jurnalistik.co.id – Pencarian rumah sewaan yang ramah hewan peliharaan dilaporkan merosot tajam setelah perubahan aturan sewa menyewa di Inggris diterapkan. Penurunan ini tercatat terjadi di saat penyewa semakin sering berharap pemilik rumah tidak bisa menolak hewan peliharaan.
Data portal pencarian properti menunjukkan, permintaan yang menargetkan hunian yang mengizinkan hewan peliharaan mengalami penurunan lebih dari setengah dalam periode Mei dan Juni dibanding setahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi sorotan karena sejumlah agen menyebut ada kesalahpahaman di kalangan penyewa tentang jaminan izin memelihara hewan.
Menurut laporan yang dirujuk dari data Rightmove, penelusuran penyewa terkait properti yang mengizinkan hewan peliharaan turun 54% pada Mei dan 52% pada Juni, dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan tersebut disebut makin cepat terjadi sepanjang tahun ketika perubahan aturan makin dekat, lalu setelah aturan itu mulai diberlakukan.
Landlords di Inggris, berdasarkan perubahan yang dilakukan pada bulan Mei dalam Renters’ Rights Act, tidak boleh menolak permintaan hewan peliharaan secara tidak wajar. Namun, sejumlah pihak menyatakan sebagian penyewa keliru mengira izin memelihara hewan akan selalu dijamin oleh pemilik rumah.
Megan Eighteen, yang saat artikel ini disusun merupakan immediate past president dari organisasi agen sewa ARLA Propertymark, menjelaskan bahwa pemilik perlu mempertimbangkan permintaan secara adil. Ia menyampaikan, “Landlords must consider requests fairly and cannot unreasonably refuse them, but they can still decline where there is a valid reason,” sambil menambahkan bahwa ada ruang besar untuk “potential for misunderstanding” di antara penyewa terkait properti yang ramah hewan.
Perubahan aturan menggeser ekspektasi dalam proses sewa
Rightmove juga mengindikasikan bahwa lebih sedikit penyewa yang secara proaktif menyaring pencarian mereka pada rumah yang ramah hewan. Meski hewan peliharaan tetap menjadi kata yang paling sering dicari dalam konteks pencarian keseluruhan, posisi teratas tersebut disebut menyusut dibanding periode sebelumnya. Dengan kata lain, pencarian yang lebih spesifik untuk hewan peliharaan tampak berkurang, sementara kata-kata lain seperti taman, garasi, dan furnitur justru menjadi lebih menonjol.
Marc von Grundherr, direktur Benham and Reeves, mengatakan bahwa beberapa penyewa memilih menyampaikan kepemilikan hewan hanya setelah perjanjian sewa ditandatangani. Dalam kasus lain, hewan peliharaan diketahui melalui pemeriksaan properti. Menurutnya, penyewa kini memahami bahwa dinamika kekuasaan telah berubah, sehingga proses percakapan soal hewan seharusnya muncul pada tahap yang lebih kemudian. Ia menuturkan, “The reality is that tenants now understand the balance of power has shifted. Landlords can no longer rely on a blanket ‘no pets’ policy to deter applications and should instead expect conversations around pet ownership to arise much later in the letting process,”.
Von Grundherr juga merangkum bahwa meskipun aturan baru memberi batasan pada penolakan, pemilik masih dapat menolak permintaan hewan dengan alasan yang sah. Beberapa alasan yang disebut antara lain kemungkinan penyewa lain mengalami alergi, ukuran properti yang terlalu kecil untuk hewan berukuran besar atau beberapa hewan sekaligus, hewan yang bersifat ilegal, serta situasi ketika pemilik berstatus leaseholder sementara freeholder tidak mengizinkan hewan peliharaan.
