pindah ke Manchester United setelah mengabdi selama 16 tahun di London Utara.
Periode padat dan tantangan cedera
Perpisahan ini muncul tak lama setelah Arsenal menjalani musim yang melelahkan dengan total 63 pertandingan di berbagai kompetisi, ditambah rangkaian laga persahabatan pramusim. Meski berhasil mengakhiri penantian 22 tahun untuk menjuarai Liga Inggris dan melaju ke final Liga Champions serta Piala Carabao, Arsenal harus berjuang keras menghadapi badai cedera.
Banyak pemain kunci terpaksa menepi akibat masalah fisik, mulai dari gangguan otot hingga cedera serius yang memerlukan tindakan operasi. Dalam konteks ini, departemen medis mendapat tekanan tersendiri sepanjang musim.
Kapten tim, Martin Odegaard, menjadi salah satu contoh pemain yang menghadapi kendala kesehatan. Setelah tampil pada laga internasional melawan Maroko baru-baru ini, Odegaard mengakui bahwa ia telah “berjuang” dengan cedera lututnya selama “beberapa waktu.”
Selain Odegaard, performa pemain lain juga sempat terhambat oleh berbagai gangguan otot sepanjang musim Premier League. Bukayo Saka, misalnya, mengalami masalah pada otot paha belakang, pinggul, dan Achilles.
Jurrien Timber juga mengalami masa absen pada periode krusial akibat masalah pangkal paha. Situasi tersebut membuatnya harus mundur dari skuad Piala Dunia Belanda meski sempat tampil di final Liga Champions pada bulan Mei lalu.
Daftar pemain yang sempat absen musim lalu juga mencakup Gabriel, William Saliba, Riccardo Calafiori, Ben White, Declan Rice, hingga Kai Havertz. Kombinasi cedera dan keterbatasan fisik itu memberi dampak langsung pada dinamika skuad selama musim berjalan.
Belum ada rincian alasan
Musim 2024-25 disebut sebagai periode di mana kebugaran pemain benar-benar diuji oleh jadwal pertandingan yang sangat padat. Bagi Arsenal, kondisi tersebut berarti departemen medis harus bekerja dalam ritme yang ketat untuk memastikan pemulihan berjalan optimal.
Meski begitu, hingga saat ini alasan spesifik mengenai kepergian sang dokter belum diungkapkan secara detail. Tidak ada penjelasan tambahan yang menyebutkan faktor tertentu di balik keputusan untuk berpisah dengan kepala tim medis Zafar Iqbal.
Dengan berakhirnya kerja sama setelah dua tahun, Arsenal kini memasuki fase transisi dalam aspek medis. Perubahan ini dapat menjadi perhatian tersendiri, mengingat rentang kompetisi yang panjang serta tuntutan kebugaran pemain menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi klub pada musim-musim terakhir.
Keputusan tersebut terasa semakin signifikan karena datang pada momen Arsenal baru saja melalui rangkaian laga yang menuntut konsistensi kebugaran di level tinggi. Kombinasi kompetisi domestik, perjalanan Eropa, dan jeda pramusim membuat pekerjaan pemulihan dan penanganan cedera berjalan berlapis sepanjang periode tersebut.
Dalam situasi ketika banyak pemain mengalami gangguan fisik—mulai dari masalah otot sampai kebutuhan tindakan medis—departemen medis otomatis menjadi salah satu pusat perhatian. Proses pemulihan tidak hanya menuntut penanganan cepat, tetapi juga pengelolaan kondisi agar pemain bisa kembali dengan ritme yang tetap, sesuai tuntutan jadwal yang padat.
Meski kerja sama telah berakhir setelah dua tahun, informasi mengenai pertimbangan di balik perpisahan dengan kepala tim medis Zafar Iqbal sejauh ini tetap tidak disampaikan secara terperinci. Arsenal hanya menunjukkan bahwa perubahan terjadi pada fase transisi, sementara detail penyebabnya belum muncul ke publik.