Berita Terkait
Dampak pada kehidupan penyewa: dari pengalaman langsung hingga pilihan rumah
Sebelum aturan berubah, Eve Williamson, perempuan berusia 41 tahun dari London, harus melepas anjingnya, American Bulldog bernama Khan, atau menghadapi risiko pengusiran dari rumahnya. Ia memiliki pengalaman yang tidak mudah, karena Khan sudah menjadi bagian dari dukungan emosional saat ia merawat ibunya yang membutuhkan perawatan penuh waktu. Williamson menggambarkan situasi itu sebagai sesuatu yang “awful”. Ia menyatakan, “Life can get tough, but pets bring unconditional love,” dan menambahkan, “They’re family.”
Setelah itu, Khan dilaporkan berhasil ditempatkan kembali dan kini berbahagia di rumah yang baru. Williamson mengatakan ia merasa senang karena perubahan aturan. Di sisi lain, Katie Smith, 29 tahun dari Swindon, tinggal bersama dua kucing bernama Pumpkin dan Pippin. Ia menyebut pengalaman bersama hewan-hewan tersebut melahirkan “wonderful moments” dan juga bisa mengajarkan anak-anak tentang kehidupan dan kematian.
Meski demikian, Smith tetap mengatakan bahwa pilihan tempat tinggal cenderung turun tajam di portal properti ketika hewan peliharaan masuk sebagai pertimbangan dalam pencarian. Ia menegaskan, “Landlords should give them a chance,”.
Pihak yang menangani pencocokan klien dengan sewa ramah hewan juga menyampaikan bahwa penolakan masih bisa terjadi meskipun aturan baru sudah berlaku. Russell Hunt, pendiri Pets Lets, menyatakan bahwa pemilik perlu menilai setiap permintaan hewan berdasarkan konteksnya. Ia menekankan, “Landlords should consider each pet request on its merits”.
Hunt tinggal bersama seekor anjing campuran Basset dan Beagle bernama Biscuit, serta tiga remaja yang ia bercanda justru lebih mengganggu dibanding anjingnya. Menurutnya, “pet CVs” seharusnya digunakan, dan pemilik perlu mempertimbangkan kondisi secara lebih teliti—misalnya, anjing yang lebih tua cenderung lebih tenang dan lebih sering tidur—daripada langsung menolak penyewa hanya karena ukuran hewan atau jumlah hewan yang dibawa.
Catatan kekhawatiran pemilik: biaya, asuransi, dan risiko kerusakan
Dalam pandangan perwakilan pemilik rumah, kebersamaan yang diberikan hewan peliharaan kepada penyewa memang dianggap penting. Namun, mereka juga menghadapi risiko kerusakan dan beban biaya bila hewan menimbulkan masalah dalam masa sewa. Chris Norris, chief policy officer di National Residential Landlords Association, menyampaikan bahwa pemilik punya kekhawatiran yang sah terkait risiko yang dapat ditimbulkan oleh sebagian pemilik hewan yang tidak bertanggung jawab terhadap properti sewaan. Ia juga menyinggung kemungkinan ada pemilik yang mencoba tetap membawa hewan ke properti yang tidak sesuai bagi hewan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa pemilik menghadapi sejumlah persoalan, termasuk tidak adanya kewenangan untuk memaksa penyewa mengambil asuransi, tidak adanya hak hukum untuk meminta tambahan deposit, serta adanya beban biaya apabila hewan menyebabkan kerusakan pada properti. Sementara itu, Lesley Horton, chief property ombudsman di Inggris, mengatakan pemilik tidak seharusnya membebankan biaya tambahan (pet surcharges) khusus untuk hewan. Ia menilai biaya tersebut tidak termasuk dalam biaya yang diizinkan untuk persoalan seperti keterlambatan pembayaran atau penggantian kunci yang hilang.
Namun, Horton juga menyatakan bahwa pemilik tetap dapat melakukan pemotongan dari deposit sewa di akhir masa sewa untuk kerusakan yang terbukti terkait hewan peliharaan. Dengan demikian, garis besarnya tetap pada pertimbangan individual dan pembenaran atas klaim, bukan sekadar penolakan sepihak.












